<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>SITUS MA'HAD AS-SALAFY JEMBER</title>
	<atom:link href="http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.assalafy.org/mahad</link>
	<description>Jember, Jawa Timur, Indonesia, salafy, ma'had, islam, sunni</description>
	<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 23:16:19 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>in</language>
			<item>
		<title>I&#8217;TIKAF, Adab-adabnya, hal-hal yang dibolehkan ketika i’tikaf, serta pembatal-pembatalnya</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=537</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=537#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 23:14:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Risalah Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=537</guid>
		<description><![CDATA[ 
I &#8216; T I K A F
Adab-adabnya, hal-hal yang dibolehkan ketika i&#8217;tikaf, serta pembatal-pembatalnya
 
Telah kami kami sebutkan pada pembahasan yang lalu tentang Sepuluh Terakhir Ramadhan dan Lailatul Qadar dan Mengenali dan Mengamalkan I&#8217;tikaf Sesuai Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
Pada kesempatan kali ini, kami akan menyebutkan beberapa adab yang hendaknya diperhatikan dan diamalkan oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #000000;"><strong>I &#8216; T I K A F</strong></span></h2>
<h3 style="text-align: center;"><span style="color: #800080;"><strong><span style="color: #993300;">Adab-adabnya, hal-hal yang dibolehkan ketika i&#8217;tikaf, serta pembatal-pembatalnya</span></strong></span></h3>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #800080;"><strong> </strong></span></h2>
<p>Telah kami kami sebutkan pada pembahasan yang lalu tentang <strong><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.assalafy.org/?p=359">Sepuluh Terakhir Ramadhan dan Lailatul Qadar</a></span></strong> dan <strong><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.assalafy.org/?p=361">Mengenali dan Mengamalkan I&#8217;tikaf Sesuai Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em></a></span></strong></p>
<p>Pada kesempatan kali ini, kami akan menyebutkan beberapa adab yang hendaknya diperhatikan dan diamalkan oleh para <em>mu&#8217;takifin</em>, agar itikaf yang mereka lakukan benar-benar mendapatkan nilai yang maksimal di sisi Allah <em>subnahahu wata&#8217;ala</em>. Seiring dengan itu kami juga akan menyebutkan hal-hal yang dibolehkan bagi <em>mu&#8217;takif</em> ketika i&#8217;tikaf.</p>
<p>Tidak lupa kami juga menyebutkan pembatal-pembatal i&#8217;tikaf, yang jika seorang <em>mu&#8217;takif</em> melakukannya, maka i&#8217;tikafnya tidak sah, tentunya dengan harapan agar para <em>mu&#8217;takifin</em> bisa menghindar dan menjauh darinya. Semoga bermanfaat.<span id="more-537"></span></p>
<h3><span style="color: #008000;">Adab-adab I&#8217;tikaf</span></h3>
<p><strong> </strong></p>
<p>1.       Sangat disenangi bagi seorang <em>mu&#8217;takif</em> (orang yang i&#8217;tikaf) untuk menyibukkan dirinya dengan memperbanyak shalat sunnah, qiyamullail, membaca Al-Qur&#8217;anul Karim, dan bersemangat untuk mengkhatamkannya lebih dari satu kali.</p>
<p>2.       Memperbanyak dzikir kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>, istighfar, do&#8217;a, dan shalawat atas Nabi yang ini dilakukan bersamaan dengan dzikir-dzikir syar&#8217;i yang telah dituntunkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p>3.       Seorang mu&#8217;takif hendaknya menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat baginya, baik berupa perkataan maupun perbuatan.</p>
<p>4.       Tidak banyak bicara (yang tidak bermanfaat), karena seorang yang benyak bicaranya, akan lebih banyak salahnya.</p>
<p>5.       Seorang mu&#8217;takif hendaknya menjauhi segala bentuk <em>jidal</em> (perdebatan) dan perselisihan. [<strong>Al-Mughni</strong> karya Ibnu Qudamah]</p>
<p>6.       Seorang mu&#8217;takif hendaknya mau mengulurkan tangannya guna membantu para mu&#8217;takifin yang lain.</p>
<p>7.       Senantiasa bersikap tenang, menjaga akhlak yang baik, dan tidak membuat keributan / mengganggu para mu&#8217;takifin yang lain dengan suara yang keras yang bisa mengganggu tidur mereka atau kekhusyu&#8217;an ketika shalat.</p>
<p>8.       Seorang mu&#8217;takif hendaknya tidak menjadikan i&#8217;tikaf dia sebagai tempat untuk kumpul-kumpul dan begadang bersama sebagian teman-temannya atau bersama orang yang mengunjunginya, kemudian mengobrol dalam waktu yang cukup lama. Ini semua tidak selayaknya dilakukan karena menyelisihi hikmah yang dengannya i&#8217;tikaf ini disyari&#8217;atkan.</p>
<h3><span style="color: #008000;"><strong>Hal-hal Yang Dibolehkan Ketika I&#8217;tikaf</strong></span></h3>
<p>Para ulama telah menyebutkan beberapa hal yang dibolehkan bagi para mu&#8217;takifin ketika itikaf, di antaranya:</p>
<p>1.       Membuat kemah di dalam masjid yang dia gunakan untuk menyendiri di dalam beribadah.</p>
<p>Dari &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>, dia berkata:</p>
<p style="text-align: right;">كَانَ النَّبِيُّ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ</p>
<p><em>&#8220;Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam beri&#8217;tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan aku membuatkan kemah untuk beliau, beliau shalat shubuh kemudian memasukinya.&#8221;</em> [<strong>HR. Al-Bukhari</strong>]</p>
<p>2.       Keluar dari masjid ketika ada kebutuhan, seperti keluar untuk menyediakan makanan dan minuman, keluar untuk menunaikan hajatnya, berwudhu, dan juga mandi. Dengan syarat kebutuhan-kebutuhan tadi memang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.</p>
<p>3.       Boleh bagi seorang mu&#8217;takif untuk bertemu dan duduk bersama istri di dalam kemahnya, demikian pula boleh untuk menyambut siapa saja yang dating mengunjunginya, dengan syarat tidak menimbulkan fitnah.</p>
<p>Dari &#8216;Ali bin Husain <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em>:</p>
<p style="text-align: right;">أَنَّ صَفِيَّةَ زَوْجَ النَّبِيِّ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ تَزُورُهُ فِي اعْتِكَافِهِ فِي الْمَسْجِدِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ أي تعود إلى بيتها وَقَامَ النَّبِيُّ ليَقْلِبهَا أي ليوصلها إلى بيتها</p>
<p><em>&#8220;Bahwasanya Shafiyyah istri Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam telah mengkhabarkan kepadanya, bahwa dia pernah datang mengunjungi Nabi ketika beliau sedang i&#8217;tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, kemudian dia (Shafiyyah) berbincang-bincang dengan beliau beberapa saat, dan kemudian dia berdiri untuk kembali ke rumahnya, dan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengantarkan dia sampai ke rumahnya.&#8221; </em>[<strong>HR. Al-Bukhari dan Muslim</strong>]</p>
<p>4.       Boleh bagi seorang mu&#8217;takif untuk meminang, melakukan akad nikah, dan menjadi saksi nikah di dalam masjid. Karena i&#8217;tikaf itu adalah ibadah yang tidak mengharamkan (menghalangi dikerjakannya) kebaikan (yang lainnya), maka i&#8217;tikaf tidak mengharamkan (menghalangi) seseorang dari nikah sebagaimana puasa. Demikian pula karena nikah itu adalah bentuk ketaatan, menghadirinya adalah juga merupakan bentuk taqarrub. Dan hendaknya itu semua dilakukan dengan tidak terlalu berlama-lama yang menyebabkan tersibukkannya dari i&#8217;tikaf &#8230;&#8230;</p>
<p>5.       Boleh bagi seorang mu&#8217;takif untuk membersihkan badannya, memakai parfum, dan memakai pakaian yang baik, boleh pula menyisir rambutnya dan juga memotong kukunya.</p>
<p>Dari &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>, dia berkata:</p>
<p style="text-align: right;">كَانَ النَّبِيُّ يُصْغِي إِلَيَّ رَأْسَهُ وَهُوَ مُجَاوِرٌ فِي الْمَسْجِدِ فَأُرَجِّلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ</p>
<p>&#8220;Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam pernah mendongokkan kepalanya kepadaku (ketika aku berada di rumahku yang) bersebelahan dengan masjid. Aku menyisir rambut beliau dalam keadaan aku sedang haid.&#8221; </em>[<strong>HR. Al-Bukhari</strong>]</p>
<p>6.       Boleh bagi seorang mu&#8217;takif untuk mengadakan halaqah dalam rangka mengajarkan cara membaca Al-Qur&#8217;an atau menghadiri halaqah bacaan Al-Qur&#8217;an tersebut, demikian pula dibolehkan untuk membaca kitab-kitab ilmiah dan menghadiri majelis-majelis para ulama dan diskusi mereka, atau kegiatan lain yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain.</p>
<p>7.       Boleh bagi seorang mu&#8217;takif untuk naik ke atap (lantai paling atas) masjid karena itu masih termasuk bagian dari masjid.</p>
<h3><span style="color: #008000;"><strong>Beberapa hal yang merusak (membatalkan) i&#8217;tikaf</strong></span></h3>
<p>Para ulama juga telah menyebutkan beberapa hal yang bisa merusak (membatalkan) i&#8217;tikaf, di antaranya:</p>
<p>1.       Keluar dari masjid tanpa ada keperluan yang mendesak.</p>
<p>Dari ‘Aisyah Ummul Mu&#8217;minin <em>radhiyallahu ‘anha</em>, dia berkata:</p>
<p style="text-align: right;">السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ أَنْ لاَ يَعُودَ مَرِيضًا وَلاَ يَشْهَدَ جَنَازَةً وَلاَ يَمَسَّ امْرَأَةً وَلاَ يُبَاشِرَهَا وَلاَ يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ إِلاَّ لِمَا لاَ بُدَّ مِنْهُ وَلاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ بِصَوْمٍ وَلاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ فِي مَسْجِدٍ جَامِعٍ</p>
<p><em>&#8220;Termasuk sunnah bagi seorang mu&#8217;takif adalah tidak menjenguk orang sakit, tidak menghadiri jenazah, tidak menyentuh atau bercumbu dengan istri, tidak keluar dari masjid untuk urusan apapun kecuali memang urusan yang harus diselesaikan (di luar masjid), tidak ada i&#8217;tikaf  kecuali dengan puasa, dan tidak ada i‘tikaf kecuali dilakukan di masjid jami&#8217;.&#8221;</em> [<strong>Shahih Sunan Abi Dawud</strong>, karya Asy-Syaikh Al-Albani] [<strong>Al-Mughni</strong>]</p>
<p>2.       Menggauli istri.</p>
<p>Para ulama sepakat bahwa seorang mu&#8217;takif jika menggauli istrinya dengan sengaja, maka i&#8217;tikafnya batal dan tidak ada kewajiban menqadha&#8217; i&#8217;tikafnya, kecuali jika i&#8217;tikafnya tersebut adalah i&#8217;tikaf wajib. Berdasarkan firman Allah <em>ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="text-align: right;">وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p><em>&#8220;Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri&#8217;tikaf dalam mesjid.&#8221;</em> [<strong>Al-Baqarah: 187</strong>]</p>
<p>3.       Murtad (keluar) dari Islam.</p>
<p>Jika seorang mu&#8217;takif murtad -<em>wal&#8217;iyadzubillah</em>-, maka batallah i‘tikafnya, berdasarkan firman Allah <em>ta&#8217;ala</em>:</p>
<p style="text-align: right;">وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p><em>&#8220;Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. &#8220;Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.&#8221;</em> [<strong>Az-Zumar: 65</strong>]</p>
<p>Dan dengan murtadnya itu dia telah keluar dari keadaan dia sebagai seorang mu&#8217;takif. [<strong>Al-Mughni</strong>, karya Ibnu Qudamah]</p>
<p>4.       Hilang akal.</p>
<p>Disebabkan minum khamr, pingsan, atau gila. Karena berakal merupakan syarat i&#8217;tikaf.</p>
<p>5.       Junub atau nifas.</p>
<p>Karena dengan itu hilanglah syarat thaharah kubra yang juga menjadi salah satu syarat i&#8217;tikaf. [<strong>Al-Mughni</strong>, karya Ibnu Qudamah]</p>
<p>Terakhir, kami memohon kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> agar Dia menjadikan amalan kita ini sebagai amalan yang ikhlas untuk mengharapkan wajah-Nya Yang Mulia, dan agar Dia juga menjadikan amalan ini bermanfaat bagi segenap kaum muslimin di manapun berada.</p>
<p style="text-align: right;">وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p style="text-align: right;">وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين</p>
<p>Diterjemahkan dari sebagian isi <strong><a href="http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=371486">http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=371486</a></strong> <!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=537</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Salaf di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=536</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=536#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Aug 2010 03:12:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Risalah Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[ 
Salaf di Bulan Ramadhan
Ada seseorang yang bertanya kepada Asy-Syaikh Al-&#8217;Allamah Rabi&#8217; bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah tentang bagaimana dengan keadaan para salaf dahulu ketika bulan Ramadhan.
