<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>SITUS MA'HAD AS-SALAFY JEMBER</title>
	<atom:link href="http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.assalafy.org/mahad</link>
	<description>Jember, Jawa Timur, Indonesia, salafy, ma'had, islam, sunni</description>
	<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 04:35:19 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>in</language>
			<item>
		<title>Rebo Wekasan, Bukan Bagian dari Syari’at Yang Dituntunkan</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=448</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=448#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 00:32:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[ 
Rebo Wekasan
Bukan Bagian dari Syari&#8217;at Yang Dituntunkan
Di antara anggapan dan keyakinan keliru yang terjadi di bulan Shafar adalah adanya sebuah hari yang diistilahkan dengan Rebo Wekasan. Dalam bahasa Jawa &#8216;Rebo&#8217; artinya hari Rabu, dan &#8216;Wekasan&#8217; artinya terakhir. Kemudian istilah ini dipakai untuk menamai hari Rabu terakhir pada bulan Shafar (diperkirakan pada bulan Shafar tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<style>
<p>st1\:*{behavior:url(#ieooui) }</p>
</style>
<p> <![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<style>
<p> /* Style Definitions */</p>
<p> table.MsoNormalTable</p>
<p>	{mso-style-name:"Table Normal";</p>
<p>	mso-tstyle-rowband-size:0;</p>
<p>	mso-tstyle-colband-size:0;</p>
<p>	mso-style-noshow:yes;</p>
<p>	mso-style-parent:"";</p>
<p>	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;</p>
<p>	mso-para-margin:0cm;</p>
<p>	mso-para-margin-bottom:.0001pt;</p>
<p>	mso-pagination:widow-orphan;</p>
<p>	font-size:10.0pt;</p>
<p>	font-family:"Times New Roman";</p>
<p>	mso-ansi-language:#0400;</p>
<p>	mso-fareast-language:#0400;</p>
<p>	mso-bidi-language:#0400;}</p>
</style>
<p> <![endif]--></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Rebo Wekasan</strong></span></h2>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Bukan Bagian dari Syari&#8217;at Yang Dituntunkan</strong></span></h2>
<p>Di antara anggapan dan keyakinan keliru yang terjadi di bulan Shafar adalah adanya sebuah hari yang diistilahkan dengan <strong>Rebo Wekasan</strong>. Dalam bahasa Jawa &#8216;Rebo&#8217; artinya hari Rabu, dan &#8216;Wekasan&#8217; artinya terakhir. Kemudian istilah ini dipakai untuk menamai hari Rabu terakhir pada bulan Shafar (diperkirakan pada bulan Shafar tahun ini (1431 H) bertepatan dengan tanggal 10 Februari 2010). Di sebagian daerah, hari ini juga dikenal dengan hari <strong>Rabu Pungkasan</strong>.<span id="more-448"></span></p>
<p><strong>Apakah Rebo Wekasan itu? </strong></p>
<p>Sebagian kaum muslimin meyakini bahwa setiap tahun akan turun 320.000 bala&#8217;, musibah, ataupun bencana (dalam referensi lain 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya), dan itu akan terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Sehingga dalam upaya <em>tolak bala&#8217;</em> darinya, diadakanlah ritual-ritual tertentu pada hari itu. Di antara ritual tersebut adalah dengan mengerjakan shalat empat raka&#8217;at -yang diistilahkan dengan <em>shalat sunnah lidaf&#8217;il bala&#8217;</em> (shalat sunnah untuk menolak bala&#8217;)- yang dikerjakan pada waktu dhuha atau setelah shalat <em>isyraq</em> (setelah terbit matahari) dengan satu kali salam. Pada setiap raka&#8217;at membaca surat Al-Fatihah kemudian surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali (dalam referensi lain 5 kali), <em>Al-Mu&#8217;awwidzatain</em> (surat Al-Falaq dan surat An-Nas) masing-masing satu kali. Ketika salam membaca sebanyak 360 kali ayat ke-21 dari surat Yusuf yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: right;">وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.</p>
<p><em>&#8220;Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.&#8221;</em></p>
<p>Kemudian ditambah dengan <em>Jauharatul Kamal</em> tiga kali dan ditutup dengan bacaan (surat Ash-Shaffat ayat 180-182) berikut:</p>
<p style="text-align: right;">سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.</p>
<p>Ritual ini kemudian dilanjutkan dengan memberikan sedekah roti kepada fakir miskin. Tidak cukup sampai di situ, dia juga harus membuat rajah-rajah dengan model tulisan tertentu pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur, bak kamar mandi, atau tempat-tempat penampungan air lainnya.</p>
<p>Barangsiapa yang pada hari itu melakukan ritual tersebut, maka dia akan terjaga dari segala bentuk musibah dan bencana yang turun ketika itu.</p>
<p><strong>Kaum muslimin <em>rahimakumullah</em>, dari mana dan siapakah yang mengajarkan tata cara / ritual &#8216;ibadah&#8217; seperti itu?</strong></p>
<p>Dalam sebagian referensi disebutkan bahwa di dalam kitab <strong>Kanzun Najah</strong> karangan Syaikh Abdul Hamid Kudus yang katanya pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah, diterangkan bahwa telah berkata sebagian ulama <em>‘arifin</em> dari <em>ahli mukasyafah<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em> bahwa pada setiap tahun akan turun 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya, yang turunnya pada setiap hari Rabu terakhir bulan Shafar. Bagi yang shalat pada hari itu dengan tata cara sebagaimana tersebut di atas, maka akan selamat dari semua bencana dan bahaya tersebut.</p>
<p>Mungkin inilah yang dijadikan <em>dasar hukum</em> tentang <em>&#8216;disyari&#8217;atkannya&#8217;</em> ritual di hari Rebo Wekasan tersebut. Namun ternyata amaliyah yang demikian tidak ada dasarnya sama sekali dari Al-Qur&#8217;an maupun Sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>. Generasi salaf dari kalangan shahabat, tabi&#8217;in, dan tabi&#8217;ut tabi&#8217;in tidak pernah melakukan apalagi mengajarkan ritual semacam itu. Demikian pula generasi setelahnya yang senantiasa mengikuti jejak mereka dengan baik.</p>
<p>Keyakinan tentang Rebo Wekasan sebagai hari turunnya bala&#8217; dan musibah adalah keyakinan yang batil. Lebih batil lagi karena berangkat dari keyakinan tersebut, dilaksanakanlah ritual tertentu untuk menolak bala&#8217; dengan tata cara yang disebutkan di atas. Sementara keyakinan dan ritual tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan para shahabatnya <em>radhiyallahu ‘anhum</em>, dan tidak pula dicontohkan oleh para imam madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi&#8217;i, dan Ahmad bin Hanbal), tidak pula mereka membimbing dan mengajak para murid serta pengikut madzhabnya untuk melakukan yang demikian.</p>
<p>Para ulama dan kaum muslimin yang senantiasa menjaga aqidah dan berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya hingga hari ini -sampai akhir zaman nanti- juga tidak akan berkeyakinan dengan keyakinan seperti ini dan tidak pula beramal dengan amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan generasi salaf tersebut.</p>
<p>Jika keyakinan dan ritual ibadah tersebut tidak berdasar pada Al-Qur&#8217;an dan sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, tidak pula sebagai amalan para shahabat radhiyallahu ‘anhum dan para imam madzhab yang empat, maka sungguh amalan tersebut bukan bagian dari agama yang murni. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk bimbingan dan petunjuk kami, maka amalan itu tertolak.&#8221; </em>(<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Semoga Allah subhanahu wata&#8217;ala senantiasa menjaga kita dan kaum muslimin dari berbagai penyimpangan dalam menjalankan agama ini. Amin.</p>
<p><strong>Ditulis oleh Abu ‘Abdillah Kediri.</strong></p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Istilah ulama <em>‘arifin</em> (secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang mengetahui) dan <em>ahli mukasyafah</em> (secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang bisa menyingkap) inipun juga tidak dikenal di kalangan salaf. Istilah ini dikenal di kalangan penganut paham <em>shufiyyah</em> sebagai penamaan bagi orang-orang ‘khusus&#8217; yang mengerti sesuatu tanpa melalui proses belajar, dalam bahasa jawa disebut <em>ngerti sakdurunge winarah</em>. Mereka -yakni ulama ‘arifin dan ahli mukasyafah itu- juga diyakini bisa bertemu langsung dengan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan bahkan bertemu dengan Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> di dunia maya, sehingga mereka bisa menyingkap sesuatu (dari perkara ghaib) yang tidak bisa diketahui oleh selain mereka.</p>
<p>Ini semua tentunya adalah keyakinan yang batil, dan pembahasan seperti ini sangatlah panjang. Yang penting bagi kita adalah berupaya menjalankan agama ini -beraqidah, beribadah, berakhlak, bermu&#8217;amalah, dan lainnya dari urusan diniyyah- benar-benar bersumber dan sesuai dengan bimbingan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih, bukan pemahaman selain mereka. Wallahu a&#8217;lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=448</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Biografi singkat Asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=447</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=447#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 01:26:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[ 
Biografi Asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib
Biodata beliau:
1. Nama : Muhammad bin Ghalib Hassan Al-&#8217;Umari
2. Domisili : Madinah, Saudi Arabia
3. Pendidikan:
S-1 Fakultas Syariah, Universitas Islam Madinah
S-2 Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah
Sekarang sedang menempuh Program Doktoral di Fakultas Dakwah,
Universitas Islam Madinah
4. Guru-guru :
- Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi&#8217;i rahimahullah
- Asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Badr
- [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>st1\:*{behavior:url(#ieooui) }</p>
</style>
<p><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style> /* Style Definitions */</p>
<p>table.MsoNormalTable</p>
<p>{mso-style-name:"Table Normal";</p>
<p>mso-tstyle-rowband-size:0;</p>
<p>mso-tstyle-colband-size:0;</p>
<p>mso-style-noshow:yes;</p>
<p>mso-style-parent:"";</p>
<p>mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;</p>
<p>mso-para-margin:0cm;</p>
<p>mso-para-margin-bottom:.0001pt;</p>
<p>mso-pagination:widow-orphan;</p>
<p>font-size:10.0pt;</p>
<p>font-family:"Times New Roman";</p>
<p>mso-ansi-language:#0400;</p>
<p>mso-fareast-language:#0400;</p>
<p>mso-bidi-language:#0400;}</p>
</style>
<p><![endif]--></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #e2481d;"><strong>Biografi Asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib</strong></span></h2>