Beliau menjawab:
Sebagai jawaban atas pertanyaan ini, maka aku katakan:
Sungguh, merupakan hal yang telah diketahui tentang bagaimana keadaan Rasulullah yang mulia &#8216;alaihish shalatu wassalam dahulu, bahwasanya beliau telah melakukan persiapan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p> <![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p> <![endif]--></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #333333;"><strong>Salaf di Bulan Ramadhan</strong></span></h2>
<p>Ada seseorang yang bertanya kepada Asy-Syaikh Al-&#8217;Allamah Rabi&#8217; bin Hadi Al-Madkhali <em>hafizhahullah</em> tentang bagaimana dengan keadaan para salaf dahulu ketika bulan Ramadhan.</p>
<p>Beliau menjawab:<span id="more-536"></span></p>
<p>Sebagai jawaban atas pertanyaan ini, maka aku katakan:</p>
<p>Sungguh, merupakan hal yang telah diketahui tentang bagaimana keadaan Rasulullah yang mulia <em>&#8216;alaihish shalatu wassalam</em> dahulu, bahwasanya beliau telah melakukan persiapan untuk memasuki bulan ini (Ramadhan), beliau memperbanyak puasa di bulan Sya&#8217;ban. Dahulu beliau pernah berpuasa di bulan Sya&#8217;ban selama sebulan penuh dan pernah pula berpuasa kurang dari itu. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>.</p>
<p>Kemudian (ketika memasuki bulan Ramadhan), beliau <em>&#8216;alaihish shalatu wassalam</em> berpuasa. Dan kesungguhan beliau (untuk beribadah) terus bertambah terkhusus ketika mulai memasuki sepuluh hari terakhir di bulan tersebut. Maka ketika mulai memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau mulai menyingsingkan lengan baju dan mengencangkan ikat pinggangnya, kemudian beliau beri&#8217;tikaf, demikian juga para istri beliau dan banyak para sahabat beliau <em>&#8216;alaihish shalatu wassalam</em> juga demikian. Mereka benar-benar melaksanakan amalan yang agung ini dengan kesungguhan.</p>
<p><strong>Puasa yang baik, amalan yang shalih, dan suka berbuat kebaikan</strong></p>
<p>Rasulullah <em>&#8216;alaihish shalatu wassalam</em> adalah seorang yang dermawan (suka memberikan kebaikan). Bahkan beliau adalah manusia yang paling dermawan. Apalagi ketika memasuki bulan Ramadhan, maka sifat kedermawanan beliau <em>&#8216;alaihish shalatu wassalam</em> semakin bertambah dan bahkan melebihi daripada angin yang bertiup. Terkhusus tatkala Malaikat Jibril <em>&#8216;alaihish shalatu wassalam</em> datang kepada beliau, sebagaimana dalam hadits Ibnu &#8216;Abbas <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em> bahwasanya Rasulullah membaca Al-Qur&#8217;an di hadapan Malaikat Jibril di setiap bulan Ramadhan sebanyak satu kali. Dan ketika di tahun terakhir menjelang wafatnya, beliau membacakan Al-Qur&#8217;an di hadapan Malaikat Jibril sebanyak dua kali. Sebagaimana hal ini dijelaskan di dalam hadits &#8216;Aisyah dan hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em>. Dan yang demikian itu merupakan isyarat akan dekatnya wafat beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Para salaf dahulu sangat antusias dan memberikan perhatian yang lebih di dalam bulan yang agung ini, dengan melakukan amalan-amalan shalih seperti: membaca Al-Qur&#8217;an, memperbanyak dzikir, dan menahan diri dari perbuatan maksiat.</p>
<p>Karena hal itu merupakan konsekuensi dari ibadah puasa. Puasa itu adalah tidak sekedar menahan diri dari makan dan minum saja, namun juga harus mampu menahan diri dari segala perbuatan yang dapat mendatangkan murka Allah <em>tabaraka wata&#8217;ala</em> dari perbuatan-perbuatan maksiat dan yang selainnya. Kemudian disertai dengan melakukan amalan-amalan ketaatan kepada Allah <em>&#8216;azza wajalla</em> dengan mengikhlaskan niat hanya semata-mata karena Allah.</p>
<p>Para salaf <em>ridhwanullahi &#8216;alaihim</em>, sebagaimana diceritakan oleh Al-Imam Malik, dan beliau adalah orang yang mengetahui tentang keadaan umat, apabila telah datang bulan Ramadhan, mereka menghabiskan waktunya untuk puasa dan membaca Al-Qur&#8217;an, mereka memfokuskan diri untuk membaca Al-Qur&#8217;an pada bulan yang mulia ini kemudian merenungi dan memperhatikan makna-maknanya, mengambil berbagai nasehat yang ada di dalamnya dan menghindarkan diri dari berbagai larangannya, memahami perkara-perkara yang halal dan haram, memahami janji-janji dan ancaman Allah serta berbagai hal lain yang ada dalam Al-Qur&#8217;an. Dengan Al-Qur&#8217;an, mereka membersihkan jiwa dan dengannya pula akan menerangi hati. Al-Qur&#8217;an adalah kehidupan, cahaya, dan petunjuk, sebagaimana yang Allah <em>tabaraka wata&#8217;ala</em> sifatkan dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align: right;">وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ</p>
<p><em>&#8220;Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur&#8217;an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al Qur&#8217;an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur&#8217;an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.&#8221;</em> [<strong>Asy-Syura: 52</strong>]</p>
<p>Kesimpulannya bahwa mereka -yaitu para as-salafush shaleh-, baca dan pelajarilah bagaimana kesungguhan mereka, kesabaran, dan keikhlasan mereka kepada Allah serta upaya yang mereka lakukan dengan sekuat tenaga untuk beribadah di bulan yang mulia ini dan juga di bulan yang lainnya.</p>
<p><strong>Maksudnya adalah ini sebagai nasehat bagi kita bahwa kita tidak hanya ingat (ketaatan dan amal shalih) di bulan Ramadhan saja kemudian kita lupa dan meninggalkan amalan-amalan ketaatan di bulan-bulan yang lainnya!</strong></p>
<p>Bahkan hendaknya kita terus menyambung ibadah kepada Allah, shalat malam, menghadapkan diri kita kepada Allah dan menjalankan berbagai ketaatan yang dengannya kita mendekatkan diri kepada Allah di bulan Ramadhan.</p>
<p><strong>Bukan kemudian kita menjadi lupa. Sebagian manusia, mereka mengisi bulan Ramadhan tersebut dengan amalan-amalan ketaatan. Kemudian apabila bulan Ramadhan tersebut telah berlalu, maka ibadah mereka berkurang kemudian malas serta mulai melupakan amalan-amalan ketaatan. Bukan seperti ini yang kita inginkan</strong>.</p>
<p>Sehingga tidak diragukan lagi, bahwa hendaknya kita memberikan perhatian yang lebih banyak di bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan yang lainnya. Akan tetapi dengan semakin bertambahnya tahun dan kehidupan ini, mengharuskan diri kita untuk selalu mengingat Allah <em>ta&#8217;ala</em>.</p>
<p style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً * وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً</p>
<p><em>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.&#8221;</em> [<strong>Al-Ahzab: 41-42</strong>].</p>
<p>Maka sebagai seorang mu&#8217;min, wajib baginya untuk selalu mengingat Allah <em>tabaraka wata&#8217;ala</em>, mentaati-Nya, bertakwa kepada-Nya, dan takut serta merasa diawasi oleh-Nya di setiap waktu dalam kehidupannya.</p>
<p>Aku memohon kepada Allah, agar Dia memberikan taufiq-Nya kepada kita dan kalian semua agar dimudahkan untuk melaksanakan shalat malam, puasa, dan hal-hal lain yang diwajibkan pada bulan Ramadhan yang mulia ini, serta bersemangat untuk meraih berbagai keutamaan yang ada di dalamnya. Demikian pula kita memohon kepada Allah, agar selalu memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk bisa menunaikan amalan-amalan ketaatan kepada-Nya dan menjalankan segala yang diridhai-Nya. Sesungguhnya Rabb kami Maha Mendengar do&#8217;a yang dipanjatkan kepada-Nya.</p>
<p>-selesai jawaban beliau <em>hafizhahullah</em> yang begitu indah-.</p>
<p>Diambil dari kaset yang berjudul: <strong>Izalatul Ilbas &#8216;Ammasytabaha fi Adzhaninnas</strong>.</p>
<p>Sumber: <a href="http://sahab.net/forums/showthread.php?t=380538">http://sahab.net/forums/showthread.php?t=380538</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=536</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Raihlah Keutamaan di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan!</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=535</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=535#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 05:44:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Risalah Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=535</guid>
		<description><![CDATA[Buletin Islam Al Ilmu Edisi No: 35 / IX / VIII / 1431
Raihlah Keutamaan di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan!
Keutamaan Lailatul Qadar
Lailatul Qadar adalah suatu malam yang penuh dengan keutamaan dan barokah. Allah Subhanallahu wa Ta&#8217;ala Yang Maha Pemberi barakah telah menjelaskan hal itu dalam surat Al Qadr (artinya):
&#8220;Dan tahukah kamu apa malam lailatul qadar itu?. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Buletin Islam Al Ilmu Edisi No: 35 / IX / VIII / 1431</strong></span></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #333333;">Raihlah Keutamaan di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan!</span></h2>
<p><span style="color: #339966;"><strong>Keutamaan Lailatul Qadar</strong></span></p>
<p>Lailatul Qadar adalah suatu malam yang penuh dengan keutamaan dan barokah. Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> Yang Maha Pemberi barakah telah menjelaskan hal itu dalam surat Al Qadr (artinya):</p>
<p><em>&#8220;Dan tahukah kamu apa malam lailatul qadar itu?. Yaitu suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turunlah para malaikat dan ruh (malaikat Jibril) dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajar.&#8221;</em> (<strong>Al-Qadr: 2-5</strong>)<span id="more-535"></span></p>
<p>Sehingga malam itu pun dipenuhi barakah yang berlimpah ruah, sebuah ibadah yang dilakukan pada malam itu dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> lebih baik daripada ibadah yang dilakukan selama seribu bulan selain Ramadhan. Tentu keutamaan yang amat besar ini akan membuat hati yang jernih dan akal yang sehat terdorong dan berharap untuk dapat meraihnya.</p>
<p><span style="color: #339966;"><strong>Kapan terjadinya lailatul qadar?</strong></span></p>
<p>Malam lailatul qadar terjadi pada bulan Ramadhan, sekali dalam setahun. Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<h4 style="text-align: right;">الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ - يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ - فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى</h4>
<p><em>&#8220;Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, jika ada diantara kalian lemah, maka jangan sampai luput dari tujuh malam yang tersisa (terakhir).&#8221;</em> (HR. <strong>Al-Bukhari</strong> dan <strong>Muslim</strong>)</p>
<p>Dalam riwayat Al-Imam <strong>Muslim</strong> yang lain, Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<h4 style="text-align: right;">&#8230; فَاطْلُبُوهَا فِى الْوِتْرِ مِنْهَا</h4>
<p><em>&#8230;. maka carilah pada malam yang ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.&#8221; </em></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata dalam Fathul Bari: &#8220;Pendapat yang paling kuat tentang terjadinya lailatul qadar adalah pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan terjadinya tidak menetap pada malam tertentu dalam setiap tahunnya.&#8221;</p>
<p>Adapun memastikan suatu malam dari bulan Ramadhan bahwa ia adalah malam lailatul qadar (di tahun tersebut), maka membutuhkan dalil (yang shahih dan jelas) dalam penentuannya. Namun malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir itu hendaknya lebih dijaga dibanding selainnya, dan malam keduapuluh tujuh hendaknya lebih dijaga lagi daripada malam-malam ganjil selainnya yang dimungkinkan bertepatan dengan lailatul qadar. (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah li Al-Buhuts wa Al-Ifta`)</p>
<p><span style="color: #339966;"><strong>Apa yang seharusnya dilakukan di malam tersebut?</strong></span></p>
<p><strong>Pertama:</strong> Bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir melebihi kesungguhan pada malam-malam selainnya, dalam hal shalat, membaca Al-Qur&#8217;an, berdo&#8217;a, dan ibadah-ibadah yang lainnya. ‘Aisyah s menceritakan:</p>
<h4 style="text-align: right;">كَانَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ</h4>
<p><em>&#8220;Dahulu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam jika memasuki sepuluh malam terakhir, beliau menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya, serta mengencangkan tali pinggangnya.&#8221;</em> (HR.<strong> Al-Bukhari</strong> dan <strong>Muslim</strong>)</p>
<p>Dalam riwayat Al-Imam Ahmad dan Muslim: <em>&#8220;Dahulu beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir yang tidak sama kesungguhannya dengan malam-malam selainnya.&#8221;</em></p>
<p><strong>Kedua:</strong> Menegakkan shalat tarawih dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah. Nabi Muhammad <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<h4 style="text-align: right;">مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</h4>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang menegakkan shalat pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka pasti akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.&#8221; </em>(HR. <strong>Al-Jama&#8217;ah</strong>, kecuali Ibnu Majah).</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Membaca do&#8217;a sebagaimana yang diajarkan Nabi <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> kepada ‘Aisyah <em>radliyallahu ‘anha</em>. ‘Aisyah <em>radliyallahu ‘anha</em> berkata: &#8220;Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku menjumpai suatu malam bahwa itu adalah malam lailatul qadar, apa yang harus aku baca pada malam itu? Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> menjawab: &#8220;Ucapkanlah (berdo&#8217;alah):</p>
<h4 style="text-align: right;">اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفوَ فَاعْفُ عَنِّي .</h4>
<p><em>&#8220;Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf Maha Mulia lagi suka memaafkan, maka maafkanlah aku.&#8221; </em>(HR. <strong>At-Tirmidzi</strong>)</p>
<p><span style="color: #339966;"><strong>I&#8217;tikaf</strong></span></p>
<p>I&#8217;tikaf adalah usaha untuk senantiasa menetap di masjid disertai dengan menyibukkan diri dengan ibadah (seperti menegakkan shalat-shalat sunnah disamping shalat lima waktu, memperbanyak membaca Al Qur&#8217;an, memperbanyak dzikir, do&#8217;a, dan istighfar), meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat (seperti mengobrol, cerita, senda gurau dan semisalnya), dan tidak keluar dari masjid selama i&#8217;tikaf, kecuali bila ada keperluan yang mengharuskan untuk keluar (seperti buang hajat atau semisalnya).</p>
<p>‘Aisyah <em>radliyallahu ‘anha</em> berkata: <em>&#8220;Yang disunnahkan bagi orang yang beri&#8217;tikaf adalah tidak menjenguk orang sakit, tidak berta&#8217;ziyah, tidak menggauli dan mencumbu istrinya, serta tidak keluar dari masjid untuk sebuah kebutuhan kecuali perkara yang mengharuskan untuk keluar.&#8221;</em></p>
<p>Padahal dalam agama Islam, menjenguk orang sakit dan berta&#8217;ziyah keduanya merupakan perkara yang sangat dianjurkan. Namun demikian, ia menjadi gugur ketika menjalankan ibadah i&#8217;tikaf di masjid. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya perkara i&#8217;tikaf tersebut. Sehingga orang yang beri&#8217;tikaf hendaknya bersungguh-sungguh menggunakan waktunya untuk bermunajat kepada Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Ini merupakan sebuah sunnah (ibadah) yang perlu kita hidupkan dan semarakkan, karena hampir-hampir sunnah ini menjadi asing ditengah-tengah umat Islam. Padahal Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> selalu beri&#8217;tikaf di bulan Ramadhan.</p>
<p>Abu Hurairah <em>radliyallahu ‘anhu</em> berkata: <em>&#8220;Dahulu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam beri&#8217;tikaf pada setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari, dan pada tahun wafatnya, beliau beri&#8217;tikaf selama dua puluh hari.&#8221;</em> (HR. <strong>Al Bukhari</strong>, <strong>Abu Dawud, Ibnu Majah</strong>, dan <strong>Ahmad</strong>)</p>
<p><span style="color: #339966;"><strong>Zakatul Fitri (Zakat Fitrah) dan Takarannya</strong></span></p>
<p>Zakat Fitrah diwajibkan atas setiap muslim, baik merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, sebagaimana pernyataan shahabat Ibnu Abbas <em>radliyallahu ‘anhuma</em>: <em>&#8220;Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam telah mewajibkan zakat fitrah sebanyak 1 sha` kurma atau 1 sha` sya&#8217;ir (gandum), (dan diwajibkan) baik atas orang merdeka ataupun budak, laki-laki ataupun perempuan, dewasa ataupun anak-anak.&#8221;</em> (HR. <strong>Al-Bukhari</strong> dan <strong>Muslim</strong>)</p>
<p>Takaran Zakat Fitrah adalah 1 (satu) sha` (2,5kg). Sebagian ulama berpendapat 1 sha` sama dengan 3 kg makanan pokok, seperti beras.</p>
<p><span style="color: #339966;"><strong>Manfaat Zakat Fitrah</strong></span></p>
<p>Manfaat zakat fitrah adalah:</p>
<p>1.         Sebagai pembersih atau penyuci jiwa orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak ada manfaatnya dan perkataan yang keji.</p>
<p>2.         Sebagai subsidi makanan bagi orang-orang miskin</p>
<p>Shahabat Ibnu Abbas <em>radliyallahu ‘anhuma</em> berkata:</p>
<h4 style="text-align: right;">فَرَضَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ</h4>
<p><em>&#8220;Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam telah mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci jiwa orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak ada manfaatnya dan perkataan yang keji dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat Id, maka terhitung sebagai zakat yang diterima (sah sebagai zakat fitrah, red), dan barangsiapa menunaikannya setelah selesai shalat Id, maka itu adalah shadaqah dari shadaqah-shadaqah biasa.&#8221;</em> (HR. <strong>Abu Dawud</strong> dan <strong>Ibnu Majah</strong>)</p>
<p><span style="color: #339966;"><strong>Kapan Zakat Fitrah Dibayarkan?</strong></span></p>
<p>Zakat Fitrah dibayarkan pada hari raya Idul Fitri sebelum shalat Id dilaksanakan, atau sehari/dua hari sebelum Idul Fitri. Oleh karenanya dinamakan Zakat Fitrah karena pembayarannya pada hari Idul Fitri (ini adalah waktu yang paling utama), atau dekat dengan Idul Fitri. Dahulu, setelah umat Islam semakin banyak, sebagian para shahabat membayarkan Zakat Fitrah sehari atau dua hari sebelum hari raya Idul Fitri, sebagaimana disebutkan dalam atsar Ibnu Umar <em>radliyallahu ‘anhuma </em>yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya. Kapan saja zakat fitrah dibayarkan pada salah satu dari waktu-waktu tersebut, maka terhitung sebagai zakat fitrah yang sah. Sebagaimana dalam hadits di atas: &#8220;Barangsiapa membayarnya sebelum shalat Id, maka ia adalah zakat yang diterima (sah sebagai zakat fitrah, red).&#8221;</p>
<p><span style="color: #339966;"><strong>Kepada Siapa Zakat Fitrah Diberikan?</strong></span></p>
<p>Zakat Fitrah tidak seperti zakat-zakat lain dalam hal sasaran pembagian. Karena Zakat Fitrah hanya diberikan kepada fakir-miskin, tidak kepada selainnya. Hal ini sebagaimana dalam hadits di atas: <em>&#8220;Zakat Fitrah sebagai makanan bagi orang-orang miskin.&#8221;</em></p>
<p><span style="color: #339966;"><strong>Bolehkah Zakat Fitrah dibayar dengan uang tunai?</strong></span></p>
<p>Mayoritas ulama tidak membolehkan zakat fitrah dibayar dengan uang, karena yang demikian tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>, sementara sangat memungkinkan di masa beliau <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> zakat fitrah dibayar dengan uang (dinar atau dirham). Namun, beliau memerintahkan untuk membayar Zakat Fitrah dengan kurma atau sya&#8217;ir (gandum, bahan makanan pokok di masa itu). Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>. (Lihat Fatawa Asy-Syaikh Bin Baz dan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin).Wallähu a&#8217;lam bish showäb.</p>
<p><span style="color: #339966;"><strong>Penutup</strong></span></p>
<p>Semoga Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> menerima amalan-amalan ibadah kita semua, mengampuni dosa-dosa kita semua, dan menggolongkan kita kepada golongan orang-orang yang bertaqwa dengan shaum Ramadhan yang kita laksanakan. Amïn Yä Mujïbas Sä`ilïn..</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.buletin-alilmu.com/?p=509">http://www.buletin-alilmu.com/?p=509</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=535</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Membantah Isu Kalau Salafy Itu Teroris</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=534</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=534#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 07:46:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kategori]]></category>

		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=534</guid>
		<description><![CDATA[Membantah Isu Kalau Salafy Itu Teroris
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Muhammad rasul yang terpercaya –shallallahu ‘alaihi wa salam-.
Amma ba’du;
Pertanyaan ini kami sampaikan kepada yang terhormat Syaikh kami, bapak kami yang berjiwa pembimbing dan penasehat, pengasuh Ma’had Darul Hadits  Ma’bar, Asy-Syaikh Al-’Allamah Muhammad [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #333333;">Membantah Isu Kalau Salafy Itu Teroris</span></h2>
<p style="text-align: center"><strong><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">بسم الله الرحمن الرحيم</span></strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Muhammad rasul yang terpercaya –shallallahu ‘alaihi wa salam-.</p>
<p>Amma ba’du;</p>
<p>Pertanyaan ini kami sampaikan kepada yang terhormat Syaikh kami, bapak kami yang berjiwa pembimbing dan penasehat, pengasuh Ma’had Darul Hadits  Ma’bar, Asy-Syaikh Al-’Allamah Muhammad bin Abdillah Al-Imam. Semoga  Allah Ta’ala menjaga dan melindungi beliau, semoga Allah Ta’ala  memperbanyak orang-orang yang semisal beliau, dan semoga Allah Ta’ala  melimpahkan barakah pada beliau dan ilmu beliau.</p>
<p><span id="more-534"></span><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Telah tersebar isu di tengah-tengah masyarakat Indonesia bahwa para  pelajar Indonesia yang lulus dari ma’had-ma’had Darul Hadits di Yaman  berubah menjadi pelaku pengeboman dan peledakan (terorisme).</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah Ta’ala dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Ta’ala semata tiada sekutu bagiNya, dan aku  bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah Ta’ala.</p>
<p>Merupakan sesuatu yang seharusnya untuk diketahui adalah orang yang  pertama kali memperingatkan dan mengecam dengan keras perbuatan  pengeboman dan peledakan (terorisme) adalah Imam Ahlus Sunnah negeri  Yaman yaitu Guru kami Al-’Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i –semoga  Allah Ta’ala merahmati beliau-. Sungguh, para pengikut organisasi  Al-Qa’idah telah menyusun rencana untuk melakukan peledakan dan  pengeboman di beberapa tempat di beberapa propinsi di Yaman. Namun,  ketika Syaikh kami (Muqbil bin Hadi) angkat suara membongkar rencana  jahat mereka tersebut, gagallah rencana tersebut dan selamatlah negeri  Yaman dari rencana jahat mereka. Dan Syaikh (Muqbil bin Hadi) terus  melanjutkan kecamannya dan memperingatkan masyarakat dalam khutbah,  ceramah dan karya tulis beliau dari gerakan Jama’ah Jihad dan dari  bergabung serta berjalan bersama mereka. Segala puji hanya milik Allah  Ta’ala semata.</p>
<p>Para ulama yang telah direkomendasikan oleh Syaikh Muqbil untuk kita merujuk kepada mereka berjalan mengikuti jejak Syaikh Muqbil dalam  mengecam dan memperingatkan dari penyeru pengeboman dan peledakan dalam  pelajaranpelajaran dan karya tulis mereka. Upaya ini juga ditempuh para  pengasuh ma’hadma’had1 Darul Hadits di Yaman sebagaimana jalan yang  ditempuh oleh ulama sunnah di manapun mereka berada. Ini adalah perkara  yang sudah diketahui dan dikenal dari mereka di Yaman dan selain Yaman.  Dan segala puji bagi Allah Ta’ala.</p>
<p>Para pelajar yang menimba ilmu di hadapan ulama negeri Yaman di  ma’hadma’had Darul Hadits juga berjalan pada jalan yang ditempuh oleh  para ulama. Oleh karena itu, menuduh para pelajar tersebut di atas  dengan mengatakan “mereka itu pelaku pengeboman dan peledakan” merupakan  kedustaan atas diri mereka untuk memperburuk citra mereka dan  menghindarkan orang dari mereka dan dari dakwah yang mereka serukan.<br />
Akan tetapi begitu cepat kedustaan ini termentahkan ketika para pelajar tersebut memberikan khutbah atau ceramah atau mengajar dan memperingatkan dari perbuatan pengeboman dan peledakan.</p>
<p>Maka pengamatan negara (pemerintah) akan hakekat (fakta) ini yang ada  pada ma’had-ma’had Darul Hadits di Yaman dan juga hakekat (fakta) para  pelajar yang lulus dari ma’had-ma’had tersebut adalah perkara yang  penting.</p>
<p>Seyogyanya bagi kedutaan Indonesia untuk meyampaikan kepada negaranya informasi yang benar tentang ma’had-ma’had tersebut. Berperannya  pemerintah Indonesia sebagai pihak yang bahu-membahu menyebarkan  kebaikan (dakwah berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang dilakukan  oleh para alumni ma’had-ma’had Darul Hadits Yaman lebih baik dari pada  menentang dan menghalangi mereka. Karena apa yang kami serukan adalah  demi kebaikan setiap muslim, entah yang sebagai pemegang kepemerintahan  ataupun rakyatnya. Karena kami menyeru kepada perbaikan hubungan antara  seorang hamba dengan Rabbnya (Allah Ta’ala). Kalau dia bisa baik maka  baginya balasan yang baik dan jika dia memilih kejelekan maka jangan  mencela kecuali dirinya.</p>
<p>Dakwah kita adalah dakwah yang mengarah pada perbaikan dan mengajak kepada kebaikan dengan cara-cara yang syar’i bukan dengan cara-cara yang  diadaadakan seperti pembentukan kelompok-kelompok atau dengan cara  pemberontakan dan penggulingan, ataupun dengan cara pengeboman dan  peledakan.</p>
<p>Maka sudah seyogyanya bagi negara-negara islam untuk berkhidmat memperjuangkan islam, dan kami akan ikut bahu-membahu dengan mereka  dalam susah dan kemudahan. Tiada daya dan upaya kecuali dengan  pertolongan Allah Ta’ala.</p>
<p>Stempel dan Tanda Tangan<br />
Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al-Imam<br />
20/02/1431H</p>
<p>Diterjemahkan oleh:<br />
Abu Zubair ‘Umar Al-Indunisy<br />
Dan Abu Hudzaifah Rahmadi Al-Indunisy<br />
Darul Hadits, Ma’bar, Yaman</p>
<p>1. Ma’had-ma’had para ulama tersebut diantaranya: Ma’had Darul Hadits   Dammaj, Ma’had Darul Hadits Ma’bar, Ma’had Darul Hadits Dzammar,   Ma’had Darul Hadits Fiyusy – Aden, Ma’had Darul Hadits Hadramaut,   Ma’had Darul Hadits Ibb, Ma’had Darul Hadits Syibwah dan lain-lain.</p>
<p><strong>http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/05/05/74/</strong></p>
<p>sumber: <strong>http://www.merekaadalahteroris.com/mat/?p=83</strong></p>
<p>Berikut ini kami sajikan versi arabnya:</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml>< ![endif]--><br />
<!--[if gte mso 10]></p>
<style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} </style>
<p>< ![endif]--></p>
<p style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">بسم الله الرحمن الرحيم</span></strong></p>
<p style="text-align: center" align="center">
<p style="text-align: right"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على محمد رسول أمين، أما بعد</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">هذا السؤال نقدمه لفضيلة شيخنا ووالدنا المربي الناصح القائم بدار الحديث بمعبر الشيخ العلامة محمد بن عبد الله الإمام حفظه الله تعالى ورعاه وكثر الله أمثاله وبارك الله فيه وفي علمه</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #ff0000;"><strong><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">السؤال</span></strong></span></p>
<p style="text-align: right"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">انتشرت الإشاعة في أوسط المجتمع الإندونيسيا بأن الطلاب الإندونيسيين الذين تخرجوا من دور الحديث في اليمن يصبحون ويقومون بعملية التفجير والتلغيم</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #ff0000;"><strong><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">الجواب</span></strong></span></p>