<p style="text-align: left;"><strong>Biodata beliau:</strong></p>
<p style="text-align: left;">1. Nama : Muhammad bin Ghalib Hassan Al-&#8217;Umari</p>
<p>2. Domisili : Madinah, Saudi Arabia</p>
<p><span id="more-447"></span>3. Pendidikan:<br />
S-1 Fakultas Syariah, Universitas Islam Madinah<br />
S-2 Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah<br />
Sekarang sedang menempuh Program Doktoral di Fakultas Dakwah,<br />
Universitas Islam Madinah</p>
<p>4. Guru-guru :<br />
- Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi&#8217;i rahimahullah<br />
- Asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Badr<br />
- Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri<br />
- Asy-Syaikh Abdurrahman bin Auf Kuni<br />
- Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhali<br />
- Asy-Syaikh Tarhib bin Rubai&#8217;an Ad-Dausari<br />
- Asy-Syaikh Abdussalam bin Salim As-Suhaimi<br />
- Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahim Al-Bukhari</p>
<p>5. Karya tulis :<br />
- Atsar At-Taqlid Al-Madzmum &#8216;ala Ad-Da&#8217;wah (Thesis<br />
Magister)<br />
- Al-Qaulul Musaddad<br />
- Ithaful Fudhala&#8217; bi Fawaidi &#8216;Ulama min Siyar A&#8217;lamin<br />
Nubala&#8217;<br />
- Mulahadzat &#8216;ala Siyar A&#8217;lamin Nubala<br />
- Shafwatu Ushulil Fiqih Al-Muntakhabah min Mukhtashar<br />
At-Tahrir</p>
<p>(Sumber : Panitia Daurah)</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=447</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Biografi Syaikh Abdullah bin Mar&#8217;i Al &#8216;Adni</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=446</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=446#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 03:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=446</guid>
		<description><![CDATA[Biografi Syaikh Abdullah bin Mar&#8217;i Al &#8216;Adni
Biodata beliau:
Nama: Abdullah bin Umar bin Mar&#8217;i bin Bariik Al Adeni
Kunyah: Abu Abdirrahman
Tempat dan Tanggal Lahir: Al Manshurah - Aden, pada hari Selasa tanggal 27 Syawwal 1389 H
Keluarga beliau:
Syaikh Abdullah menikah di Kerajaan Saudi Arabia, Allah subhanahu wa ta&#8217;ala memberikan kepada beliau seorang istri yang shalihah, seorang pengajar dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #e92615;"><strong>Biografi Syaikh Abdullah bin Mar&#8217;i Al &#8216;Adni</strong></span></h2>
<p><strong>Biodata beliau:</strong><br />
Nama: Abdullah bin Umar bin Mar&#8217;i bin Bariik Al Adeni<br />
Kunyah: Abu Abdirrahman<br />
Tempat dan Tanggal Lahir: Al Manshurah - Aden, pada hari Selasa tanggal 27 Syawwal 1389 H</p>
<p><span id="more-446"></span><strong>Keluarga beliau:</strong><br />
Syaikh Abdullah menikah di Kerajaan Saudi Arabia, Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> memberikan kepada beliau seorang istri yang shalihah, seorang pengajar dan mustafidah. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em>pun menganugerahkan tujuh orang anak yang terdiri dari empat putra dan tiga orang putri. Adapun putra beliau adalah:</p>
<p>1. Abdurrahman, kunyah Syaikh diambil dari nama putra beliau ini.<br />
2. Umar<br />
3. Muhammad<br />
4. Abdullah, ini yang paling bungsu.</p>
<p><strong>Proses Beliau Menuntut Ilmu:</strong></p>
<p>Beliau mulai belajar pada tahun 1406 H -bertepatan dengan tahun 1986 M-, dengan menghapal Al Quran dan menyetorkan hapalannya kepada Syaikh Muhammad At Ta&#8217;zi <em>rahimahullah</em> di Aden. Beliau mengkhatamkan Al Quran di hadapan Syaikh At Ta&#8217;zi sebanyak dua kali. Di masa itu beliau juga belajar kitab-kitab bagi pemula dalam bidang aqidah, fiqh, hadits, dan bahasa Arab. Beliau menyempurnakan hapalan Al Quran beliau di tahun 1409 H.</p>
<p>Beliau kemudian menetap di bumi Dammaj tahun 1408 dan bermulazamah kepada Syaikh Al Muhaddits Muqbil bin Hadi Al Wadi&#8217;i -<em>rahimahullah</em>-. Beliau belajar Shahih Al Bukhari, Shahih Muslim, Tafsir Ibnu Katsir, dan pelajaran lainnya kepada Syaikh Muqbil. Dan dahulu Syaikh Muqbil Al Wadi&#8217;i -<em>rahimahullah</em>- mengadakan pelajaran Kitab Tauhid karya Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>Syaikh Abdullah juga bertemu para penuntut ilmu senior pada masa itu, di antaranya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Washabi -<em>hafizhahullah</em>-. Beliau belajar Aqidah Ath Thahawiyah dari Syaikh Al Washabi.</p>
<p>Syaikh Abdullah pun kemudian safar ke bumi Haramain di bulan Ramadhan tahun 1412 H -bertepatan tahun 1992 H- di mana beliau menuntut ilmu secara langsung kepada para ulama senior di berbagai tempat.</p>
<p><strong>Yang Pertama</strong>: Di Al Qasim dan Riyadh</p>
<p>1. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <em>rahimahullah</em>. Beliau bermulazamah dari tahun 1412 H selama empat setengah tahun sampai beliau pindah. Beliau mengikuti pelajaran khusus dalam pembahasan kitab Al Hamawiyah dan At Tadmuriyah serta Syarah Syaikh Ibnu Utsaimin terhadap kitab An Nawawiyah, Qawa&#8217;id An Nuraniyah, Naqdut Tablis Al Jahmiyah, As Shawaiqul Mursalah dan yang selainnya.</p>
<p>Syaikh Abdullah senantiasa bersemangat dalam mengisi waktu. Di waktu libur dan ketika pelajaran kosong di pagi hari dan ba&#8217;da isya beliau talaqqi, menimba ilmu dari para Syaikh lainnya, di antaranya:</p>
<p>1. Syaikh Al Faqih -ahli sastra dan bahasa- Abu Shalih Abdullah bin Shalih Al Falih. Beliau membacakan kitab matan sharf, di antaranya Al Asaas wal Bina, At Tashrif karya Az Zunjani, serta At Tashrif karya Muhyiddin Abdul Hamid, dan kitab Syadzal Araf. Dan di dalam ilmu Nahwu beliau belajar Al Qathr, Asy Syudzur serta Ibnu Aqil, serta sekumpulan kitab dalam bidang adab seperti Syarh Adab Al Katib dan yang selainnya.</p>
<p>2. Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz <em>rahimahullah</em>. Syaikh Abdullah menghadiri sebagian pelajaran Syaikh Bin Baaz di Riyadh dan bertanya tentang sebagian permasalahan. Hal ini beliau lakukan di hari Kamis, Jumat dan hari-hari libur.</p>
<p>3. Syaikh Abdullah Al Ghudayyan. Beliau mengikuti sebagian pelajaran ilmu ushul, dan beragam pembahasan ushuliyah.</p>
<p>4. Syaikh Muhammad bin Sulayman Al Alith. Beliau belajar kitab-kitab aqidah dan syarah Kitab Tauhid seperti Qurratul Uyun, At Taisir, Darun Nadhid, Al Qaulus Sadiid, Hasyiyah Ibnul Qasim dan yang selainnya. Dan demikian juga, beliau belajar Majmu Ibnu Rumaih, Kasyfu Syubuhat, Al Haiyah, banyak dari matan-matan akidah dari Syaikh Al Alith. Dan juga kumpulan pelajaran tauhid dalam risalah-risalah para imam Negeri Najd dalam bidang akidah, serta syarah- syarah kitab Al Wasithiyah dan yang selainnya.</p>
<p>5. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Manshur, beliau belajar kitab Al Hamawiyah, At Tadmuriyah, At Tanbihaat As Saniyah, dan Syarah-syarah Kitab Al Wasithiyah, Ad Durratul Mudhi&#8217;ah fis Safariniyah, At Taiyah karya Syaikhul Islam dengan syarh As Sa&#8217;di, Al Qawaid Al Fiqhiyah, serta risalah-risalah Syaikhul Islam seperti At Tawassul, Wasilah Al ‘Ubudiyah dan yang selainnya dari Syaikh Al Manshur.</p>
<p>6. Syaikh Abdullah Al Qar&#8217;awy, imam Jami&#8217; Al Kabir di Buraidah. Beliau belajar sekumpulan risalah tauhid kepada Syaikh Al Qar&#8217;awy.</p>
<p>7. Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, beliau belajar sejumlah durus.</p>
<p><strong>Yang kedua</strong>, Para Masyaikh kota Madinah, yang paling terkenal di antara mereka:</p>
<p>1. Syaikh Muhammad bin Aman Al Jaami. Beliau belajar ta&#8217;liq Syaikh Al Jami terhadap Syarah Aqidah Al Wasithiyah Al Harras di Al Haram Al Madani.</p>
<p>2. Syaikh Rabi&#8217; bin Hadi Al Madkhali, beliau mendapatkan pelajaran sebagian kitab-kitab sunan di dalam dars ‘am (pelajaran umum).</p>
<p>3. Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad, beliau belajar Syarh terhadap Sunan An Nasa&#8217;i dan sebagian pelajaran Sunan Abu Daud di Al Haram Al Madani</p>
<p>4. Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim, beliau belajar kitab Al Muwatha&#8217; di Al Haram Al Madani</p>
<p>5. Syaikh Zaidan Asy Syinqithi, beliau belajar ushul fiqh di Al Haram Al Madani.</p>
<p>6. Syaikh Umar bin Abdul Jabbar, beliau belajar kitab Al Kawakib Al Munir di Masjid Universitas Islam Madinah.</p>
<p>7. Syaikh Ubaid bin Abdillah Al Jaabiri.</p>
<p><strong>Yang Ketiga</strong>, Masyaikh Makkah:</p>
<p>1. Gurunya Syaikh Muqbil bin Hadi <em>rahimahullah</em> yaitu Syaikh Muhammad bin Abdillah As Shumali. Beliau belajar kitab ‘Ilal Ibni Madini, ilmu musthalah, serta beragam bab dari Shahih Al Bukhari.</p>
<p>2. Syaikh Muhammad Ath Thayyib bin Ahmad Al Maghribi Al Ja&#8217;fari, beliau belajar ushul fiqih dan beragam bab fiqih.</p>
<p>3. Syaikh Muhammad Al Khadr Dhayfullah Al Jakni Asy Syinqithi, beliau belajar bahasa Arab dan sebagian ilmu mantiq.</p>
<p>4. Syaikh Muhammad bin Shalih At Tanbakti Al Mali, beliau belajar Syarah Ibnu Aqil.</p>
<p>5. Syaikh Muhammad bin Syaikh Ali bin Adam Al Atsiyubi Al Walwy. Beliau belajar Sunan At Tirmidzi, ‘Ilal Ibnu Rajab dan Nazham beliau dalam nama-nama Mudallis.</p>
<p>Beliau juga belajar dari para ulama lainnya yang beliau temui dalam sebagian majelis seperti Al Allamah Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani. Beliau hadir di sebagian pelajaran Syaikh Al Albani pada tahun 1410 di Makkah dan Jeddah.</p>
<p>Cukup bagimu ijazah-ijazah yang beliau -semoga Allah menjaganya- peroleh dari sebagian masyaikh yang beliau enggan untuk kami ketahui,. Semoga Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> memberikan barakah kepada diri dan ilmu beliau, serta kepada para ulama, masyaikh, dan para dai ahlussunnah secara keseluruhan.</p>
<p>Diterjemahkan dari http://daralhadeeth-sh.com/pageother.php?catsmktba=103<br />
<a href="http://ulamasunnah.wordpress.com/2010/01/15/biografi-syaikh-abdullah-bin-mar%E2%80%99i-al-adeni/">http://ulamasunnah.wordpress.com/2010/01/15/biografi-syaikh-abdullah-bin-mar%E2%80%99i-al-adeni/</a></p>
<p>(Dikutip dari <a href="http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1696" target="_blank">http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1696</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=446</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SEPUTAR VALENTINE&#8217;S DAY</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=445</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=445#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 03:17:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[ 
Buletin Islam AL ILMU Edisi: 8/II/VIII/1431
SEPUTAR VALENTINE&#8217;S DAY
(Fatwa-fatwa Ulama dalam Menyikapinya)
Saudara pembaca, semoga Allah subhanahu wa ta&#8217;ala memberikan hidayah kepada kita semua..