<p style="text-align: right"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">فينبغي أ</span><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">ن يعلم أن أول من حذر من التفجيرات والتلغيمات هو إمام أهل السنة في اليمن شيخنا العلامة الوادعي رحمه الله تعالى، فقد كان أصحاب تنظيم القاعدة عملوا خطة ليفجروا في كثير من المحافظات اليمنية، فلما تكلم عليهم الشيخ وفضح سعيهم هذا فشلت الخطة وسلمت البلاد اليمنية من تلك الأحداث، واستمر شيخنا يحذر من جماعات الجهاد ومن الدخول معهم والسير سيرهم في خطبه ومحاضراته وكتبه والحمد لله. وصار المشائخ الذين </span><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">أوصى الشيخ بالرجوع إليهم على ما كان عليه الشيخ من التحذير من دعاة التفجيرات والتلغيمات في دروسهم ومؤلفاتهم وغيرها، فهذا الذي يسير عليه القائمون على دور الحديث في اليمن كما هو سير علماء السنة حيثما كانوا، وهذا معلوم مشهور عنهم في اليمن وفي غيرها والحمد لله</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">والطلاب الذين يتلقون العلم على أيدي علماء اليمن في دور الحديث هم على هذا الذي عليهم العلماء، فرمي الطلاب المذكورين بأنهم من أصحاب التلغيمات والتفجيرات كذب عليهم للتشويه بهم والتنفير عنهم وعن الدعوة التي يدعون إليها، ولكن سرعان ما يفتضح هذا الكذب عند ما يخطب الطلاب هؤلاء أو يحاضرون أو يدرسون ويحذرون من التفجيرات والتلغيمات</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">فاطلاع الدولة على هذه الحقيقة التي عليها دور الحديث في اليمن والطلاب المتخرجون منها مهم، وعلى</span><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;"> السفارة الإندونيسية أن تواصل دولتها بالمعلومات الصحيحة عن هذه الدور، فلأن تكون الدولة الإندونيسية معينا على هذا الخير الذي يقوم به الطلاب المتخرجون من دور الحديث في اليمن خير من محاربته لأن ما ندعو إليه هو من صالح كل مسلم كان حاكما أو محكوما، لأننا ندعو إلى إصلاح ما بين العبد وربه فإن أحسن فله جزاء الحسنى وإن أساء فلا يلومن إلا نفسه، فدعوتنا دعوة إصلاح ودعوة خير بالطرق الشرعية لا بالطرق البدعية كالتحزب والثورات والانقلابات والتفجيرات والتلغيمات</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">فعلى الدول الإسلامية أن تقوم بخدمته</span><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">ا للإسلام ونحن عون لها في الشدة والرخاء </span><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">ولا </span><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">حول</span><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;"> ول</span><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">ا</span><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;"> قو</span><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">ة إ</span><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">لا بال</span><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: large;">له</span></p>
<p style="text-align: center;"><a title="Meluruskan Isu Teroris" href="http://www.merekaadalahteroris.com/mat/wp-content/uploads/2010/08/meluruskan-isu-teroris.GIF"><img src="http://www.merekaadalahteroris.com/mat/wp-content/uploads/2010/08/meluruskan-isu-teroris.GIF" alt="Meluruskan Isu Teroris" width="468" height="736" /></a></p>
<p style="text-align: right">
<p style="text-align: right">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=534</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits-hadits Palsu dan Lemah yang Sering Disebut di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=533</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=533#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 04:20:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>

		<category><![CDATA[Risalah Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=533</guid>
		<description><![CDATA[ 
Hadits-hadits Palsu dan Lemah yang Sering Disebut di Bulan Ramadhan
Sesungguhnya segala pujian hanya bagi Allah, kami menyanjung-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan kami juga berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka sungguh dia termasuk orang yang mendapatkan hidayah, dan barangsiapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p> <![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<style>
&nbsp;/* Style Definitions */
&nbsp;table.MsoNormalTable
&nbsp;{mso-style-name:"Table Normal";
&nbsp;mso-tstyle-rowband-size:0;
&nbsp;mso-tstyle-colband-size:0;
&nbsp;mso-style-noshow:yes;
&nbsp;mso-style-parent:"";
&nbsp;mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
&nbsp;mso-para-margin:0cm;
&nbsp;mso-para-margin-bottom:.0001pt;
&nbsp;mso-pagination:widow-orphan;
&nbsp;font-size:10.0pt;
&nbsp;font-family:"Times New Roman";
&nbsp;mso-ansi-language:#0400;
&nbsp;mso-fareast-language:#0400;
&nbsp;mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p> <![endif]--></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #333333;"><strong>Hadits-hadits Palsu dan Lemah yang Sering Disebut di Bulan Ramadhan</strong></span></h2>
<p>Sesungguhnya segala pujian hanya bagi Allah, kami menyanjung-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan kami juga berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka sungguh dia termasuk orang yang mendapatkan hidayah, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang bisa memberikan petunjuk kepadanya.<span id="more-533"></span></p>
<p>Dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.</p>
<p>Adapun setelah itu, bahwasanya sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi kita Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa&#8217;ala alihi wasallam</em>, dan bahwasanya sejelek-jelek perkara adalah segala sesuatu yang diadakan-adakan, dan segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama ini adalah bid&#8217;ah, dan setiap bid&#8217;ah adalah sesat.</p>
<p>Kemudian setelah itu, ketahuilah bahwasanya perbuatan dusta atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> merupakan penyakit berbahaya dan sulit diobati yang telah menyebar (di tengah-tengah umat) seperti menyebarnya api pada tumbuhan yang kering. Pernyakit ini merupakan penjerumus ke dalam kebid&#8217;ahan, kesesatan, khurafat, menentang dalil, serta menyimpang dari jalan yang lurus dan jalan kaum mu&#8217;minin. Berdusta atas nama nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>juga menyebabkan pelakunya pantas untuk mendapatkan ancaman berupa tempat duduk dari neraka.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Saudara pembaca sekalian, akan kami sebutkan untuk anda beberapa hadits yang dusta (palsu) atas nama nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>dan juga hadits <em>dha&#8217;if</em> (lemah) yang sering disebut pada bulan yang penuh barakah ini, dengan harapan agar anda berhati-hati darinya, tidak mencampuradukkan antara al-haq dengan al-bathil, dan agar urusan (agama) anda benar-benar di atas ilmu.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>HADITS PERTAMA</strong></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُوْنَ السَّنَة كُلّهَا</span></p>
<p><em>&#8220;Kalau seandainya hamba-hamba itu tahu apa yang ada pada bulan Ramadhan (keutamaannya), maka niscaya umatku ini akan berangan-angan bahwa satu tahun itu adalah bulan Ramadhan seluruhnya.&#8221;</em></p>
<p><strong>Hadits ini adalah hadits yang didustakan atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> (palsu).</strong></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Shahihnya [III/190], Abu Ya&#8217;la Al-Mushili di dalam Musnadnya [IX/180], dan selain keduanya.</p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama <strong>Jarir bin Ayyub</strong>. Tentang rawi yang satu ini, para ulama telah menjelaskan keadaannya, di antaranya:</p>
<p>Abu Nu&#8217;aim Al-Fadhl bin Dukain mengatakan bahwa <strong>dia suka memalsukan hadits</strong>.</p>
<p>Al-Bukhari, Abu Hatim, dan Abu Zur&#8217;ah mengatakan bahwa <strong>dia adalah Munkarul Hadits</strong>.</p>
<p>Ibnu Khuzaimah mengatakan: &#8220;Jika haditsnya shahih &#8230;&#8221;<a name="_ftnref2" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Ibnul Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhu&#8217;at [II/103] dan juga Asy-Syaukani dalam Al-Fawa&#8217;id Al-Majmu&#8217;ah [hal. 74] menghukumi dia (Jarir bin Ayyub) adalah <strong>perawi yang suka memalsukan hadits -yakni pendusta-</strong>.</p>
<p>Lihat Lisanul Mizan [II/302] karya Ibnu Hajar.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>HADITS KEDUA</strong></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ أمَّتِي</span></p>
<p><em>&#8220;Rajab adalah bulan Allah, Sya&#8217;ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.&#8221;</em></p>
<p><strong>Hadits ini adalah hadits yang didustakan atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> (palsu).</strong></p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama <strong>Abu Bakr An-Naqqasy</strong>. Tentang rawi yang satu ini, para ulama telah menjelaskan keadaannya, di antaranya:</p>
<p>Thalhah bin Muhammad Asy-Syahid mengatakan bahwa <strong>Abu Bakr An-Naqqasy suka memalsukan hadits, dan kebanyakannya tentang kisah-kisah</strong>.</p>
<p>Abul Qasim Al-Lalika&#8217;i mengatakan bahwa tafsir dari <strong>Abu Bakr An-Naqqasy justru akan mencelakakan hati, tidak menjadi obat bagi hati-hati ini</strong>.</p>
<p>Dan di dalamnya juga terdapat rawi yang bernama <strong>Al-Kisa&#8217;i</strong> yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi sebagai rawi yang <strong><em>majhul</em> </strong>(tidak dikenal).</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Abul Fath bin Al-Fawaris di dalam Al-Amali dari Al-Hasan Al-Bashri secara mursal.</p>
<p>Al-Hafizh Al-&#8217;Iraqi mengatakan dalam Syarh At-Tirmidzi: &#8220;Ini adalah hadits <em>dha&#8217;if jiddan</em> (sangat lemah), dan dia termasuk hadits-hadits mursal yang diriwayatkan dari Al-Hasan (Al-Bashri), kami meriwayatkannya dari Kitab At-Targhib Wat Tarhib karya Al-Ashfahani, hadits-hadits mursal yang diriwayatkan dari Al-Hasan (Al-Bashri) tidak bernilai (shahih) menurut Ahlul Hadits, dan tidak ada satu hadits pun yang menyebutkan tentang keutamaan bulan Rajab.&#8221;</p>
<p>Ibnul Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhu&#8217;at [II/117], Adz-Dzahabi dalam Tarikhul Islam [I/2990], dan Asy-Syaukani dalam Al-Fawa&#8217;id Al-Majmu&#8217;ah [hal. 95] menghukumi bahwa hadits ini adalah hadits palsu, didustakan atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Lihat Lisanul Mizan [VI/202] karya Ibnu Hajar.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>HADITS KETIGA</strong></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">يا أيها الناس انه قد أظلكم شهر عظيم شهر مبارك فيه ليلة خير من ألف شهر فرض الله صيامه وجعل قيام ليله تطوعا فمن تطوع فيه بخصلة من الخير كان كمن أدّى فريضة فما سواه &#8230; وهو <span style="text-decoration: underline;">شهر أوله رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من النار</span></span></p>
<p><em>&#8220;Wahai sekalian manusia, sungguh hampir datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh barakah, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, Allah wajibkan untuk berpuasa pada bulan ini, dan Allah jadikan shalat pada malam harinya sebagai amalan yang sunnah, barangsiapa yang dengan rela melakukan kebajikan pada bulan itu, maka dia seperti menunaikan kewajiban pada selain bulan tersebut &#8230;, <span style="text-decoration: underline;">dan dia merupakan bulan yang awalnya adalah kasih sayang, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka</span>.&#8221;</em></p>
<p><strong>Hadits ini adalah hadits munkar</strong>, dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Shahihnya [III/191], dan beliau mengatakan: &#8220;Jika haditsnya shahih.&#8221; Maksud ungkapan ini adalah bahwa Al-Hafizh Ibnu Khuzaimah ragu (tidak memastikan) penshahihan hadits ini karena derajat sanadnya yang rendah (tidak sampai derajat shahih), maka jangan ada seorangpun yang mengira bahwa hadits ini shahih menurut Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>Lihat Tadribur Rawi [I/89] karya As-Suyuthi.</p>
<p>Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu&#8217;abul Iman [III/305], Al-Harits bin Usamah dalam Musnadnya [I/412], dan yang lainnya.</p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama <strong>&#8216;Ali bin Zaid bin Jud&#8217;an</strong> yang dikatakan oleh para ulama, di antaranya:</p>
<p>Ibnu Khuzaimah mengatakan bahwa <strong>dia tidak bsa dijadikan hujjah karena jeleknya hafalan dia</strong>.</p>
<p>Al-Bukhari mengatakan bahwa <strong>dia tidak bisa dijadikan hujjah</strong>.</p>
<p>Di dalam sanadnya juga terdapat rawi yang bernama <strong>Iyas bin Abi Iyas</strong> yang dikatakan oleh para ulama, di antaranya:</p>
<p>Adz-Dzahabi mengatakan bahwa <strong>dia adalah rawi yang tidak dikenal</strong>.</p>
<p>Al-&#8217;Uqaili mengatakan bahwa dia adalah rawi yang <strong><em>majhul</em></strong> (tidak dikenal) dan haditsnya tidak <em>mahfuzh</em> (yakni <em>syadz</em>/ganjil).</p>
<p>Abu Hatim mengatakan: &#8220;<strong>Ini adalah hadits Munkar</strong>.&#8221; (Al-&#8217;Ilal karya Ibnu Abi Hatim [I/249]).</p>
<p>Lihat Lisanul Mizan [II/169] karya Ibnu Hajar, As-Siyar [V/207] karya Adz-Dzahabi, dan As-Silsilah Adh-Dha&#8217;ifah [II/262] karya Asy-Syaikh Al-Albani.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>HADITS KEEMPAT</strong></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">إذا كان أوَّل ليلة من شهر رمضان نظر الله إلى خلقِهِ الصيَّام فإذا نظر الله إلى عبدٍ لم يعذِّبْهُ أبدًا،ولله عزَّ وجَلَّ في كُلِّ يومٍ ألف عتيقٍ من النَّار</span></p>
<p><em>&#8220;Ketika malam pertama bulan Ramadhan, Allah melihat makhluknya, ketika Allah melihat kepada seorang hamba, maka Dia tidak akan mengadzabnya selamanya, dan Allah &#8216;azza wajalla pada setiap harinya memiliki seribu hamba yang dibebaskan dari neraka.&#8221;</em><a name="_ftnref3" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong>Hadits ini adalah hadits yang didustakan atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> (palsu)</strong>.</p>
<p>Di dalam sanadnya banyak rawi yang <em>majhul</em> (tidak dikenal) dan rawi yang dituduh berdusta yaitu &#8216;<strong>Utsman bin &#8216;Abdillah Al-Qurasyi Al-Umawi Asy-Syami</strong> yang dikatakan oleh para ulama di antaranya:</p>
<p>Al-Juzajani menyatakan bahwa dia adalah <strong><em>kadzdzab</em></strong> (pendusta), suka mencuri hadits.</p>
<p>Abu Mas&#8217;ud As-Sijzi menyatakan dia adalah <strong><em>kadzdzab</em></strong>.</p>
<p>Ibnul Jauzi di dalam Al-Maudhu&#8217;at [II/104], Ibnu &#8216;Arraq di dalam Tanzihusy Syari&#8217;ah [II/146], Asy-Syaukani di dalam Al-Fawa&#8217;id Al-Majmu&#8217;ah [hal. 85], dan yang lainnya menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu, didustakan atas nama Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Lihat Lisanul Mizan [V/147] karya Ibnu Hajar.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>HADITS KELIMA</strong></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">صُوْمُوا تَصِحُّوا</span></p>
<p><em>&#8220;Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.&#8221;</em></p>
<p><strong>Ini adalah hadits dha&#8217;if</strong>, dikeluarkan oleh Al-&#8217;Uqaili dalam Adh-Dhu&#8217;afa&#8217; [II/92], Ath-Thabarani dalam Al-Mu&#8217;jam Al-Kabir [1190], dan selain mereka.</p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama <strong>Zuhair bin Muhammad At-Tamimi</strong>, riwayat penduduk negeri Syam dari dia adalah <strong>riwayat yang di dalamnya banyak riwayat munkar</strong>.</p>
<p>Dalam sanadnya yang lain, terdapat rawi yang bernama <strong>Nahsyal bin Sa&#8217;id</strong>, dan dia adalah rawi yang <strong><em>matruk</em> </strong>(ditinggalkan haditsnya). Ishaq bin Rahuyah dan Abu Dawud Ath-Thayalisi menyatakan dia adalah rawi yang <strong><em>kadzdzab</em></strong> (pendusta). Di samping itu <strong>sanadnya juga terputus</strong>.</p>
<p>Dalam sanadnya yang lain juga terdapat rawi yang bernama <strong>Husain bin &#8216;Abdillah bin Dhamirah Al-Himyari </strong>yang dikatakan oleh para ulama di antaranya:</p>
<p>Al-Imam Malik menisbahkan dia sebagai <strong>rawi yang pendusta</strong>.</p>
<p>Ibnu Ma&#8217;in menyatakan bahwa dia adalah <strong><em>kadzdzab</em></strong> (pendusta), tidak ada nilainya sedikitpun.</p>
<p>Al-Bukhari menyatakan bahwa dia adalah <strong><em>munkarul hadits</em> </strong>(kebanyakan haditsnya munkar).</p>
<p>Abu Zur&#8217;ah menyatakan bahwa dia adalah <strong>rawi yang tidak ada nilainya sedikitpun, hinakan haditsnya (yakni yang dia riwayatkan).</strong>&#8221;</p>
<p>Al-Hafizh Al-&#8217;Iraqi melemahkan sanadnya, dan Asy-Syaikh Al-Albani melemahkan hadits ini. [As-Silsilah Adh-Dha&#8217;ifah (253)].</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>HADITS KEENAM</strong></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">أُعطِيت أمَّتِي خمس خِصالٍ في رمضان لم تُعطهنَّ أمَّةٌ قبلهم:خلوفُ فَمِ الصائم أطيبُ عند اللهِ من ريحِ المِسك،وتستغفرُ لهم الحِيتان حتي يُفطروا</span></p>
<p><em>&#8220;Umatku ini pada bulan Ramadhan diberi lima perangai yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya: (1) Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma misk,(2) Ikan-ikan memintakan ampun untuk mereka sampai berbuka &#8230;&#8221;</em></p>
<p><strong>Ini adalah hadits <em>dha&#8217;if jiddan</em> (sangat lemah)</strong>.</p>
<p>Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya [II/292, 310], Al-Harits bin Usamah dalam Musnadnya [I/410], dan selain keduanya.</p>
<p>Di salam sanadnya terdapat rawi yang bernama <strong>Hisyam bin Ziyad bin Abi Zaid</strong> yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagai <strong><em>matrukul hadits</em> </strong>(ditinggalkan haditnya).</p>
<p>Asy-Syaikh Al-Albani menghukumi hadits ini sebagai hadits <em>dha&#8217;if jiddan</em> (sangat lemah), sebagaimana dalam Dha&#8217;if At-Targhib Wat Tarhib [586].</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>HADITS KETUJUH</strong></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">إِنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ لاَ يُرْفَعُ إِلاَّ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ</span></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya bulan Ramadhan itu tergantung di antara langit dan bumi, tidaklah bisa diangkat kecuali dengan zakat fitrah.&#8221;</em></p>
<p><strong>Ini adalah hadits dha&#8217;if</strong>.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ibnu Shishri di dalam Al-Amali dan bagian hadits ini hilang, juga diriwayatkan oleh Ibnu Syahin di dalam At-Targhib, dan Ibnul Jauzi di dalam Al-&#8217;Ilal Al-Mutanahiyah [II/499].</p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama <strong>Muhammad bin &#8216;Ubaid</strong> yang dikatakan oleh Ibnul JAuzi bahwa dia adalah <strong><em>majhul</em> </strong>(tidak dikenal). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan setelah menyebutkan hadits ini di dalam Lisanul Mizan [V/276]: &#8220;Dia adalah rawi yang tidak ada satupun yang mengikutinya.&#8221;</p>
<p>Asy-Syaikh Al-Albani mendha&#8217;ifkan hadits ini di dalam As-Silsilah Adh-Dha&#8217;ifah (43).</p>
<p>-Ditulis secara ringkas oleh Abu Zur&#8217;ah Sulaiman bin &#8216;Ali bin Syihab As-Salafy-.</p>
<p>Dan diterjemahkan secara ringkas<a name="_ftnref4" href="#_ftn4">[4]</a> pula dari <a href="http://sahab.net/forums/showthread.php?t=380588">http://sahab.net/forums/showthread.php?t=380588</a> ditambah sedikit catatan kaki dari penerjemah.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bish-shawab.</p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار</span></p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.&#8221; </em>[Muttafaqun &#8216;Alaihi dari shahabat Abu Hurairah, Al-Mughirah bin Syu&#8217;bah, dan yang lainnya]<em> </em></p>
<p><a name="_ftn2" href="#_ftnref2">[2]</a> Ungkapan seperti ini menunjukkan bahwa beliau tidak memastikan keshahihan hadits sebagaimana yang akan disebutkan dalam penjelasan hadits ketiga setelah ini. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p><a name="_ftn3" href="#_ftnref3">[3]</a> Demikian lafazh yang tercantum dalam sumber rujukan. Namun di dalam sebagian referensi, -dengan keterbatasan pengetahuan kami-, ditemukan ada perbedaan lafazh, yaitu tentang jumlah hamba yang dibebaskan dari neraka, di referensi tersebut disebutkan berjumlah satu juta. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p><a name="_ftn4" href="#_ftnref4">[4]</a> Sengaja bagian yang tidak kami terjemahkan adalah beberapa istilah muhadditsin atau istilah dalam ilmu hadits yang belum bisa kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan tepat. Tetapi insya Allah tidak akan mengubah isi dan substansi pembahasan. Wallahu a&#8217;lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=533</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Konsultasi Ramadhan : Hukum Wanita Shalat Tarawih di Masjid</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=532</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=532#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 03:21:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<category><![CDATA[Risalah Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=532</guid>
		<description><![CDATA[ 
Hukum Wanita Shalat Tarawih di Masjid
assalamualaikum,,,
afwan saya mau bertanya mengenai shalat tarawih yang lebih baik dikerjakan oleh wanita dengan berjamaah di Masjid atau di rumah?? jazakummulloh khoiron atas penjelasan rakaat tarawih nya.
dora&#8230;@yahoo.co.id
Jawab:
Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.
Masalah serupa juga pernah ditanyakan kepada Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, beliau pernah ditanya:
Banyak orang membicarakan (mempermasalahkan) tentang shalat tahajjud dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p> <![endif]--></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #333333;">Hukum Wanita Shalat Tarawih di Masjid</span></h2>
<p>assalamualaikum,,,</p>
<p>afwan saya mau bertanya mengenai shalat tarawih yang lebih baik dikerjakan oleh wanita dengan berjamaah di Masjid atau di rumah?? jazakummulloh khoiron atas penjelasan rakaat tarawih nya.</p>
<p align="right">dora&#8230;@yahoo.co.id</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Wa&#8217;alaikumussalam warahmatullah.</p>
<p>Masalah serupa juga pernah ditanyakan kepada Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em>, beliau pernah ditanya:<span id="more-532"></span></p>
<p>Banyak orang membicarakan (mempermasalahkan) tentang shalat tahajjud dan tarawihnya para wanita di masjid-masjid, bagaimanakah pernyataan anda tentang masalah seperti ini?</p>
<p>Beliau menjawab:</p>
<p>Ya, tidak mengapa para wanita shalat bersama kaum muslimin lainnya di masjid, akan tetapi hendaknya <strong>bisa menjaga diri dengan memakai hijab syar&#8217;i dan menghindari sebab terjadinya fitnah serta tidak memakai parfum yang biasa mereka gunakan di pasar-pasar</strong>.</p>
<p>Hendaknya seorang wanita yang akan shalat di masjid tidak memakai parfum, <em>tabarruj</em> (berhias), dan tidak pula menampakkan keindahan tubuhnya, akan tetapi dia harus berhijab yang syar&#8217;i, menutup tubuhnya, dan menjauhi sebab-sebab yang bisa menimbulkan fitnah.</p>
<p><strong>Kalau tidak bisa demikian, maka rumahnya adalah lebih baik baginya, rumahnya adalah lebih utama dan lebih mulia bagi dia</strong>. Namun jika diperlukan untuk keluar karena kalau shalat di rumahnya akan timbul malas, atau dia menginginkan untuk mendapatkan siraman nasehat dan peringatan, maka ini tidak mengapa. Akan tetapi tetap harus dengan syarat tesebut: menjaga diri, berhijab yang syar&#8217;i, dan menjauhi segala sebab yang bisa menimbulkan fitnah, baik dengan cara tidak memakai parfum, pakaian yang mencolok, dan juga tidak menampakkan keindahan tubuhnya.</p>
<p>-Selesai penjelasan Asy-Syaikh bin Baz <em>rahimahullah</em>-</p>
<p>dinukil dari: <strong><a href="http://sahab.net/forums/showthread.php?t=380549">http://sahab.net/forums/showthread.php?t=380549</a></strong></p>
<p>Catatan redaksi:</p>
<p>Dari penjelasan di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik, yaitu:</p>
<p>Þ    Pada asalnya, shalat di rumah itu lebih baik dan lebih utama bagi para wanita.</p>
<p>Þ    Kalaupun mereka menginginkan untuk shalat berjama&#8217;ah di masjid -dan inipun hukum asalanya juga boleh-, maka hal itu disebabkan adanya maslahat hakiki yang ingin diraih, seperti malas kalau shalat di rumah dan malas tadi benar-benar hilang ketika shalat berjama&#8217;ah bersama kaum muslimin di masjid, dan juga karena benar-benar ingin mendapatkan siraman rohani, ilmu syar&#8217;i, maupun nasehat yang bermanfaat.</p>
<p>Þ    Para wanita yang keluar rumah untuk shalat berjama&#8217;ah di masjid -tentunya setelah mempertimbangkan adanya maslahat yang hakiki tersebut-, mereka harus bisa menjaga diri, harus memakai hijab yang sesuai dengan syari, tidak bertabarruj, dan menghindari segala sesuatu yang bisa menimbulkan fitnah.</p>
<p>Terkhusus pada masa-masa sekarang, adakah para wanita yang bisa seperti yang digambarkan di atas?</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=532</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Adab-Adab Shaum (Puasa) bagi Seorang Muslim</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=530</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=530#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 00:56:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<category><![CDATA[Risalah Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=530</guid>
		<description><![CDATA[Buletin Islam al Ilmu Edisi No: 34 / IX / VIII / 1431
Adab-Adab Shaum (Puasa) bagi Seorang Muslim
Segala puji hanya milik Allah, Rabb Yang Maha Pencipta dan Pengatur Alam Semesta ini. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, para shahabat radliyallahu ‘anhum, dan pengikutnya hingga akhir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Buletin Islam al Ilmu Edisi No: 34 / IX / VIII / 1431</strong></span></p>
<h2 style="text-align: center;">Adab-Adab Shaum (Puasa) bagi Seorang Muslim</h2>
<p>Segala puji hanya milik Allah, Rabb Yang Maha Pencipta dan Pengatur Alam Semesta ini. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>, para shahabat <em>radliyallahu ‘anhum</em>, dan pengikutnya hingga akhir zaman.</p>
<p>Pembaca -semoga Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> senantiasa melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua, dalam menunaikan ibadah puasa seorang muslim harus memperhatikan adab-adabnya. Tidak cukup dengan hanya meninggalkan makan dan minum saja tanpa memperhatikan adab-adabnya. Dengan memperhatikan adab-adabnya, ibadah puasa yang dilaksanakan akan lebih sempurna dan bernilai di sisi Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em>. Diantara adab-adab puasa yang harus diperhatikan adalah:<span id="more-530"></span></p>
<h3><span style="color: #008000;"><strong>1.            Makan Sahur dan Mengakhirkannya</strong></span></h3>
<p>Prosesi makan sahur merupakan suatu ibadah tersendiri bagi seorang yang akan berpuasa. Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> memerintahkannya dan menjelaskan bahwa didalamnya terdapat barokah, sebagaimana dalam sabda beliau <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:</em></p>
<p align="center">تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً</p>
<p>&#8220;<em>Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur tersebut terdapat barokah.&#8221;</em> (<strong>Muttafaqun ‘alaihi</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> memerintahkan kaum muslimin agar makan sahur ketika hendak menjalankan ibadah puasa, sekaligus menjelaskan hikmah dari makan sahur. Diantara barokah yang terdapat dalam makan sahur, adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong><span style="color: #3366ff;">-              Melaksanakan perintah Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em></span></strong></p>
<p>Tidak diragukan bahwa dalam melaksanakan perintah Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> terdapat kebaikan dan barokah. Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya):</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.&#8221; </em>(<strong>Ali ‘Imron: 31</strong>)</p>
<p>Ini adalah salah satu diantara bentuk barokah yang dapat diraih dari melaksanakan dan mengikuti perintah Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> .</p>
<p><strong><span style="color: #3366ff;">-              Makan sahur sebagai pembeda antara puasa kaum muslimin dengan puasa ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani)</span></strong></p>
<p>Hal ini dikarenakan tidak ada makan sahur dalam puasa ahlul kitab. Mereka makan sebelum pertengahan malam, kemudian memulai ibadah puasanya dari pertengahan malam hingga pertengahan siang. Akan tetapi kaum muslimin disyari&#8217;atkan untuk makan sahur di akhir malam, yang diantara hikmahnya adalah dalam rangka menyelisihi ahlul kitab. Perbuatan menyelisihi ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani) merupakan perbuatan yang diridhoi oleh Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em>, karena mereka adalah musuh-musuh Allah, maka dalam perbuatan menyelisihi mereka terkandung keridhoan Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em>. Dan sebaliknya, dalam perbuatan yang menyerupai mereka dikhawatirkan akan mendatangkan kemurkaan dan adzab Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> kepada umat manusia.</p>
<p><strong><span style="color: #3366ff;">-              Menguatkan tubuh, sehingga mampu menahan rasa lapar dan dahaga sepanjang hari, yang pada kebiasaan, seseorang makan tiga kali dalam sehari dan minum berkali-kali.</span></strong></p>
<p>Akan tetapi, Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> menjadikan adanya barokah dengan makan sahur, sehingga mampu menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, meskipun dalam keadaan cuaca yang sangat panas atau sedang berada di negeri yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya.</p>