Jauh dari ilmu agama dan cinta terhadap dunia beserta segenap perhiasannya, adalah dua sebab mendasar yang membuat kaum muslimin semakin jauh dari agamanya. Di sisi lain arus deras dari kebudayaan barat (baca: kafir) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>st1\:*{behavior:url(#ieooui) }</p>
</style>
<p><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style> /* Style Definitions */</p>
<p>table.MsoNormalTable</p>
<p>{mso-style-name:"Table Normal";</p>
<p>mso-tstyle-rowband-size:0;</p>
<p>mso-tstyle-colband-size:0;</p>
<p>mso-style-noshow:yes;</p>
<p>mso-style-parent:"";</p>
<p>mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;</p>
<p>mso-para-margin:0cm;</p>
<p>mso-para-margin-bottom:.0001pt;</p>
<p>mso-pagination:widow-orphan;</p>
<p>font-size:10.0pt;</p>
<p>font-family:"Times New Roman";</p>
<p>mso-ansi-language:#0400;</p>
<p>mso-fareast-language:#0400;</p>
<p>mso-bidi-language:#0400;}</p>
</style>
<p><![endif]--></p>
<h5><span><span style="color: #0000ff;">Buletin Islam <strong>AL ILMU</strong> Edisi: 8/II/VIII/1431</span></span></h5>
<h2 style="text-align: center;"><strong><span style="color: #ff00ff;">SEPUTAR VALENTINE&#8217;S DAY</span></strong></h2>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #ff00ff;">(Fatwa-fatwa Ulama dalam Menyikapinya)</span></h2>
<p>Saudara pembaca, semoga Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> memberikan hidayah kepada kita semua..</p>
<p>Jauh dari ilmu agama dan cinta terhadap dunia beserta segenap perhiasannya, adalah dua sebab mendasar yang membuat kaum muslimin semakin jauh dari agamanya. Di sisi lain arus deras dari kebudayaan barat (baca: kafir) terus merongrong umat ini, dengan embel-embel modernisasi, intelektual, aspiratif, dan lain sebagainya.<span id="more-445"></span> Sehingga membuat segala sesuatunya (cara makan, gaya busana, pola hidup bermasyarakat, bahkan dalam berpolitik), baik atau tidaknya diukur dari budaya barat.</p>
<p>Dalam kondisi seperti inilah umat Islam yang &#8217;semakin minder&#8217; dengan agamanya sangat mudah dipengaruhi, diombang-ambingkan, ikut-ikutan semata, bagaikan asap yang terbang mengikuti arah angin berhembus. Valentine&#8217;s Day misalnya, tidak sedikit dari kaum muslimin terkhusus kalangan remajanya ikut larut dalam perayaan ini, meski tidak tahu-menahu hakikat sebenarnya dari perayaan tersebut <strong>(lihat Al-Ilmu edisi 6/ II/ VII/ 1430)</strong>.</p>
<p>Risalah ini kami tujukan kepada para muda-mudi umat Islam yang masih sayang pada dirinya, juga untuk para orang tua yang kelak (di yaumul akhir) akan ditanya tentang kepemimpinannya (terhadap keluarganya), juga untuk para pendidik yang masih peduli dengan adab dan akhlak anak didiknya, dan segenap kalangan yang masih mencintai Islam ini sebagai agamanya.</p>
<p>Berikut ini kami sampaikan fatwa-fatwa ulama Ahlus Sunnah berkaitan dengan Valentine&#8217;s Day.</p>
<p><strong>Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin.</strong></p>
<p><strong>Beliau ditanya:</strong> Telah banyak tersebar baru-baru ini perayaan Valentine&#8217;s Day (&#8217;Idul Hubb) -terkhusus di kalangan pelajar putri- itu merupakan salah satu hari raya orang-orang Kristen. Pada hari itu mode dan pakaian serba merah semua, baik pakaian maupun sepatu. Mereka saling tukar/menghadiahkan bunga berwarna merah. Kami mohon penjelasan tentang hukum perayaan seperti ini, dan bimbingan untuk kaum muslimim dalam permasalahan ini? Semoga Allah senantiasa menjaga dan memelihara anda.</p>
<p><strong>Jawaban: </strong>Merayakan Valentine&#8217;s Day dilarang<strong> </strong>karena beberapa sebab:</p>
<p>1.   Hal tersebut merupakan perayaan bid&#8217;i (yang diada-adakan) tidak ada dasarnya dalam syari&#8217;ah.</p>
<p>2.   Dapat mengantarkan kepada kecintaan dan birahi.</p>
<p>3.   Hal tersebut menyebabkan sibuknya hati dengan perkara-perkara yang rendah dan menyelisihi bimbingan as-salafush shalih <em>radhiyallaahu&#8217;anhum</em>.</p>
<p>Maka tidak diperbolehkan pada hari tersebut melakukan syi&#8217;ar-syi&#8217;ar hari raya Valentine&#8217;s Day sedikit pun, baik dalam hal makanan, minuman, pakaian, saling memberi hadiah, dan yang lainnya. Wajib atas setiap muslim untuk merasa mulia dengan agamanya dan tidak bersikap oportunis dengan gampang mengikuti setiap seruan.</p>
<p>Saya mohon kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> agar melindungi kaum muslimin dari setiap fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi, dan agar Dia melindungi kami dengan perlindungan dan taufiq-Nya. <strong></strong></p>
<p><strong>[Majmu&#8217; Fatawa wa Rasail ibni &#8216;Utsaimin XVI/124]</strong></p>
<p><strong>Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil Buhutsil &#8216;Ilmiyyah wal Ifta` </strong>(Komite Tetap Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)</p>
<p><strong>Lajnah ditanya:</strong> Pada tanggal 14 Februari setiap tahun masehi sebagian orang merayakan hari kasih sayang yang dikenal dengan Valentine&#8217;s Day. Pada hari itu mereka saling memberi hadiah bunga mawar merah, memakai baju merah, dan saling memberikan ucapan selamat. Demikian juga pabrik-pabrik permen, membuat permen dengan warna merah dan membuat gambar hati padanya. Tidak ketinggalan juga sebagian toko mempromosikan barang-barang khas hari tersebut. Bagaimana pendapat anda:</p>
<p>1.   Merayakan hari tersebut?</p>
<p>2.   Membeli dari toko-toko pada hari tersebut?</p>
<p>3.   Para pemilik toko yang tidak ikut merayakan hari tersebut tetapi menjual kepada orang yang hendak membeli hadiah pada hari tersebut?</p>
<p>Jazaakumullahu khairan (semoga Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> membalas anda semua dengan kebaikan)</p>
<p><strong>Jawaban:</strong> Dalil-dalil yang tegas dari Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah, sekaligus kesepakatan para Salaful Ummah, bahwa hari raya dalam Islam hanya ada dua, yaitu hari raya &#8216;Idul Fitri dan &#8216;Idul Adha. Adapun hari raya selain kedua hari tersebut, baik perayaan berkenaan dengan seseorang, kelompok, peristiwa, atau makna apapun, maka itu merupakan hari raya yang diada-adakan dalam agama. Tidak boleh bagi pemeluk agama Islam untuk merayakannya, menyetujuinya, ataupun menampakkan kegembiraan terhadap hari tersebut, serta tidak boleh pula membantu (perayaan tersebut) sedikitpun. Karena perbuatan tersebut termasuk melanggar batasan-batasan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, dan barang siapa yang melanggar batasan-batasan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> maka dia telah menzhalimi dirinya sendiri. Berikutnya, disamping ia perayaan yang diada-adakan dalam agama, ia juga merupakan hari rayanya orang kafir, maka itu dosa di atas dosa. Karena pada perbuatan tersebut terdapat unsur tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang-orang kafir dan loyalitas kepada mereka.</p>
<p>Sungguh Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> telah melarang kaum mukminin dari perbuatan tasyabbuh dengan orang-orang kafir dan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> juga melarang kaum muslimin dari berloyalitas kepada mereka dalam kitab-Nya yang mulia.</p>
<p>Telah pasti bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;"><strong>مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</strong></span><strong></strong></p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari golongan mereka</em>.&#8221; <strong>[HR. Abu Dawud no. 4031, Ahmad II/50]</strong></p>
<p>Valentine&#8217;s Day termasuk jenis yang dimaksudkan di atas, karena ia termasuk hari raya watsaniyyah (paganisme/para penyembah berhala) nashraniyyah. Maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim yang telah menyatakan diri beriman kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dan hari akhir untuk ikut merayakan hari raya tersebut, atau menyetujuinya, atau turut mengucapkan selamat. Sebaliknya, wajib atasnya untuk meninggalkan dan menjauhinya dalam rangka memenuhi perintah Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dan Rasul-Nya, serta menjauhi sebab-sebab yang mendatangkan kemurkaan dan adzab Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Demikian juga haram atas seorang muslim untuk turut membantu/berpartisipasi pada hari perayaan tersebut ataupun hari raya kafir/bid&#8217;ah terlarang lainnya, dalam bentuk apapun, baik makanan, minuman, jual beli, produksi, hadiah, kartu-kartu ucapan selamat, iklan, atau yang lainnya. Karena itu semua merupakan bentuk kerja sama dalam perbuatan dosa dan permusuhan, serta bentuk kemaksiatan kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dan Rasul-Nya.</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:<strong></strong></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;"><strong>وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ</strong></span></p>
<p>&#8220;<em>Tolong menolonglah kalian di atas kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Bertakwalah (takutlah) kalian kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Keras adzab-Nya</em>.&#8221; <strong>(Al-Maidah: 2)</strong></p>