<p><strong><span style="color: #3366ff;">-              Membantu seorang muslim dalam menjalankan ketaatan kepada Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em>, yaitu ibadah puasa.</span></strong></p>
<p>Segala sesuatu yang membantu dalam menjalankan ketaatan kepada Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> merupakan kebaikan dan keberkahan.</p>
<p>Ketika melaksanakan prosesi ibadah makan sahur, jangan lupa meniatkannya untuk mencontoh dan meneladani Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>, serta menyelisihi ahlul kitab. Karena beliau <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> makan sahur dan memerintahkannya. Adapun pelaksanaan prosesi makan sahur yang dicontohkan Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> adalah di akhir malam. Dimana selesai makan sahur, beliau <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bangkit untuk menegakkan shalat shubuh. Jarak antara makan sahur beliau dengan shalat shubuh, kurang lebih cukup untuk membaca Al-Qur`an sebanyak lima puluh ayat. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh shahabat Anas bin Malik <em>radliyallahu ‘anhu</em>:</p>
<p align="center">أَنَّ نَبِىَّ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ تَسَحَّرَا ، فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سَحُورِهِمَا قَامَ نَبِىُّ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - إِلَى الصَّلاَةِ فَصَلَّى . قُلْنَا لأَنَسٍ : كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِى الصَّلاَةِ؟ قَالَ : قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً</p>
<p><em>&#8220;Sungguh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam telah makan sahur bersama Zaid bin Tsabit. Seusai mereka berdua dari makan sahur, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bangkit untuk menegakkan shalat (shubuh).&#8221; Kami (perawi atau periwayat hadits-pen) bertanya kepada Anas radliyallahu ‘anhu: &#8220;Berapa jarak antara selesainya mereka berdua makan sahur dengan masuknya mereka berdua ke dalam shalat?&#8221; Anas radliyallahu ‘anhu menjawab: &#8220;Kurang lebih cukup untuk membaca Al-Qur`an sebanyak lima puluh ayat.&#8221;</em> (<strong>HR. Al-Bukhari</strong>)</p>
<h3><span style="color: #008000;">2.            Menyegerakan berbuka</span></h3>
<p>Diantara adab seorang yang berpuasa adalah menyegerakan berbuka apabila telah tiba waktunya, yaitu ketika matahari telah terbenam.</p>
<p>Orang yang menyegerakan berbuka akan senantiasa berada dalam kebaikan. Sebagaimana sabda Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> :</p>
<p align="center">لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ</p>
<p align="center"><em>&#8220;Senantiasa manusia dalam kebaikan selama ia menyegerakan berbuka.&#8221;</em> (<strong>Muttafaqun ‘alaihi</strong>)</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata: &#8220;Dapat dipahami dari hadits tersebut bahwa apabila manusia tidak menyegerakan berbuka, maka mereka tidak berada dalam kebaikan.&#8221;</p>
<p><strong><span style="color: #3366ff;">Diantara hikmah menyegerakan berbuka puasa adalah:</span></strong></p>
<p>-              Senantiasa berada dalam kelapangan dan lega</p>
<p>-              Lebih kuat dalam beribadah</p>
<p>-              Bertambahnya pahala, karena merupakan perbuatan berpegang teguh dengan sunnah Nabi <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em></p>
<p>-              Menyelisihi kaum Yahudi, karena mereka biasa mengakhirkannya.</p>
<p>Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p align="center">لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ ، عَجِّلُوا الْفِطْرَ فَإِنَّ الْيَهُودَ يُؤَخِّرُونَ</p>
<p><em>&#8220;Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama masih menyegerakan berbuka. Bersegeralah berbuka karena sesungguhnya orang-orang Yahudi mengakhirkannya.&#8221;</em> (<strong>HR. Ibnu Majah</strong>)</p>
<h3><span style="color: #008000;">3.            Membaca do&#8217;a tatkala berbuka puasa</span></h3>
<p align="center">ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ الله</p>
<p><em>&#8220;Telah hilang dahaga dan telah basah urat dan telah tetap pahalanya insya Allah.&#8221; </em>(<strong>HR. Abu Dawud</strong>)</p>
<p><em><strong>Makanan terbaik untuk berbuka puasa</strong></em></p>
<p>Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> telah memberi contoh dalam segala hal, termasuk dalam makanan terbaik untuk berbuka puasa. Beliau <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> berbuka puasa dengan <em>ruthab</em> (kurma basah), atau dengan <em>tamr</em> (kurma kering) jika tidak ada <em>ruthab</em>, atau dengan air jika tidak ada <em>tamr</em>. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam hadits Anas bin Malik <em>radliyallahu ‘anhu</em>:</p>
<p><em>&#8220;Dahulu Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berbuka puasa dengan beberapa butir ruthab sebelum beliau shalat (maghrib). Apabila beliau tidak mendapatinya, beliau berbuka puasa dengan beberapa butir tamr. Apabila beliau tidak mendapatinya, beliau berbuka puasa dengan meminum beberapa teguk air.&#8221;</em> (<strong>HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi,</strong> dan <strong>Ahmad</strong>)</p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim berbuka puasa dengan apa yang Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> berbuka puasa dengannya. Yaitu dengan ruthab, jika ada. Jika tidak ada, maka dengan tamr. Jika tidak ada, maka dengan air.</p>
<h3><span style="color: #008000;">4.            Menjauhi perkara-perkara yang dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa atau merusak puasa</span></h3>
<p>Para pembaca <em>rahimakumullah</em>, termasuk dalam adab berpuasa adalah menjauhi perkara-perakara yang dapat merusak atau mengurangi pahala puasa, seperti berdusta, <em>ghibah</em> (gosip, membicarakan kejelekan, kekurangan, atau aib orang lain), <em>namimah</em> (mengadu-domba), atau segala perkataan dan perbuatan yang tidak baik atau diharamkan.</p>
<p>Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> telah menjelaskan hikmah dari puasa yang diwajibkan kepada kaum muslimin (puasa Ramadhan), yaitu agar mereka bertaqwa, sebagaimana firman Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> (yang artinya):</p>
<p><em>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.&#8221;</em> (<strong>Al-Baqarah: 183</strong>)</p>
<p>Konsekuensi dari ketaqwaan kepada Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> adalah melaksanakan hal-hal yang diperintahkan dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> dalam sabdanya:</p>
<p align="center">مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ</p>
<p align="center"><em>&#8220;Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, bahkan berbuat kedustaan, dan kebodohan, maka Allah tidak butuh terhadap perbuatan meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya-red).&#8221;</em> (<strong>HR. Al-Bukhari</strong>)</p>
<p>Jika seorang muslim hanya sekedar meninggalkan makan dan minum saja, tanpa meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan, maka ia hanya akan mendapatkan rasa lapar dan dahaganya saja. Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p align="center">رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ</p>
<p><em>&#8220;Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali rasa lapar saja, dan berapa banyak orang yang shalat malam (shalat tarawih) tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya, kecuali hanya tidak tidur malam (begadang) saja.&#8221;</em> (<strong>HR. Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim,</strong> dan <strong>Al-Baihaqi</strong>)</p>
<p>Pembaca <em>rahimakumullah</em>, semoga Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> mengaruniakan kepada kita kemudahan untuk melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga pula Allah menerima amalan-amalan kita, serta mengampuni dosa-dosa kita semua. <em><span style="text-decoration: underline;">A</span>m<span style="text-decoration: underline;">i</span>n Y<span style="text-decoration: underline;">a</span> Muj<span style="text-decoration: underline;">i</span>bas S<span style="text-decoration: underline;">a</span>il<span style="text-decoration: underline;">i</span>n.</em></p>
<p><em>Wall<span style="text-decoration: underline;">a</span>hu A&#8217;lam Bishshaw<span style="text-decoration: underline;">a</span>b</em></p>
<p>Sumber: <a href="http://www.buletin-alilmu.com/?p=503">http://www.buletin-alilmu.com/?p=503</a></p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=530</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Meninggalkan maksiat ketika Ramadhan, dengan niat akan mengulanginya di bulan lain</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=529</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=529#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 02:41:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Risalah Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=529</guid>
		<description><![CDATA[ 
Meninggalkan kemaksiatan ketika Ramadhan, tetapi dengan niat akan mengulanginya lagi di bulan yang lain,
Maka dia teranggap sebagai orang yang terus menerus melakukan kemaksiatannya itu[1].
Syaikhul Islam Abul &#8216;Abbas Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam Majmu&#8217; Al-Fatawa [X/743-744] -ketika menjelaskan bentuk terus-menerusnya orang yang berbuat maksiat-:
&#8220;Dan terkadang seseorang dikatakan terus menerus berbuat maksiat ketika dia bertekad untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p> <![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p> <![endif]--></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #333333;">Meninggalkan kemaksiatan ketika Ramadhan, tetapi dengan niat akan mengulanginya lagi di bulan yang lain,</span></h2>
<h3><span style="color: #800000;">Maka dia teranggap sebagai orang yang terus menerus melakukan kemaksiatannya itu</span><a name="_ftnref1" href="#_ftn1">[1]</a>.</h3>
<p>Syaikhul Islam Abul &#8216;Abbas Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah</em> berkata dalam <strong>Majmu&#8217; Al-Fatawa</strong> [X/743-744] -ketika menjelaskan bentuk terus-menerusnya orang yang berbuat maksiat-:<span id="more-529"></span></p>
<p>&#8220;Dan terkadang seseorang dikatakan terus menerus berbuat maksiat <strong>ketika dia bertekad untuk melakukannya (maksiat tersebut) pada waktu tertentu dan tidak pada waktu yang lain</strong>, seperti seseorang yang bertekad untuk meninggalkan kemaksiatan pada bulan Ramadhan tetapi tidak demikian pada bulan yang lain, maka dia bukan termasuk orang yang benar-benar bertaubat secara mutlak.</p>
<p>Namun orang yang meninggalkan perbuatan (maksiat) pada bulan Ramadhan akan diberi pahala manakala upaya dia dalam meninggalkan maksiat tadi karena Allah, dan dalam rangka mengagungkan syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Allah, serta menjauhi segala sesuatu yang diharamkan-Nya pada bulan tersebut. Akan tetapi dia bukan termasuk orang yang benar-benar bertaubat, yang akan diampuni dosanya dengan taubat dia, dan bukan pula orang yang dikatakan terus menerus berbuat maksiat secara mutlak<a name="_ftnref2" href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Adapun orang yang terus menerus (berbuat maksiat) sebagaimana yang disifatkan oleh Ibnul Mubarak adalah <strong>jika di antara niatnya adalah mengulangi minum khamr</strong>.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Aku (Ibnu Taimiyyah katakan):</p>
<p>Dan orang yang meninggalkan maksiat pada bulan Ramadhan, <strong>dan di antara niatnya adalah mengulanginya pada selain bulan Ramadhan</strong>, maka dia termasuk orang yang terus-menerus (berbuat maksiat itu) juga.&#8221;</p>
<p>-selesai perkataan Ibnu Taimiyyah-.</p>
<p>Aku memohon kepada Allah agar Dia memberikan rizki untuk kita semua taubat yang sebenar-benarnya, dan agar Dia menjauhkan kita semua dari segala bentuk kemaksiatan dan terus-menerus berbuat maksiat selama hidup kita. Amin.</p>
<p>Diterjemahkan dari: <a href="http://sahab.net/forums/showthread.php?t=380510">http://sahab.net/forums/showthread.php?t=380510</a></p>
<p>Dengan tambahan catatan kaki dari penerjemah.</p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Di antara syarat taubat adalah meninggalkan perbuatan maksiat dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Sehingga apabila seseorang telah meninggalkan suatu perbuatan maksiat, namun masih ada padanya keinginan dan tekad untuk mengulanginya lagi, maka dia belum dikatakan orang yang jujur dan sungguh-sungguh dalam taubatnya.</p>
<p>Allah <em>ta&#8217;ala</em> menyebutkan beberapa sifat orang yang bertaqwa (dalam surat Ali &#8216;Imran: 133-136), di antaranya adalah:</p>
<p><em>&#8220;Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan <strong>mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu</strong>, sedang mereka Mengetahui.&#8221;</em> [<strong>Ali &#8216;Imran: 135</strong>].</p>
<p><a name="_ftn2" href="#_ftnref2">[2]</a> Jadi orang yang mengulangi perbuatan maksiatnya, apakah dia dikatakan terus-menerus berbuat maksiat ataukah tidak, sangat terkait dengan niat dan tekad si pelakunya sebagaimana yang akan dijelaskan oleh Ibnul Mubarak setelah ini. Pelaku kemaksiatan yang bertekad untuk mengulanginya di waktu yang lain tentunya berbeda dengan orang yang megulanginya karena kealpaan atau kelalaian dirinya, selama dia sudah bertekad dengan jujur untuk tidak mengulanginya. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p><a name="_ftn3" href="#_ftnref3">[3]</a> Nampaknya perkataan beliau ini dalam konteks pembicaraan tentang peminum khamr yang meninggalkan kemaksiatannya ini. Wallahu a&#8217;lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=529</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Ulama dalam Menyambut Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=528</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=528#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 08:47:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Risalah Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=528</guid>
		<description><![CDATA[Nasehat Ulama dalam Menyambut Bulan Ramadhan
Oleh: Samahatusy Syaikh &#8216;Abdul &#8216;Aziz bin &#8216;Abdillah bin Baz rahimahullahu ta&#8217;ala
Beliau rahimahullah pernah ditanya:
Samahatusy Syaikh, apa nasehat anda kepada kaum muslimin dan kita semua, dalam rangka menyambut datangnya bulan (Ramadhan) yang memiliki keutamaan ini?
Beliau menjawab:
Nasehatku kepada seluruh kaum muslimin dalam menyambut bulan Ramadhan adalah hendaklah mereka bertakwa kepada Allah jalla [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #333333;"><strong>Nasehat Ulama dalam Menyambut Bulan Ramadhan</strong></span></h2>
<h4 style="text-align: center;"><span style="color: #008080;"><strong>Oleh: Samahatusy Syaikh &#8216;Abdul &#8216;Aziz bin &#8216;Abdillah bin Baz <em>rahimahullahu ta&#8217;ala</em></strong></span></h4>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> pernah ditanya:</p>
<p>Samahatusy Syaikh, apa nasehat anda kepada kaum muslimin dan kita semua, dalam rangka menyambut datangnya bulan (Ramadhan) yang memiliki keutamaan ini?<span id="more-528"></span></p>
<p>Beliau menjawab:</p>
<p>Nasehatku kepada seluruh kaum muslimin dalam menyambut bulan Ramadhan adalah hendaklah mereka bertakwa kepada Allah <em>jalla wa&#8217;ala,</em> dan hendaklah mereka bertaubat dari semua perbuatan dosa yang telah lalu dengan taubat yang benar, serta hendaklah mereka memahami agama ini dengan baik dan mempelajari hukum-hukum tentang masalah puasa dan juga hukum-hukum yang berkaitan dengan amalan pada bulan ini, karena Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">من يرد الله به خيراً يفقهه في الدين</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang Allah kehendaki dengannya kebaikan, maka ia akan difahamkan dalam masalah agama.&#8221;</em> [<strong>Muttafaqun &#8216;alaihi</strong>]<a name="_ftnref1" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> juga bersabda :</p>
<p style="text-align: right;">إذا دخل رمضان فتحت أبواب الجنة، وغلقت أبواب النار، وسلسلت الشياطين</p>
<p><em>&#8220;Apabila telah memasuki bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu Al Jannah, ditutuplah pintu-pintu An Naar dan para syaithan dibelenggu.&#8221;</em> [<strong>Muttafaqun &#8216;alaihi</strong>]<a name="_ftnref2" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Dan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> juga bersabda :</p>
<p style="text-align: right;">إذا كان أول ليلة من رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب جهنم وصفدت الشياطين ويناد منادٍ: يا باغي الخير أقبل، ويا باغي الشر أقصر، ولله عتقاء من النار وذلك في كل ليلة</p>
<p><em>&#8220;Apabila memasuki awal malam di bulan Ramadhan maka dibukalah pintu-pintu Al Jannah, ditutuplah pintu-pintu Jahannam dan para syaithan dibelenggu. Kemudian berserulah seorang penyeru : &#8216;Wahai para pencari kebaikan, sambutlah kebaikan tersebut dan wahai para pelaku kejelekan, kurangilah kejelekan tersebut. Bahwasanya Allah akan membebaskan para penghuni An Naar pada setiap malam.&#8221; </em>[<strong>HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah</strong>]<a name="_ftnref3" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> juga pernah menyampaikan kepada para shahabat:</p>
<p style="text-align: right;">أتاكم شهر رمضان شهر بركة يغشاكم الله فيه فينزل الرحمة ويحط الخطايا ويستجيب الدعاء فأروا الله من أنفسكم خيراً فإن الشقي من حرم فيه رحمة الله</p>
<p><em>&#8220;Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh barakah, Allah akan datangkan kepada kalian di dalamnya yaitu turunnya rahmat dan berkurangnya kejahatan-kejahatan serta dikabulkannya do&#8217;a, maka bergegaslah menuju amal-amal kebaikan, dan bersegeralah kepada ketaatan serta menjauhlah dari amal-amal kejelekan, karena sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang diharamkan rahmat Allah padanya.&#8221;</em><a name="_ftnref4" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Dan makna dari:</p>
<p style="text-align: right;">أروا الله من أنفسكم خيراً</p>
<p>adalah <em>&#8220;Bergegaslah menuju amal-amal kebaikan, dan bersegeralah kepada ketaatan serta menjauhlah dari amal-amal kejelekan.&#8221;</em></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda :</p>
<p style="text-align: right;">من صام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه، ومن قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه، ومن قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharap pahala, maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat (tarawih) di bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang menegakkan malam Lailatul Qadr<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a> dalam keadaan iman dan mengharap pahala, maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.&#8221;</em><a name="_ftnref6" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda: <em></em></p>
<p><em>&#8220;Allah jalla wa&#8217;ala berfirman:</em></p>
<p style="text-align: right;">كل عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به، ترك شهوته وطعامه وشرابه من اجلي للصائم فرحتان فرحة عند فطره وفرحة عند لقاء ربه، ولخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك</p>
<p><em>&#8220;Setiap amalan anak Adam, balasan kebaikannya adalah sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat kecuali puasa. Karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Dia meninggalkan syahwatnya, makanannya dan minumannya karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa ada 2 kegembiraan yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabbnya. Dan bau mulut orang yang berpuasa adalah lebih wangi daripada bau misik di sisi Allah.&#8221;</em> [<strong>HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah</strong>]<a name="_ftnref7" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Dan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda :</p>
<p style="text-align: right;">إذا كان يوم صوم أحدكم، فلا يرفث ولا يصخب، فإن سابه أحد أو قاتله فليقل إني امرؤ صائم</p>
<p><em>&#8220;Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa maka janganlah ia berkata-kata kotor, keji, dan berteriak-teriak. Maka apabila dia diejek atau diperangi maka katakanlah: aku adalah seorang yang berpuasa.&#8221; </em>[<strong>HR. Al-Bukhari</strong>]<a name="_ftnref8" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Dan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda :</p>
<p style="text-align: right;">من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya serta perbuatan kebodohan, maka Allah tidak membutuhkan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum.&#8221;</em> [<strong>HR. Al-Bukhari</strong> dalam <strong>Ash-Shahih</strong>]<a name="_ftnref9" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Maka wasiat kepada seluruh kaum muslimin adalah hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, hendaklah mereka menjaga puasa yang akan mereka lakukan, hendaklah mereka membentengi puasa tersebut dari segala perbuatan maksiat, dan disyari&#8217;atkan bagi mereka pada bulan tersebut untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan amalan-amalan kebaikan dan berlomba-lomba dalam ketaatan seperti memberikan shadaqah, memperbanyak membaca Al-Qur&#8217;an, bertasbih, bertahlil, bertahmid, bertakbir dan beristighfar, karena ini adalah bulan Al-Qur&#8217;an:</p>
<p style="text-align: right;">شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ</p>
<p><em>&#8220;Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur&#8217;an.&#8221; </em>[<strong>Al-Baqarah: 185</strong>]</p>
<p>Sehingga disyari&#8217;atkan bagi kaum mu&#8217;minin untuk bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur&#8217;an. Disunnahkan bagi kaum laki-laki dan wanita juga untuk memperbanyak membaca Al-Qur&#8217;an, baik siang maupun malam. Setiap satu huruf dibalas dengan satu kebaikan, dan setiap kebaikan akan dilipatgandakan sampai sepuluh kali lipat, sebagaimana yang disebutkan oleh hadits Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>. Itu semua diiringi dengan menjauhkan diri dari segala kejelekan dan perbuatan maksiat, saling menasehati dalam kebenaran serta memerintahkan kepada perkara yang baik dan melarang dari perkara yang munkar.</p>
<p>Inilah bulan yang agung. Dalam bulan tersebut balasan terhadap amalan-amalan shalih akan dilipatgandakan, dan amalan-amalan jelek yang dilakukan pada bulan tersebut akan mendapatkan balasan kejelekan yang besar pula. Maka wajib atas setiap mu&#8217;min untuk bersungguh-sungguh dalam menunaikan amalan yang telah Allah wajibkan atasnya dan hendaknya ia menjauhkan diri dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah.</p>
<p>Hendaklah di bulan Ramadhan tersebut, seseorang memberikan perhatian yang lebih besar dan lebih banyak (dibanding bulan yang lain), sebagaimanan disyari&#8217;atkan baginya untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan amalan-amalan kebaikan seperti shadaqah, menjenguk orang yang sakit, mengiringi jenazah, menyambung tali silaturahmi, banyak membaca Al-Qur&#8217;an, banyak berdzikir, bertasbih, bertahlil, beristighfar, berdo&#8217;a dan amalan-amalan kebaikan yang lain. Ini semua dilakukan dalam rangka mengharap pahala dari Allah dan takut dari hukuman-Nya.</p>
<p>Kita memohon kepada Allah agar memberi taufiq-Nya kepada kaum muslimin pada perkara-perkara yang diridhai-Nya. Kita juga memohon agar Allah menyampaikan puasa dan shalat kita serta puasa dan shalat segenap kaum muslimin pada derajat keimanan dan mengharap pahala dari Allah. Dan kita juga memohon agar Allah ta&#8217;ala menganugerahkan kepada kita dan seluruh kaum muslimin di berbagai tempat pemahaman terhadap agama ini dan istiqamah di atasnya. Kita juga memohon kepada Allah keselamatan dari sebab-sebab yang dapat mendatangkan murka Allah dan hukuman-Nya, sebagaimana aku juga memohon kepada Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> agar memberikan taufiq kepada para penguasa kaum muslimin dan para pemimpin mereka, agar Allah memberikan hidayah kepada mereka dan memperbaiki keadaan-keadaan mereka, dan agar Allah memberi taufiq kepada mereka untuk berhukum dengan syari&#8217;at Allah dalam seluruh urusan mereka seperti ibadah mereka, tugas-tugas mereka dan seluruh bidang-bidang urusan mereka. Sekali lagi kita memohon agar Allah <em>ta&#8217;ala</em> memberi taufiq kepada mereka dalam hal-hal tersebut. Ini semua dalam rangka merealisasikan firman Allah <em>jalla wa&#8217;ala</em> berikut:</p>
<p style="text-align: right;">وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ</p>
<p><em>&#8220;Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah.&#8221; </em>[<strong>Al-Maidah: 49</strong>]</p>
<p>Dan juga firman-Nya <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>:</p>
<p style="text-align: right;">أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْماً لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ</p>
<p><em>&#8220;Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?&#8221; </em>[<strong>Al-Maidah: 50</strong>]</p>
<p>Dan firman-Nya <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>:</p>
<p style="text-align: right;">فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيماً</p>
<p><em>&#8220;Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.&#8221;</em> [<strong>An-Nisa&#8217;: 65</strong>]</p>
<p>Dan juga firman-Nya <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>:</p>
<p style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً</p>
<p><em>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya serta Ulil Amri diantara kalian. Kemudian apabila kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, apabila kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.&#8221; </em>[<strong>An-Nisa&#8217;: 59</strong>]<em></em></p>
<p>Dan firman-Nya <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>:</p>
<p style="text-align: right;">قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ<em></em></p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya.&#8221; </em>[<strong>An-Nur: 54</strong>]</p>
<p>Dan firman-Nya <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>:</p>
<p style="text-align: right;">وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا</p>
<p><em>&#8220;Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.&#8221;</em> [<strong>Al-Hasyr: 7</strong>]</p>
<p>Inilah yang wajib atas seluruh kaum muslimin dan para pemimpin mereka. Wajib atas para pemimpin kaum muslimin dan ulama mereka serta kalangan awamnya untuk bertaqwa kepada Allah dan ta&#8217;at terhadap syari&#8217;at Allah. Hendaklah mereka menjadikan syari&#8217;at Allah ini sebagai pemutus perkara (hakim) di antara mereka, karena berhukum dengan syari&#8217;at Allah akan membuahkan kebaikan, hidayah, kesudahan yang terpuji, keridhaan Allah dan akan meraih kebenaran yang telah Allah syari&#8217;atkan, dengan berhukum terhadap syari&#8217;at Allah, juga akan terhindarkan dari tindak kezhaliman.</p>
<p>Kita memohon kepada Allah taufiq, hidayah, lurusnya niat dan baiknya amalan untuk seluruh kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: right;">وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه.</p>
<p>[<strong>Majmu&#8217; Fatawa wa Maqalat Mutanawi&#8217;ah Asy-Syaikh Ibn Baz <em>rahimahullah</em>, juz 15</strong>]</p>
<p>Sumber: <a href="http://sahab.net/forums/showthread.php?t=380207">http://sahab.net/forums/showthread.php?t=380207</a></p>
<p>Diterjemahkan oleh Muhammad Rifqi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Al-Bukhari dalam kitab &#8220;Al-&#8217;Ilmu&#8221; bab &#8220;Man Yuridillahu bihi Khairan Yufaqqihhu fiddin&#8221; no. 71 dan Muslim dalam kitab &#8220;Az-Zakat&#8221; bab &#8220;An-Nahyu &#8216;anil Mas&#8217;alah&#8221; no. 1037.</p>
<p><a name="_ftn2" href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Al-Bukhari dalam kitab &#8220;Bad&#8217;ul Khalqi&#8221; bab &#8220;Shifat Iblis wa Junudihi &#8221; no. 3277 dan Muslim dalam kitab &#8220;Ash-Shiyam&#8221; bab &#8220;Fadhlu Syahr Ramadhan&#8221; no. 1079.</p>
<p><a name="_ftn3" href="#_ftnref3">[3]</a> HR. At-Tirmidzi dalam kitab &#8220;Ash-Shaum&#8221; bab &#8220;Maa Ja&#8217;a fi Fadhli Syahri Ramadhan no. 682 dan Ibnu Majah dalam kitab  &#8220;Ash-Shiyam&#8221; bab &#8220;Maa Ja&#8217;a fi Fadhli Syahri Ramadhan&#8221; no. 1642.</p>
<p><a name="_ftn4" href="#_ftnref4">[4]</a> Disebutkan oleh Al-Mundziri di dalam At-Targhib Wat Tarhib bab &#8220;At-Targhib fi Shiyami Ramadhan&#8221; no. 1490, dan dia mengatakan: Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani.</p>
<p><a name="_ftn5" href="#_ftnref5">[5]</a> Maksudnya adalah shalat, dan termasuk pula adalah amal ketaatan yang lain seperti membaca Al-Qur&#8217;an, dzikir, tasbih, tahlil, tahmid, istighfar, berdo&#8217;a, dan amalan yang lain (<em>pent</em>).</p>
<p><a name="_ftn6" href="#_ftnref6">[6]</a> HR. Al-Bukhari dalam kitab &#8220;Ash-Shaum&#8221; bab &#8220;Man Shaama Ramadhana Imanan wa Ihtisaban&#8221; no. 1901 dan Muslim dalam kitab &#8220;Shalat Al-Musafirin wa Qashriha&#8221; bab &#8220;At-Targhib fi Shiyami Ramadhan&#8221; no. 760.</p>
<p><a name="_ftn7" href="#_ftnref7">[7]</a> HR. Al-Bukhari dalam kitab &#8220;At-Tauhid&#8221; bab &#8220;Qaulullahi Ta&#8217;ala: <em>Yuriiduuna an yubaddiluu kalaamallaah</em> no. 7492 dan Muslim dalam kitab &#8220;Ash-Shiyam&#8221; bab &#8220;Fadhlu Ash-Shiyam&#8221; no. 1151 serta Ibnu Majah dalam kitab &#8220;Ash-Shiyam&#8221; bab &#8220;Maa Ja&#8217;a fi Fadhli Ash-Shiyam&#8221; no. 1638.</p>
<p><a name="_ftn8" href="#_ftnref8">[8]</a> HR. Al-Bukhari dalam kitab &#8220;Ash-Shaum&#8221; bab &#8220;Hal Yaquulu Inni Sha&#8217;im idza Syutima&#8221; no. 1904.</p>
<p><a name="_ftn9" href="#_ftnref9">[9]</a> HR. Al-Bukhari dalam kitab &#8220;Ash-Shaum&#8221; bab &#8220;Man lam Yada&#8217; Qaul Az-Zuur&#8221; no. 1903.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=528</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Carilah Bekal Akhiratmu di Bulan yang penuh Berkah!</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=527</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=527#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Aug 2010 01:36:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[Buletin Islam Al Ilmu Edisi No: 33 / VIII / VIII / 1431
Carilah Bekal Akhiratmu di Bulan yang penuh Berkah!