<p>Wajib atas setiap muslim untuk berpegang teguh dengan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah dalam semua kondisinya, terutama ketika fitnah dan kerusakan banyak bermunculan. Wajib atasnya untuk jeli berpikir dalam rangka waspada dari terjatuh dalam kesesatan umat yang dimurkai (Yahudi) dan umat yang tersesat (Nashrani), dan orang fasik yang tidak percaya akan kebesaran Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dan tidak peduli sama sekali terhadap Islam. Wajib atas setiap muslim untuk kembali kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dengan memohon hidayah-Nya dan keteguhan diri di atasnya. Karena sesungguhnya tidak ada yang memberi hidayah dan mengokohkannya kecuali Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>.</p>
<p><em>Wabillahi taufiq, washallallahu &#8216;ala nabiyyina muhammad wa&#8217;ala alihi wa sallam</em>.</p>
<p><strong>[Fatwa No. 21203]</strong></p>
<p>Fatwa ini ditandatangani oleh: Asy-Syaikh &#8216;Abdul &#8216;Aziz bin &#8216;Abdillah Alu Asy-Syaikh (Ketua), Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid (Anggota), Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan (Anggota), dan Asy-Syaikh &#8216;Abdullah bin Ghudayyan (Anggota).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Mengapa Kaum Muslimin Tidak Boleh Merayakan Valentine&#8217;s Day?</strong></p>
<p>Sebagian kaum muslimin yang ikut merayakannya mengatakan bahwa Islam juga mengajak kepada kecintaan dan kedamaian. Dan Hari Kasih Sayang adalah saat yang tepat untuk menyebarkan rasa cinta di antara kaum muslimin. Sehingga apa yang menghalangi untuk merayakannya?</p>
<p>Jawaban terhadap pernyataan ini dari beberapa sisi:</p>
<p><strong>1.   Hari Raya Dalam Islam</strong> <strong>Telah Ditentukan</strong></p>
<p>Hari raya dalam Islam adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. Hari raya merupakan salah satu syi&#8217;ar yang sangat agung. Sedangkan dalam Islam, tidak ada hari raya kecuali hari Jum&#8217;at, Idul Fithri, dan Idul Adha. Perkara ibadah harus ada dalilnya. Tidak boleh seseorang membuat hari raya sendiri yang tidak disyariatkan oleh Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dan Rasul-Nya.</p>
<p>Berdasarkan hal ini, perayaan Hari Kasih Sayang ataupun selainnya yang diada-adakan adalah perbuatan mengada-adakan (bid&#8217;ah) dalam agama, menambahi syariat, dan bentuk koreksi terhadap Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, Dzat yang menetapkan syariat.</p>
<p><strong>2.   Tasyabbuh Terhadap Orang-orang Kafir.</strong></p>
<p>Perayaan Hari Kasih Sayang merupakan bentuk tasyabbuh (menyerupai) bangsa Romawi paganis, juga menyerupai kaum Nashrani yang meniru mereka (Romawi), padahal ini tidak termasuk (amalan) agama mereka. Ketika seorang muslim dilarang menyerupai kaum Nashrani dalam hal yang memang termasuk agama mereka, maka bagaimana dengan hal-hal yang mereka ada-adakan dan mereka menirunya dari para penyembah berhala?</p>
<p>Seorang muslim dilarang menyerupai orang-orang kafir -baik penyembah berhala atau ahli kitab- baik dalam aqidah, ibadah, maupun dalam adat yang menjadi kebiasan, akhlak, dan perilaku mereka. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;"><strong>وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ</strong></span><strong></strong></p>
<p>&#8220;<em>Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat</em>.&#8221; <strong>(Ali-&#8217;Imran: 105)</strong></p>
<p>Dan juga Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;"><strong>أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَ يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ</strong></span><strong></strong><strong></strong></p>
<p><em>&#8220;Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya Telah diturunkan Al Kitab kepadanya, Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.</em>&#8221; <strong>(Al-Hadid: 16)</strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;"><strong>مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</strong></span><strong></strong><strong></strong></p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari golongan mereka</em>.&#8221; <strong>[HR. Abu Dawud no. 4031, Ahmad II/50]</strong></p>
<p>Tasyabbuh terhadap orang kafir dalam perkara agama mereka -diantaranya adalah Hari Kasih Sayang- lebih berbahaya daripada menyerupai mereka dalam hal pakaian, adat, atau perilaku. Karena agama mereka tidak terlepas dari tiga hal: yang diada-adakan, atau yang telah dirubah, atau yang telah dihapuskan hukumnya (dengan datangnya Islam). Sehingga tidak ada sesuatupun dari agama mereka yang bisa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>.<strong></strong></p>
<p><strong>3.   Perayaan Kasih Sayang Untuk Semua Manusia.</strong></p>
<p>Tujuan perayaan Hari Kasih Sayang pada masa ini adalah menyebarkan kasih sayang di antara manusia seluruhnya, tanpa membedakan antara orang yang beriman dengan orang kafir. Hal ini menyelisihi agama Islam. Hak orang kafir yang harus ditunaikan kaum muslimin adalah bersikap adil dan tidak menzhaliminya. Dia juga berhak mendapatkan sikap baik dengan syarat; tidak memerangi atau membantu memerangi kaum muslimin. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;"><strong>لاَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ</strong></span><strong></strong><strong></strong></p>
<p>&#8220;<em>Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.</em>&#8221; <strong>(Al-Mumtahanah: <img src='http://www.assalafy.org/mahad/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /><br />
</strong></p>
<p>Bersikap adil dan baik terhadap orang kafir tidaklah berkonsekuensi mencintai dan berkasih sayang dengan mereka. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> bahkan memerintahkan untuk tidak berkasih sayang dengan orang kafir dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;"><strong>لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ</strong></span><strong></strong> <strong></strong></p>
<p>&#8220;<em>Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka</em>.&#8221; <strong>(Al-Mujadilah: 22)</strong></p>
<p><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</strong> <em>rahimahullah</em> berkata: &#8220;Sikap tasyabbuh akan melahirkan sikap kasih sayang, cinta, dan loyalitas di dalam batin. Sebagaimana kecintaan yang ada di batin akan melahirkan sikap menyerupai.&#8221; <strong>[Al-Iqtidha&#8217;: I/490]</strong></p>
<p><strong>4.   Kasih Sayang Karena Syahwat.</strong></p>
<p>Kasih sayang yang dimaksud dalam tasyabbuh ini semenjak dihidupkan oleh kaum Nashrani adalah cinta, rindu, dan kasmaran di luar hubungan pernikahan. Buahnya, tersebarnya zina dan kekejian yang karenanya pemuka agama Nashrani -pada waktu itu- menentang dan melarangnya.</p>
<p>Kebanyakan para pemuda muslimin merayakannya pun karena menuruti syahwat dan bukan karena keyakinan khurafat sebagaimana bangsa Romawi dan kaum Nashrani. Namun hal ini tetaplah tidak bisa menafikan adanya sikap tasyabbuh terhadap orang kafir dalam salah satu perkara agama mereka. Selain itu, seorang muslim tidak diperbolehkan menjalin hubungan cinta dengan seorang wanita yang tidak halal baginya, yang merupakan pintu menuju zina.</p>
<p><strong><em>Wallahu ta&#8217;ala a&#8217;lam bis showab</em>.</strong></p>
<h3><span style="color: #ff00ff;">Artikel Terkait:</span></h3>
<p><a href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=319" target="_blank"><strong>PERAYAAN VALENTINE’S DAY HARAM HUKUMNYA + Pdf</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=445</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Safari Dakwah Bersama Masyayikh Yaman - Saudi</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=444</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=444#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 01:58:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pengumuman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Hadirilah dengan mengharap ridlo Allah Ta&#8217;ala
Safari Dakwah Masyayikh Ahlus Sunnah
Pembicara :
Asy Syaikh Abdullah Al Mar&#8217;i (Yaman)
dan
Asy Syaikh Muhammad Ghalib (Saudi Arabia)
Insya Allah akan berlangsung pada tanggal 28 Safar - 7 Rabi&#8217;ul Awal 1431 H atau bertepatan dengan tanggal 13 - 21 Februari 2010
Jadual Muhadharah Umum
1. Waktu : Sabtu / 13 Februari 2010
Tempat : Masjid Agung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #008000;">Hadirilah dengan mengharap ridlo Allah Ta&#8217;ala</span></h2>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #008000;">Safari Dakwah Masyayikh Ahlus Sunnah</span></h2>
<p>Pembicara :<br />
Asy Syaikh Abdullah Al Mar&#8217;i (Yaman)<br />
dan<br />
Asy Syaikh Muhammad Ghalib (Saudi Arabia)</p>
<p>Insya Allah akan berlangsung pada tanggal 28 Safar - 7 Rabi&#8217;ul Awal 1431 H atau bertepatan dengan tanggal 13 - 21 Februari 2010<span id="more-444"></span></p>
<p>Jadual Muhadharah Umum</p>
<p>1. Waktu : Sabtu / 13 Februari 2010<br />
Tempat : Masjid Agung Ngawi, Jatim<br />
Kontak Person : 0899 3591 222, 0813 5950 6000</p>
<p>2. Waktu : Ahad / 14 Februari 2010<br />
Tempat : Masjid Raya Ukhuwah, Jl Kalimantan, Denpasar, Bali<br />
Kontak Person : 0852 3746 3117</p>
<p>3. Waktu : Selasa / 16 Februari 2010<br />
Tempat : Masjid Zaadul Ma&#8217;ad, PP Ibnul Qoyyim, Balikpapan<br />
Kontak Person : 0542 86171, 0813 5017 8107</p>
<p>4. Waktu : Rabu / 17 Februari 2010<br />
Tempat : Makassar (belum dapat kepastian)<br />
Kontak Person : 0815 2464 5041</p>
<p>5. Waktu : Kamis / 18 Februari 2010<br />
Tempat : Masjid Abu Bakar Shiddiq, Komplek Muhajirin, Kebun Cengkih, Ambon<br />
Kontak Person : 0813 4344 5858, 0815 2726 8065</p>
<p>6. Waktu : Sabtu / 20 Februari 2010<br />
Tempat : Masjid Al I&#8217;tisham, Jl. Jendral Sudirman, Jakarta<br />
Kontak Person : 021 9828 12630, 0816 1996 634, 0811 916 896</p>
<p>7. Waktu : Ahad / 21 Februari 2010<br />
Tempat : Medan (belum dapat kepastian)<br />
Kontak Person : 0813 9695 8484</p>
<p>Selengkapnya klik pamflet ini :<br />
<a href="http://www.salafy.or.id/upload/daurahsyaikhfeb.jpg" target="_blank">http://www.salafy.or.id/upload/daurahsyaikhfeb.jpg</a></p>
<p><!--[if gte vml 1]> <![endif]--></p>
<p style="text-align: center;"><img style="border: 0pt none ;" src="http://www.salafy.or.id/upload/daurahsyaikhfeb.jpg" border="0" alt="Dauroh" width="354" height="389" /></p>
<p>Insya Allah daurah ini disiarkan secara online lewat Paltalk, Room Religion &amp; Spirituality - Islam - Salafiyyin, nickname salafiyyin</p>
<p>(Petunjuk http://www.salafy.or.id/upload/paltalk.zip )</p>
<p>Sumber: http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1606</p>
<p>http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1697</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=444</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bertutur Yang Baik dan Berwajah Yang Manis</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=443</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=443#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 01:40:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Akhlaq/Adab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[  
Buletin Islam AL ILMU Edisi: 5/I/VIII/1431
Bertutur Yang Baik dan Berwajah Yang Manis

Sekedar menampakkan yang berseri-seri serta bertutur yang baik sesungguhnya merupakan perkara ringan. Namun demikian, bagi sebagian besar kita hal itu seolah demikian berkat untuk diperhatikan. Yang memprihatinkan, gejala yang menimpa sebagian para penuntut ilmu agama di mana sikap mereka demikian kaku terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>st1\:*{behavior:url(#ieooui) }</p>
</style>
<p><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style> /* Style Definitions */</p>
<p>table.MsoNormalTable</p>
<p>{mso-style-name:"Table Normal";</p>
<p>mso-tstyle-rowband-size:0;</p>
<p>mso-tstyle-colband-size:0;</p>
<p>mso-style-noshow:yes;</p>
<p>mso-style-parent:"";</p>
<p>mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;</p>
<p>mso-para-margin:0cm;</p>
<p>mso-para-margin-bottom:.0001pt;</p>
<p>mso-pagination:widow-orphan;</p>
<p>font-size:10.0pt;</p>
<p>font-family:"Times New Roman";</p>
<p>mso-ansi-language:#0400;</p>
<p>mso-fareast-language:#0400;</p>
<p>mso-bidi-language:#0400;}</p>
</style>
<p><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style> /* Style Definitions */</p>
<p>table.MsoNormalTable</p>
<p>{mso-style-name:"Table Normal";</p>
<p>mso-tstyle-rowband-size:0;</p>
<p>mso-tstyle-colband-size:0;</p>
<p>mso-style-noshow:yes;</p>
<p>mso-style-parent:"";</p>
<p>mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;</p>
<p>mso-para-margin:0cm;</p>
<p>mso-para-margin-bottom:.0001pt;</p>
<p>mso-pagination:widow-orphan;</p>
<p>font-size:10.0pt;</p>
<p>font-family:"Times New Roman";</p>
<p>mso-ansi-language:#0400;</p>
<p>mso-fareast-language:#0400;</p>
<p>mso-bidi-language:#0400;}</p>
</style>
<p><![endif]--></p>
<h5><span style="color: #0000ff;">Buletin Islam <strong>AL ILMU</strong> Edisi: 5/I/VIII/1431</span></h5>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #ff00ff;"><strong>Bertutur Yang Baik dan Berwajah Yang Manis</strong></span></h2>
<p><em></em></p>
<p>Sekedar menampakkan yang berseri-seri serta bertutur yang baik sesungguhnya merupakan perkara ringan. Namun demikian, bagi sebagian besar kita hal itu seolah demikian berkat untuk diperhatikan. Yang memprihatinkan, gejala yang menimpa sebagian para penuntut ilmu agama di mana sikap mereka demikian kaku terhadap orang-orang awam.<span id="more-443"></span></p>
<p>Berjumpa dengan orang lain adalah perkara yang biasa dalam keseharian kita sebagai makhluk sosial. Karena tak mungkin kita hidup menyendiri dari orang lain.Kita butuh saudara, butuh teman, dan kita butuh orang lain. Yang tak biasa alias luar biasa, bila kita dapat mengamalkan tuntunan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em> dan Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> kala berjumpa dan berkata. Kenapa demikian? Karena di zaman kita sekarang, adad-adad islam sudah banyak di tinggalkan oleh kaum muslimin. Mungkin karena kebodohan ataupun ketidak pedulian mereka.</p>
<p>Adapula yang berdalil dengan tabiat, yakni ada sebagian daerah di negeri kita ini di mana orang-orangnya bertabiat kaku, cuek, dan sok tak peduli. Sehingga bila bertemu dengan orang yang mereka kenal sekalipun, sikap mereka seperti tidak kenal, tak ada kenal, tak ada senyum, tak ada sapaan. Lebih-lebih bila berjumpa dengan orang yang tak mereka kenal walaupun duduk bersama-sama dalam satu majelis. Ibaratnya kalau kita tidak menegur dan menyapa terlebih dahulu, mereka pun tidak akan menegur dan menyapa, benar-benar cuek dan kaku. Orang-orang seperti ini dijumpai sendiri oleh penulis. Awalnya penulis merasa mungkin punya salah terhadap mereka atau ada sikap yang tidak berkenan di hati mereka sehingga mereka berlaku demikian. Tetapi akhirnya penulis mengerti bahwa memang demikian tabiat umumnya mereka yang tinggal di daerah tersebut. <em>Wallahu al-musta&#8217;an.</em></p>
<p>Sesungguhnya Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em> telah memerintahkan kaum muslimin untuk berlaku baik kepada sesamanya, rendahhati kepada saudara dan penuh <em>tawadhu&#8217;.</em> Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em> berfirman kepada Nabi-Nya, (yang artinya):<em></em></p>
<p><em>&#8220;Rendahkanlah sayapmu kepada kaum mukminin&#8221; </em><strong>(Al-Hijr:88)</strong></p>
<p>Maksudnya: bersikap lunaklah terhadap mereka dan perbaiki akhlakmu terhadap mereka karena mencintaimu, memuliakan, dan mengasihi mereka. <strong>(Taisir Al-Karimir Rahman, hal.435)</strong></p>
<p>Dalam ayat lain, Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em> berfirman  (yang artinya):</p>
<p><em>&#8220;Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.&#8221; </em><strong>(Ali &#8216;Imran:159)</strong></p>
<p>Bersikap ramah kepada saudara dan bertutur yang baik jelas merupkan amalan kebaikan, bahkan bila seseorang tidak mendapatkan harta untuk disedekahkannya di jalan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em> maka mengucapkan kalimat yang baik dapat menggantikannya.</p>
<p>&#8216;Adi bin Hatim <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: &#8220;Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ</strong></p>
<p><em>&#8220;Jagalah kalian dari api neraka, walaupun dengan bersedekah sepotong kurma. Namun barangsiapa yang tidak mendapatkan sesuatu yang bisa disedekahkannya, maka dengan (berucap) kata-kata yang baik.&#8221; </em><strong>(HR. Al-Bukhari </strong>no. 1347 dan<strong> Muslim </strong>no.2346<strong>)</strong></p>
<p>Al-Imam An-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Hadits ini menunjukkan bahwa kalimat <em>thayyibah</em> merupakan sesab selamat dari neraka. Yang dimaksud kalimat <em>thayyibah</em> adalah ucapan yang menyenangkan hati seseorang jika ucapan itu mubah atau mengandung ketaatan.&#8221; (<strong>Al-Minhaj</strong>.7/103)</p>
<p>Ibnu Baththal <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Kalimat <em>thayyibah</em> teranggap sebagai sedekah, dari sisi dimana pemberian harta akan membahagiakan hati orang yang menerimanya dan menghilangkan rasa tidak senang dari hatinya. Demikian pula kalimat-kalimat yang baik, maka keduanya (pemberian harta dan ucapan yang baik) serupa dari sisi ini.&#8221; (<strong>Fathul Bari</strong>, 10/551)</p>
<p>Dalam hadits yang lain, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ</strong></p>
<p><em>&#8220;Kata-kata yang baik adalah sedekah.&#8221; </em>(<strong>HR. Al-Bukhari</strong> no.2707 dan <strong>Muslim</strong> no.2332)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> pernah berpesan kepada shahabatnya Abu Dzar Al-Ghifari <em>radhiyallahu ‘anhu</em>:<em></em></p>
<p style="text-align: right;"><strong>لاَ تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ</strong></p>
<p><em>&#8220;Jangan sekali-kali engkau meremehkan perkara kebaikan walaupun hanya berwajah cerah ketika engkau bertemu dengan saudaramu.&#8221; </em>(<strong>HR. Muslim</strong> no.6633)</p>
<p>Hadits di atas diberi judul oleh Al-Imam An-Nawawi <em>rahimahullah</em> dalam syarahnya terhadap <strong>Shahih Muslim</strong>: &#8220;Disenanginya berwajah cerah ketika bertemu.&#8221;</p>