Para pembaca rahimakumullah, semoga Allah Subhanallahu wa Ta&#8217;ala memudahkan kita semua dalam melaksanakan semua perintah-perintah-Nya, termasuk dalam menunaikan ibadah puasa Ramadhan tahun ini.
Bulan Ramadhan adalah suatu kesempatan emas bagi kaum muslimin untuk meraih berbagai pahala, karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Buletin Islam Al Ilmu Edisi No: 33 / VIII / VIII / 1431</strong></span></p>
<h2 style="text-align: center;">Carilah Bekal Akhiratmu di Bulan yang penuh Berkah!</h2>
<p>Para pembaca rahimakumullah, semoga Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> memudahkan kita semua dalam melaksanakan semua perintah-perintah-Nya, termasuk dalam menunaikan ibadah puasa Ramadhan tahun ini.<span id="more-527"></span></p>
<p>Bulan Ramadhan adalah suatu kesempatan emas bagi kaum muslimin untuk meraih berbagai pahala, karena di bulan Ramadhan banyak ibadah yang bisa dilaksanakan disamping ibadah puasa itu sendiri.</p>
<p>Di sisi lain, di bulan Ramadhan kaum muslimin diberi kemudahan oleh Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> untuk melaksanakan berbagai ibadah, karena para setan pada bulan ini dibelenggu, terkhusus setan yang sangat durhaka. Sehingga nampak semarak berbagai kebaikan, dan sebaliknya kejelekan berkurang. Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Apabila Ramadhan telah tiba, maka dibukalah pintu-pintu Al Jannah (surga), dan ditutup pintu-pintu An N<span style="text-decoration: underline;">a</span>r (neraka), serta para setan dibelenggu.&#8221; </em><strong><em>(HR. Muslim)</em></strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> juga bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Telah datang kepada kalian Ramadhan yaitu bulan yang diberkahi, pada bulan tersebut Allah mewajibkan atas kalian puasa, pada bulan tersebut dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka Jahannam serta dibelenggu para setan yang durhaka, di bulan itu juga Allah mempunyai satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak mendapatkan kebaikannya maka telah diharamkan (kebaikan baginya).&#8221; </em><strong><em>(HR. An Nasa&#8217;i)</em></strong></p>
<p><strong>Amalan-amalan ibadah di bulan Ramadhan</strong></p>
<p>Banyak ibadah yang diperintahkan atau dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan Ramadhan. Di antara ibadah-ibadah tersebut adalah:</p>
<p><strong>1. Shaum (puasa)</strong></p>
<p>Puasa adalah salah satu rukun dari rukun-rukun Islam. Sehingga tidak sepatutnya seorang muslim melalaikan apalagi meninggalkannya.</p>
<p>Puasa juga mengandung sekian keutamaan bagi siapa yang melaksanakannya dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>. Dia juga memperhatikan syarat-syarat dan adab-adabnya.</p>
<p>Di antara keutamaan puasa adalah:</p>
<p><strong>1. Sebagai sebab diampuninya dosa yang telah lalu</strong></p>
<p>Hal ini sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>:</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala hanya dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu.&#8221; </em><strong><em>(HR. Al Bukhari dan Muslim)</em></strong></p>
<p><strong>2. Shaum (puasa) membentengi pelakunya dari An N<span style="text-decoration: underline;">a</span>r (Neraka)</strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Shiyam (puasa) sebagai benteng, dengannya seorang hamba dapat membentengi dirinya dari An N<span style="text-decoration: underline;">a</span>r (neraka). Dia (puasa itu) untukku dan Aku yang akan membalasnya.&#8221; </em><strong><em>(HR. Ahmad no. 14727) </em></strong></p>
<p><strong>3. Shaum mengantarkan (pelakunya) ke dalam Al Jannah (Surga)</strong></p>
<p>Shahabat Abu Umamah <em>radliyallahu ‘anhu</em> bertanya kepada Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>:</p>
<p><em>&#8220;Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dengan amalan tersebut aku bisa masuk Al Jannah (surga)!&#8221; Beliau ` bersabda: &#8220;Wajib bagimu untuk berpuasa, (karena) tidak ada yang sebanding dengannya.&#8221; </em><strong><em>(HR. An Nasa`i, Ibnu Hibban dan Al Hakim)</em></strong></p>
<p><strong>4. Orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala dari Allah </strong><em><strong>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</strong></em><strong> tanpa hisab (perhitungan)</strong></p>
<p><strong>5. Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu bahagia ketika berbuka dan ketika bertemu Allah diakhirat.</strong></p>
<p><strong>6. Bau mulut orang yang berpuasa lebih baik bagi Allah </strong><em><strong>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</strong></em><strong> daripada aroma misik (kesturi)</strong></p>
<p>Hal tersebut di atas sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah <em>radliyallahu ‘anhu</em>, ia berkata: &#8220;Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Setiap amalan Bani Adam dilipatgandakan. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali kebaikan sampai dengan tujuh ratus kali lipat. Allah Subhanallahu wa Ta&#8217;ala berfirman: &#8220;Kecuali shaum (puasa). Maka sesungguhnya ia (puasa) untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya; dia (hamba) meninggalkan syahwat dan makannya karena Aku. Dan bagi orang yang puasa ada dua kebahagiaan yaitu ketika berbuka dan bertemu Rabbnya. Dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah daripada aroma misik.&#8221; </em><strong><em>(HR. Muslim no. 1945)</em></strong></p>
<p><strong>7. Shaum (puasa) dan Al Qur&#8217;an memberi syafa&#8217;at (dengan izin Allah) bagi pelakunya</strong></p>
<p>Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>:</p>
<p><em>&#8220;Shiyam (puasa) dan Al Qur`an keduanya memberi syafa&#8217;at bagi hamba pada hari kiamat. Shaum berkata: &#8220;Wahai Rabbku aku telah mencegahnya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa&#8217;at padanya.&#8217; Dan Al Qur`an berkata: &#8220;Aku telah mencegahnya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa&#8217;at padanya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam melanjutkan: &#8220;Maka keduanya (shaum dan Al Qur`an) diizinkan untuk memberi syafa&#8217;at.&#8221; </em><strong><em>(HR. Ahmad no. 6337)</em></strong></p>
<p><strong>8. Pintu Al Jannah (surga) &#8220;Ar Rayy<span style="text-decoration: underline;">a</span>n&#8221; dikhususkan bagi orang-orang yang berpuasa.</strong></p>
<p>Termasuk salah satu keutamaan shaum (puasa) Ramadhan, Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> jadikan bagi mereka yang berpuasa pintu khusus untuk mereka di Al Jannah (surga) yang diberi nama Ar Rayy<span style="text-decoration: underline;">a</span>n. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> dalam hadits yang diriwayatkan dari shahabat Sahl bin Sa&#8217;d <em>radliyallahu ‘anhu</em>, beliau ` bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya di Al Jannah (surga) ada sebuah pintu yang disebut Ar Rayy<span style="text-decoration: underline;">a</span>n. Pada hari kiamat kelak orang-orang yang berpuasa akan memasuki Al Jannah melalui pintu ini. Tidak seorang pun selain mereka masuk melalui pintu ini. Dikatakan (kepada mereka): ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?&#8217;, maka mereka bangkit (dan masuk). Tidak seorang pun selain mereka masuk melalui pintu ini. Ketika mereka telah memasukinya, ditutuplah pintu tersebut, maka tidak seorang pun bisa memasukinya.&#8221; </em><strong><em>(HR. Al Bukhari no. 1763 dan Muslim no. 1947)</em></strong><em> </em></p>
<p>Dalam riwayat yang lain: <em>&#8220;Maka apabila telah masuk orang terakhir dari mereka, ditutuplah pintu tersebut. Dan barangsiapa yang masuk dia akan minum dan barangsiapa minum, maka tidak akan pernah haus selamanya.&#8221; </em><strong><em>(HR. Ibnu Khuzaimah no. 1903)</em></strong></p>
<p><strong>2. Shalat Tarawih</strong></p>
<p>Di antara ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan, terkhusus di bulan Ramadhan, adalah shalat tarawih. Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa menegakkan shalat (Tarawih) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala hanya dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu.&#8221; </em><strong><em>(HR. Al Bukhari dan Muslim)</em></strong></p>
<p><em>Dan yang lebih utama, shalat tarawih dilaksanakan secara berjamaah menurut mayoritas ulama, seperti Al Imam Asy Syafi&#8217;i, Al Imam Abu Hanifah, Al Imam Ahmad, sebagian ulama Malikiyah, dan yang lainnya. (Lihat Syarah Shahih Muslim).</em></p>
<p>Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya barangsiapa mendirikan shalat bersama imam (secara berjamaah) hingga selesai ditulis baginya seperti shalat semalam suntuk.&#8221; </em><strong><em>(HR. At Tirmidzi)</em></strong></p>
<p><strong>3. Qira&#8217;atul Qur&#8217;an (membaca Al Qur&#8217;an)</strong></p>
<p>Hendaknya orang yang sedang menunaikan ibadah puasa menyibukkan dirinya dengan ibadah-ibadah yang lainnya, seperti dzikir, qira&#8217;atul Qur&#8217;an, shadaqah, dan berbuat baik kepada orang lain. Demikianlah yang dicontohkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>, sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu ‘Abbas <em>radliyallahu ‘anhuma</em>:</p>
<p><em>&#8220;Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bersemangat terhadap kebaikan. Dan (beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam) lebih bersemangat (dibanding biasanya-pen) ketika Malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemuinya di bulan Ramadhan. Dan Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasa menemui beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam di setiap malam selama bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam membacakan kepadanya Al Qur`an. Maka ketika Jibril ‘alaihissalam menemuinya, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam lebih bersemangat terhadap kebaikan (lebih kencang) daripada angin yang berhembus.&#8221; </em><strong><em>(HR. Al Bukhari no. 1769)</em></strong></p>
<p>Bulan Ramadhan disebut juga Syahrul Qur&#8217;an (bulan Al Qur&#8217;an), karena di bulan tersebut Al Qur&#8217;an diturunkan. Maka perbanyaklah membaca Al Qur&#8217;an sambil merenungi kandungannya, serta tanamkan di hati bahwa dirinya sedang membaca Kalamull<span style="text-decoration: underline;">a</span>h (firman Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em>).</p>
<p><strong>4. Memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa</strong></p>
<p>Kaum muslimin rahimakumullah, seorang muslim yang diberi keutamaan oleh Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> dari sisi rizki hendaknya memanfaatkan kesempatan yang baik ini untuk membantu saudaranya yang kekurangan, walaupun sekedar memberi makanan berbuka untuk mereka, karena keutamaan memberi makanan berbuka orang yang berpuasa sangat besar nilainya di sisi Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em>. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em>:</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka dia akan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.&#8221; </em><strong><em>(HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)</em></strong></p>
<p>Akan tetapi bukan berarti dirinya tidak mengapa meninggalkan puasa (tidak berpuasa), cukup memberi makanan berbuka sudah mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa, maksudnya bukan demikian. Semoga Allah <em>Subhanallahu wa Ta&#8217;ala</em> menerima amalan-amalan kita dan mengampuni dosa-dosa kita semua. <span style="text-decoration: underline;">A</span>m<span style="text-decoration: underline;">i</span>n Y<span style="text-decoration: underline;">a</span> Muj<span style="text-decoration: underline;">i</span>bas S<span style="text-decoration: underline;">a</span>il<span style="text-decoration: underline;">i</span>n.</p>
<p><em>Wall<span style="text-decoration: underline;">a</span>hu A&#8217;lam Bishshaw<span style="text-decoration: underline;">a</span>b</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=527</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