<p>Al-Qadhi Iyadh <em>rahimahullah</em> berkata,&#8221;Hadits ini menunjukkan bahwa berwajah cerah/berseri-seri kepada kaum muslimin dan menunjukkan rasa senang kepada mereka merupakan perkara yang terpuji, disyariatkan, dan diberikan pahala bagi pelakunya.&#8221;</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> juga mengatakan, &#8220;Cukuplah bagi kita akhlak Nabi kita <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> dalam hal ini dan sifat beliau yang Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em> sebutkan dalam Al-Qur&#8217;an, dan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em> bersihkan beliau dari sifat yang sebaliknya seperti dalam tersebut dalam firman-Nya (yang artinya):<em> &#8220;Sekiranya engkau bersikap keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.&#8221;</em> <strong>(Ali &#8216;Imran:159) [Ikmalul Mu&#8217;allim bi Fawa&#8217;id Muslim,</strong> 8/106<strong>]</strong></p>
<p>Masih dalam hadits yang disampaikan oleh Abu Dzar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> bersabda: <em>&#8220;Senyumanmu di wajah saudaramu (seagama) adalah sedekah.&#8221; </em>(<strong>HR. At-Tirmidzi</strong> no.1956, dishahihkan Asy-Syaikh Albani dalam <strong>Shahih Sunan At-Tirmidzi </strong>dan <strong>Ash-Shahihah</strong> no.572)</p>
<p>Maksud hadits di atas, engkau menampakkan wajah cerah, berseri-seri dan penuh senyuman ketika bertemu dengan saudaramu akan dibalas dengan pahala sebagaimana engkau diberi pahala karena mengeluarkan sedekah. (<strong>Tuhfatul Ahwadzi,</strong> kitab <em>Al-Birr wash Shilah</em>, bab <em>Ma Ja&#8217;a fi Shana&#8217;I Al-Ma&#8217;ruf,</em> ketika membahas hadits diatas)</p>
<p>Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, &#8220;Sepantasnya ketika seseorang bertemu saudaranya ia menunjukkan rasa senang dan menampakkan wajah yang manis/cerah serta bertutur kata yang baik, karena yang demikian ini merupakan akhlak Nabi. Tentunya, sikap seperti ini tidak merendahkan martabat seseorang bahkan justru mengangkatnya. Ia pun mendapatkan pahala di sisi Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em> dan mengikuti Sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Karena beliau selalu cerah wajahnya, tidak kusut ketika bertemu orang lain dan beliau banyak melempar senyuman. Karena, itu sepantasnya seseorang berjumpa saudaranya dengan wajah yang cerah dan mengucapkan ucapan yang baik. Sehingga dengannya ia dapat meraih pahala, rasa cinta dan kedekatan hati, disamping jauh dari sikap takabbur dan merasa tinggi dari hamba-hamba Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em> yang lain. (<strong>Syarhu Riyadhis Shalihin, </strong>2/500)</p>
<p>Sungguh wajah yang cemberut ataupun tanpa ekspresi, dingin dan kaku, tidak pantas diberikan kepada sesama muslim, karena hal itu yang menyelisihi apa yang dititahkan oleh Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em> dan Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Yang seperti itu seharusnya ditujukan kepada orang-orang kafir dan munafiq karena Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em> berfirman (yang artinya):</p>
<p><em>&#8220;Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik serta bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat kembali mereka adalah jahannam sebagai sejelek-jelek tempat kembali.&#8221;</em> <strong>(At-Taubah:73)</strong></p>
<p>Meskipun begitu, bila si orang kafir diharapkan mau masuk Islam, kita sepantasnya menampakkan wajah yang manis ketika berjumpa. Namun bila sikap baik kita ini justru menambah kesombongannya dan merasa tinggi daripada kaum muslimin, maka wajah cerah tidak boleh diberikan kepadanya. (<strong>Syarhu Riyadhis Shalihin,</strong> 2/500-501)</p>
<p>Asy-Syaikh Al-&#8217;Utsaimin <em>rahimahullah</em> juga menyatakan, &#8220;Wajah yang cerah/manis termasuk perkara kebaikan, karena akan memasukkan kebahagiaan pada saudaramu dan melapangkan dadanya. Kemudian bila dengan tutur kata yang baik, akan tercapai dua mashlahat, yaitu wajah yang berseri-seri dan tutur kata yang baik. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> menyatakan dalam sabdanya:</p>
<p><em>&#8220;Takutlah kalian dari api neraka, walaupun dengan bersedekah sepotong kurma.&#8221;</em> Maksudnya jadikanlah pelindung antara kalian dan neraka walaupun kalian bersedekah hanya dengan sepotong kurma. Karena, hal itu akan dapat melindungimu dari neraka jika memang Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em> menerima sedekah tersebut.</p>
<p>Namun jika kalian tidak mendapatkan sesuatupun yang dapat kalian sedekahkan, maka ucapkan kata-kata yang baik ketika berjumpa dengan saudara seiman. Misalnya engkau berkata kepadanya,</p>
<p>&#8220;Bagaimana kabarmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana keadaanmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana kabar saudara-saudaramu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana dengan keluargamu?&#8221;</p>
<p>dan yang semisalnya. Karena kalimat-kalimat seperti ini akan meresapkan kebahagiaan di hati saudaramu. Setiap kata-kata yang baik adalah sedekah di sisi Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em>. Dengannya akan diperoleh ganjaran dan pahala. Sungguh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> telah bersabda: &#8220;<em>Kebaikan itu adalah akhlak yang mulia</em>.&#8221; Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> juga besabda: &#8220;<em>Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka</em>.&#8221; (<strong>Syarhu Riyadhis Shalihin</strong>, 2/501)</p>
<p><em>Wallahu ta&#8217;ala a&#8217;lam bish-shawab.</em></p>
<p><strong>Tulisan Ayat Al-Qur`an atau Basmalah</strong></p>
<p><strong>Tanya:</strong><br />
ِSebagian orang menuliskan ayat Al-Qur`an atau ucapan bismillahir rahmanir rahim di kartu undangan pernikahan atau yang lainnya. Padahal kartu ini bisa saja dibuang di tempat sampah setelah dibaca, terinjak, atau menjadi mainan anak kecil. Lalu apa nasihat anda dalam hal ini?</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz <em>rahimahullah</em> menjawab:</p>
<p>&#8220;Si penulis telah melakukan perkara yang disyariatkan yakni menuliskan ucapan tasmiyah (bismillah). Bila ia menyebutkan ayat Al-Qur`an yang sesuai di kartu/surat undangan tersebut maka tidak menjadi masalah. Orang yang menerima kartu/surat undangan tersebut wajib untuk memuliakannya, karena di dalamnya ada ayat-ayat Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala </em>. Jangan dibuang di tempat sampah atau di tempat hina lainnya. Kalau sampai kartu/surat undangan bertuliskan ayat Al-Qur`an itu ia hinakan, maka ia berdosa. Adapun si penulisnya tidaklah berdosa. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em> sendiri memerintahkan sahabatnya untuk menuliskan ‘Bismillahir rahmanir rahim&#8217; pada surat-surat yang beliau kirimkan. Dan terkadang beliau memerintahkan untuk menulis beberapa ayat Al-Qur`an dalam surat tersebut.</p>
<p>Dengan demikian, orang yang menulis hendaklah menuliskan tasmiyah sesuai dengan yang disyariatkan, dan ia menyebutkan beberapa ayat berikut hadits-hadits ketika dibutuhkan. Sedangkan orang yang menghinakan tulisan tersebut atau surat tersebut, ia berdosa. Semestinya ia menjaganya, atau bila ingin membuangnya (karena sudah tidak terpakai) hendaknya ia bakar atau dipendam. Bila dibuang begitu saja di tempat sampah, menjadi mainan anak-anak, menjadi pembungkus barang atau yang semisalnya, ini tidaklah diperbolehkan.</p>
<p>Sebagian orang menjadikan surat kabar dan lembaran (yang di dalamnya ada ucapan basmalah atau ayat-ayat Al-Qur`an) sebagai alas untuk makanan atau pembungkus barang yang dibawa ke rumah. Semua ini tidak diperbolehkan karena ada unsur penghinaan terhadap surat kabar/majalah/lembaran tersebut sementara di dalamnya tertulis ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>. Semestinya lembaran tersebut disimpan di perpustakaannya, atau di tempat mana saja, dibakar atau dipendam di tempat yang baik. Demikian pula mushaf Al-Qur`an bila telah sobek tidak bisa lagi digunakan, maka mushaf tersebut dipendam di tanah yang bersih atau dibakar, sebagaimana dahulu ‘Utsman bin ‘Affan <em>radhiyallahu ‘anhu</em> membakar mushaf-mushaf yang tidak lagi diperlukan.</p>
<p>Kebanyakan manusia tidak memerhatikan perkara ini, sehingga harus diberi peringatan. Sekali lagi untuk diingat, lembaran dan surat-surat (yang ada ayat Al-Qur`an) yang tidak lagi dibutuhkan, hendaknya dipendam dalam tanah yang bersih atau dibakar. Tidak boleh digunakan sebagai pembungkus barang atau yang lainnya, dijadikan alas makan, atau dibuang di tempat sampah. Semuanya ini merupakan kemungkaran yang harus dicegah.<em> Wallahul musta&#8217;an</em>.&#8221;</p>
<p><strong>(<em>Fatawa Nurun ‘alad Darb, hal. 389-390</em>)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=443</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Membongkar kuburan muslimin atau kuburan orang-orang kafir</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=442</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=442#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 00:21:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Fatawa]]></category>

		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[ 
Bolehkah Membongkar Kuburan Muslimin atau Kuburan Orang-Orang Kafir?
Jawab:
Fatwa Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu
Dalam hal ini tentunya ada perbedaan antara kuburan orang-orang Islam dan kuburan orang-orang kafir. Membongkar kuburan muslimin adalah tidak diperbolehkan kecuali setelah lumat dan menjadi hancur. Hal itu dikarenakan membongkar kuburan tersebut menyebabkan koyak/pecahnya jasad mayit dan tulangnya, sementara Nabi Shallallahu &#8216;alaihi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<style>
<p>st1\:*{behavior:url(#ieooui) }</p>
</style>
<p> <![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<style>
<p> /* Style Definitions */</p>
<p> table.MsoNormalTable</p>
<p>	{mso-style-name:"Table Normal";</p>
<p>	mso-tstyle-rowband-size:0;</p>
<p>	mso-tstyle-colband-size:0;</p>
<p>	mso-style-noshow:yes;</p>
<p>	mso-style-parent:"";</p>
<p>	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;</p>
<p>	mso-para-margin:0cm;</p>
<p>	mso-para-margin-bottom:.0001pt;</p>
<p>	mso-pagination:widow-orphan;</p>
<p>	font-size:10.0pt;</p>
<p>	font-family:"Times New Roman";</p>
<p>	mso-ansi-language:#0400;</p>
<p>	mso-fareast-language:#0400;</p>
<p>	mso-bidi-language:#0400;}</p>
</style>
<p> <![endif]--></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #339966;">Bolehkah Membongkar Kuburan Muslimin atau Kuburan Orang-Orang Kafir?</span></h2>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><strong>Fatwa Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu</strong></p>
<p>Dalam hal ini tentunya ada perbedaan antara kuburan orang-orang Islam dan kuburan orang-orang kafir. Membongkar kuburan muslimin adalah tidak diperbolehkan kecuali setelah lumat dan menjadi hancur. Hal itu dikarenakan membongkar kuburan tersebut menyebabkan koyak/pecahnya jasad mayit dan tulangnya, sementara Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengatakan:</p>
<p style="text-align: right;">كَسْرُ عَظْمِ الَْـمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا</p>
<p>&#8220;Mematahkan tulang mayit seperti mematahkannya ketika hidup.&#8221;<a name="_ftnref1" href="#_ftn1">[1]<span id="more-442"></span></a></p>
<p>Maka seorang mukmin tetap terhormat setelah kematiannya sebagaimana terhormat ketika hidupnya. Terhormat di sini tentunya dalam batasan-batasan syariat.<br />
Adapun tentang membongkar kuburan orang-orang kafir, maka mereka tidak memiliki kehormatan semacam ini sehingga diperbolehkan membongkarnya berdasarkan apa yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim. Bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika berhijrah dari Makkah ke Madinah, awal mula yang beliau lakukan adalah membangun Masjid Nabawi yang ada sekarang ini. Dahulu di sana ada kebun milik anak yatim dari kalangan Anshar dan di dalamnya terdapat kuburan orang-orang musyrik. Maka Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka:</p>
<p style="text-align: right;">ثَامِنُونِي حَائِطَكُمْ</p>
<p>&#8220;Hargailah kebun kalian untukku.&#8221;</p>
<p>Yakni, juallah kebun kalian untukku. Mereka menjawab: &#8220;Itu adalah untuk Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan Rasul-Nya. Kami tidak menginginkan hasil penjualan darinya.&#8221;<br />
Karena di situ terdapat reruntuhan dan kuburan musyrikin, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun memerintahkan agar kuburan musyrikin tersebut dibereskan. Maka (dibongkar) dan diratakanlah, serta beliau memerintahkan agar reruntuhan itu dibereskan untuk selanjutnya diruntuhkan. Lalu beliau mendirikan Masjid Nabawi di atas tanah kebun tersebut.</p>
<p>Jadi, membongkar kuburan itu ada dua macam: untuk kuburan muslimin tidak boleh, sementara kuburan orang-orang kafir diperbolehkan.</p>
<p>Saya telah isyaratkan dalam jawaban ini bahwa hal itu tidak boleh hingga mayat tersebut menjadi tulang belulang yang hancur, menjadi tanah. Kapan ini? Ini dibedakan berdasarkan perbedaan kondisi tanah. Ada tanah padang pasir yang kering di mana mayat tetap utuh di dalamnya -masya Allah- sampai sekian tahun. Ada pula tanah yang lembab yang jasad cepat hancur. Sehingga tidak mungkin meletakkan patokan untuk menentukan dengan tahun tertentu untuk mengetahui hancurnya jasad. Dan sebagaimana diistilahkan &#8220;orang Makkah lebih mengerti tentang lembah-lembahnya di sana&#8221; maka orang-orang yang mengubur di tanah tersebut (lebih) mengetahui waktu yang dengannya jasad-jasad mayat itu hancur dengan perkiraan. (Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani hal. 53)</p>
<p><strong>Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah</strong></p>
<p>Pada asalnya tidak boleh membongkar kubur mayit serta mengeluarkan mayit darinya. Karena bila mayit telah diletakkan dalam kuburnya, artinya dia telah menempati tempat singgahnya serta mendahului yang lain ke tempat tersebut. Sehingga tanah kubur tersebut adalah wakaf untuknya. Tidak boleh seorangpun mengusiknya atau mencampuri urusan tanah tersebut. Juga karena membongkar kuburan itu menyebabkan mematahkan tulang belulang mayit atau menghinakannya. Dan telah lewat larangan akan hal itu pada jawaban pertanyaan pertama.</p>
<p>Hanyalah diperbolehkan membongkar kuburan mayit itu dan mengeluarkan mayit darinya, bila keadaan mendesak menuntut itu, atau ada maslahat Islami yang kuat yang ditetapkan para ulama.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala-lah yang memberi taufiq semoga shalawat dan salam-Nya tercurah atas Nabi kita Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya.</p>
<p>Ditandatangani oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Asy-Syaikh Abdullah Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Qu&#8217;ud. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 9/122)</p>
<p><strong>Sumber: <a href="http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=664">http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=664</a></strong></p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Shahih, HR. Ahmad (6/58, 105, 168, 200, 364) Abu Dawud (3207) Ibnu Majah (1616) dan yang lain. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani, lihat Irwa`ul Ghalil: 763, Ahkamul Jana`iz, hal. 233.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=442</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dengan Empat Perkara Ini, Engkau Akan Terhindar dari Kerugian</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=441</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=441#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 04:23:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Akhlaq/Adab]]></category>

		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[Dengan Empat Perkara Ini, Engkau Akan Terhindar dari Kerugian &#8230;
(Taushiyah khusus Al-Ustadz Ruwaifi&#8217; bin Sulaimi bagi thullab baru Ma&#8217;had As-Salafy Jember tahun 1431 H)
Sebagaimana yang telah diprogramkan bahwa pada akhir bulan Muharram 1431 ini, Ma&#8217;had As-Salafy Jember membuka pendaftaran thullab baru untuk program i&#8217;dady. Dan alhamdulillah, thullab yang diterima sekarang sudah mulai menempuh pendidikan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #ff00ff;"><strong>Dengan Empat Perkara Ini, Engkau Akan Terhindar dari Kerugian &#8230;</strong></span></h2>
<h3>(Taushiyah khusus Al-Ustadz Ruwaifi&#8217; bin Sulaimi bagi thullab baru Ma&#8217;had As-Salafy Jember tahun 1431 H)</h3>
<p>Sebagaimana yang telah diprogramkan bahwa pada akhir bulan Muharram 1431 ini, Ma&#8217;had As-Salafy Jember membuka pendaftaran thullab baru untuk program i&#8217;dady. Dan alhamdulillah, thullab yang diterima sekarang sudah mulai menempuh pendidikan di ma&#8217;had ini dengan mengikuti <em>durus</em> (pelajaran-pelajaran) yang sesuai dengan program mereka, di antaranya pelajaran tajwid / qira&#8217;ah, bahasa Arab (Kitab Durusullughah Al-‘Arabiyyah), aqidah (Kitab Tsalatsatul Ushul), akhlak (Kitab Al-Arba&#8217;in An-Nawawiyyah), at-targhib wat-tarhib (Kitabul ‘Ilmi). Di samping durus tersebut, mereka juga diwajibkan untuk mengikuti dars (pelajaran) umum yang disampaikan oleh Al-Ustadz Luqman Ba&#8217;abduh setiap ba&#8217;da maghrib, dan saat ini beliau sedang mengajarkan Kitab Syarhus Sunnah karya Al-Imam Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Ali Al-Barbahari <em>rahimahullah</em>. Sedangkan untuk muraja&#8217;ah durus yang mereka ikuti, dibuka juga halaqah-halaqah muraja&#8217;ah yang juga sangat bermanfaat untuk menunjang proses pendidikan ini.<span id="more-441"></span></p>
<p>Seperti biasa, setiap thullab baru yang datang di Ma&#8217;had As-Salafy Jember, diadakan taushiyah khusus untuk membuka dan memantapkan semangat mereka dalam belajar. Pada kesempatan kali ini, Al-Ustadz Ruwaifi&#8217; yang memberikan taushiyah tersebut. Dan berikut ini catatan dari taushiyah beliau. Sengaja kami tampilkan di situs ini agar faidahnya bisa diambil dan dirasakan oleh salafiyin khususnya dan kaum muslimin pada umumnya.</p>
<p style="text-align: right;">إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.</p>
<p style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.</p>
<p style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.</p>
<p style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.</p>
<p style="text-align: right;">أما بعد،</p>
<p style="text-align: right;">فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.</p>
<p>Alhamdulillah, Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> telah memberikan kekuatan kepada kita untuk hadir di masjid -tempat yang mulia ini- dalam rangka <em>tawashi bil haq wa tawashi bish shabr</em> (saling memberi wasiat dengan kebenaran dan saling memberi wasiat dengan kesabaran), karena sungguh bahagia ketika kehidupan ini senantiasa diiringi dengan sikap saling menasehati dan saling memberikan wasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Siapapun dari kita tidak ada yang sempurna, pasti banyak kekurangan dan kelemahan. Pasti dalam hidup ini selalu terjatuh ke dalam kesalahan. Maka ketika kesalahan-kesalahan, kekeliruan, dan kekurangan-kekurangan tersebut tidak ada yang membenahi, memperbaiki, dan meluruskan, maka tentu kita tidak akan menjadi baik.</p>
<p>Taushiyah dalam bahasa Arab maknanya adalah <em>&#8216;nasehat yang ditekankan&#8217;</em>. Pada kesempatan kali ini, saya akan memberikan taushiyah terkhusus bagi thullab i&#8217;dady yang baru masuk dan juga untuk semua thullab yang hadir di sini.</p>
<p>Kita hidup di dunia ini tidaklah hidup begitu saja. Kita semua diberikan kesempatan hidup oleh Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> dalam keadaan tidak tahu sampai kapan Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> memberikan kesempatan ini kepada kita. Kita semua sebagai umat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> dan sebagai hamba Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> dalam menjalani kehidupan ini hendaknya benar-benar mempunyai rambu-rambu atau target dan juga prinsip yang harus dijalani. Setiap muslim harus meyakini bahwa hidup ini adalah dalam rangka untuk beribadah dan bertaqarrub hanya kepada Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>. Dan ini adalah tujuan utama diciptakannya manusia, yaitu untuk beribadah dan bertaqarrub hanya kepada Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>.</p>
<p style="text-align: right;">وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.</p>
<p><em>&#8220;Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah hanya kepada-Ku.&#8221;</em> (<strong>Adz-Dzariyat: 56</strong>)</p>
<p>Hidup kita ini bukanlah untuk sesuatu yang sia-sia belaka, bahkan untuk beribadah hanya kepada Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>. Ada 4 (empat) perkara yang jika diamalkan dengan sebaik-baiknya akan teraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.</p>
<p>Empat perkara tersebut adalah: <strong>(1) al-&#8217;ilmu, (2) al-&#8217;amal bihi, (3) ad-da&#8217;wah fil &#8216;ilmi, dan (4) ash-shabr (bersabar) atas gangguan yang ada di dalamnya. </strong></p>
<p><strong><span style="color: #ff6600;">Perkara Pertama: Al-&#8217;Ilmu.</span> </strong></p>
<p>Maksud ilmu di sini adalah ilmu syar&#8217;i yang dibawa oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>. ilmu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> kepada para shahabatnya dan para shahabat beliau menyampaikan ilmu tersebut kepada generasi setelahnya, dan seterusnya. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله به طريقا إلى الجنة.</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya dengan menuntut ilmu tersebut jalan menuju jannah Allah.&#8221;</em> (<strong>Muttafaqun &#8216;Alaihi</strong>, dari shahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>)</p>
<p>Dengan ilmu, seseorang akan dimudahkan oleh Allah <em>ta&#8217;ala</em> jalannya menuju Al-Jannah. Ilmu inilah yang Allah <em>&#8216;azza wajalla</em> jadikan sebagai tanda kebaikan bagi seseorang, di mana Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> jika berkehendak untuk memberikan kebaikan kepada seseorang, maka Dia akan memberikan kepahaman kepada orang tersebut tentang ilmu syari&#8217;at / agama ini, sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>:</p>
<p style="text-align: right;">من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين.</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan pahamkan dia terhadap agama ini.&#8221; </em>(<strong>Muttafaqun &#8216;Alaihi</strong>, dari shahabat Mu&#8217;awiyah bin Abi Sufyan <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em>)</p>
<p>Oleh karena itu, sesungguhnya ilmu itu tidak bisa diremehkan atau dianggap ringan. Dengan ilmu pula, seseorang akan terbimbing dalam langkah kehidupannya, dan terarah tingkah lakunya karena dia senantiasa berupaya untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan apa yang diwariskan oleh Allah <em>&#8216;azza wajalla</em>.</p>
<p>Namun perlu diketahui bahwa ilmu itu tidak bisa didapat begitu saja. Ilmu itu didapat dengan <em>ta&#8217;allum</em> dan <em>tafaqquh</em>, yaitu berupaya untuk mempelajari dan memahaminya.</p>
<p>Kalau kita lihat sejarah para shahabat, maka sejarah mereka merupakan teladan terbaik bagi kita dalam menuntut ilmu. Seiring dengan kesibukan mereka berperang, mencari ma&#8217;isyah, dan lain-lain, mereka tetap bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, bahkan sebagian mereka juga menimba ilmu dari sebagian shahabat yang lain, terutama para shahabat <em>ash-shighar</em> (yang muda) menuntut ilmu kepada para shahabat <em>al-kibar</em> (yang senior) yang masih mereka jumpai. Kehidupan mereka diwarnai dengan ilmu, ta&#8217;allum, dan tafaqquh. Dari sinilah Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> berikan kepada mereka petunjuk di dalam meniti kehidupan mereka.</p>
<p>Ilmu harus diimbangi dengan kesabaran. Ada seseorang yang ketika datang masa rajinnya, dia belajar dan menghafal terus-menerus, namun ketika datang masa <em>fatrah</em> (malas), bisa jadi dia putus asa bahkan tidak lagi menuntut ilmu. Karena tidak diimbangi dengan kesabaran. Al-Imam Yahya bin Abi Katsir Al-Yamami <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p style="text-align: right;">لا يستطاع العلم براحة الجسد.</p>
<p><em>&#8220;Ilmu itu tidak bisa diraih dengan santai-santai saja.&#8221; </em></p>
<p>Maka orang yang hendak meraih ilmu, dia harus mempersiapkan diri untuk bersungguh-sungguh dalam menuntutnya, serta bersabar di atas gangguan yang ada. Bersungguh-sungguh dalam menghafal, mencatat, menulis <em>fawa`id</em> (faidah-faidah ilmiah), dan memahami pelajaran. Orang yang bersungguh-sungguh saja terkadang tidak berhasil, apalagi yang tidak bersungguh-sungguh. Datang ke ma&#8217;had semata-mata ingin mendapatkan lingkungan yang baik, atau datang ke ma&#8217;had semata-mata ingin mendapat <em>siraman qalbu</em>. Tentu ini adalah sesuatu yang bagus, tetapi bukan hanya itu saja tujuan seseorang datang ke ma&#8217;had, dia harus berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendapatkan faidah ilmiah. Karena mungkin ada sebagian di antara kita yang datang ke ma&#8217;had dengan biaya orang tua yang terbatas, usia yang sudah lanjut, terburu ingin menikah, dan lain-lain. Oleh karena itu kesungguhan dalam menuntut ilmu itu harus dijadikan prinsip. Berapa banyak orang yang hadir di majelis ilmu tetapi tidak mendapatkan faidah karena tidak ada kesungguhan. Pikirannya tidak konsentrasi. Kalaupun Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> memberi dia kecerdasan sehingga mampu memahami, menerima, dan mendapatkan beberapa faidah ilmiah, namun <em>barakatul &#8216;ilmi</em> (barakah dari sebuah ilmu)-nya tidak didapatkannya. Barakah itu adalah kebaikan yang berkesinambungan.</p>
<p>Berbeda dengan orang yang bersungguh-sungguh, dia mendapatkan ilmu dan barakahnya di majelis ilmu tersebut sehingga ilmunya bermanfaat dan dia mendapatkan kebaikan yang terus berkesinambungan insya Allah.</p>
<p>Menuntut ilmu harus disertai dengan adab-adab di dalam menuntutnya agar ketika menuntut ilmu benar-benar di atas kemantapan. Seseorang harus merasa bahwa jalan yang dia tempuh ini merupakan jalan menuju kebahagiaan, sebuah jalan yang bisa mengantarkan dia kepada <em>Jannatullah</em>. Berbeda dengan orang yang kurang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, kurang memahami tentang pentingnya ilmu dan keutamaan ulama di sisi Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> dan makhluk-Nya, serta kurang memahami adab-adab dalam menuntut ilmu, maka akan mudah goyah pendiriannya, misalnya ketika muncul masalah seperti ketidakcocokan dengan temannya atau dengan pelajarannya, atau memiliki kecenderungan untuk tergesa-gesa dalam menuntut ilmu, maka dia akan pindah-pindah ma&#8217;had, akhirnya tidak mendapatkan ilmu yang kokoh.</p>
<p>Seseorang tidak akan bisa bahagia, atau beribadah dengan sebaik-baiknya, serta bermuamalah sesuai dengan syari&#8217;at jika tanpa berbekal dengan ilmu. Sehingga ilmu merupakan kebutuhan.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Perkara Kedua: Al-&#8217;Amalu Bihi </strong></span></p>
<p>Yakni beramal dengan ilmu tersebut. Inilah di antara barakah dari sebuah ilmu yang dipelajari oleh seseorang. Kebaikan dari ilmu itu akan tampak dalam keseharian seseorang yang mempelajarinya, apakah dia bisa mengamalkannya ataukah tidak.</p>
<p>Dan mengamalkan ilmu itu tidak sebatas pada hal-hal yang sifatnya <em>zhahir</em> (tampak) saja. Seperti melakukan wudhu&#8217;, shalat, dan berpakaian, ini semua bisa diamalkan sesuai dengan sunnah menurut ilmu yang sudah dia pelajari, atau menjaga kondisi tubuh yang sesuai dengan sunnah, seperti memelihara jenggot dan sebagainya, ini juga bisa diamalkan sesuai dengan ilmu yang dia ketahui, dan yang lainnya dari bentuk pengamalan secara zhahir. Ini semuanya bagus dan merupakan bagian dari pengamalan ilmu.</p>
<p>Namun yang juga tidak bisa diremehkan adalah pengamalan ilmu pada hal-hal yang bersifat <em>bathin</em> (tidak tampak) atau yang berkaitan dengan <em>qalbu</em> (hati), maksudnya adalah apakah ilmu yang telah dipelajari itu bisa mewarnai qalbunya ataukah belum. Yang tadinya senantiasa mempunyai sifat hasad, apakah dengan ilmu yang dipelajarinya itu kemudian bisa mengubah diri dari sifat hasad tersebut ataukah tidak. Atau yang sebelumnya memiliki sifat kikir dan sombong -apakah dalam bentuk melecehkan manusia atau dengan bentuk menolak kebenaran ketika disampaikan kepadanya-, <em>su&#8217;uzhzhan</em> (mudah berburuk sangka), apakah ilmu yang sudah didapat itu bisa mengubah bathinnya dari penyakit-penyakit qalbunya tadi ataukah belum. Apakah ilmu yang telah dipelajarinya bisa menumbuhkan sikap <em>al-khasyyah</em>, <em>al-khusyu&#8217;</em>, <em>at-tawadhu&#8217;</em>, dan yang lainnya dari sifat-sifat mulia ataukah belum.</p>
<p>Terkadang seseorang itu ketika menuntut ilmu dan mengamalkannya, yang diperhatikan hanya sebatas hal-hal yang sifatnya <em>zhahir</em> saja. Ini belum cukup. Justru ada yang lebih penting dari itu, yaitu yang terkait dengan bathinnya dan yang tersimpan dalam qalbunya, yang dinyatakan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>:</p>
<p style="text-align: right;">إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب ألا وهي القلب ألا وهي القلب.</p>
<p><em>&#8220;Ketika qalbu itu baik maka seluruh anggota tubuhnya menjadi baik, namun ketika rusak qalbunya, maka menjadi rusak pula anggota tubuhnya. Ingatlah sesuatu itu adalah qalbu, ingatlah sesuatu itu adalah qalbu, ingatlah sesuatu itu adalah qalbu.&#8221; </em>(<strong>Muttafaqun &#8216;Alaihi</strong>, dari shahabat An-Nu&#8217;man bin Basyir <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>)</p>
<p>Terkadang kita dapati orang-orang yang secara ilmu sudah tinggi dan secara zhahir sudah tampak <em>himmatus sunnah</em> (semangat untuk berpegang dengan sunnah) pada dirinya, tetapi mengapa masih saja memiliki sifat rakus harta? Mengapa masih saja berkelit-kelit ketika diingatkan tentang suatu kebenaran? Atau lari dari al-haq? Dan merendahkan orang-orang yang mengingatkannya? Sebabnya di sini adalah pengamalan ilmu secara bathin belum dilakukan secara maksimal. Dan ini jarang sekali orang yang memperhatikannya.</p>
<p>Dan terkadang pula kita dapati yang lain, secara zhahir terlihat dia sudah belajar sekian tahun di ma&#8217;had, tetapi ternyata masih mudah untuk berburuk sangka, atau mudah membenci tanpa sebab tertentu. Ketika diperhatikan ternyata disebabkan karena hasad, atau sifat <em>kibr</em> (sombong) yang masih melekat pada dirinya. Ini berarti ketika masa-masa belajar, atau ketika masanya menuntut ilmu kurang memperhatikan sisi <em>tazkiyatun nufus</em> ini pada dirinya. Dan sesungguhnya ini merupakan sisi yang sangat penting bagi <em>thalabatul &#8216;ilmi</em> (para penuntut ilmu) yang diridhai Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>. Walaupun ilmunya setinggi langit, kalau jiwanya rusak maka dia akan menjadi seorang yang tidak bermanfaat bagi umat, walaupun telah lama belajar di ma&#8217;had atau bahkan belajar di hadapan masyayikh. Ini semua disebabkan dia tidak memperhatikan sisi amalan bathin yang sangat penting ini.</p>
<p>Beramal dengan ilmu, di samping secara zhahir dan bathin sebagaimana yang telah disebutkan di atas, juga yang harus diperhatikan adalah permasalahan lisan. Menggunakan lisan ini juga perlu diterapkan ilmu padanya, sehingga akan terbedakan antara seorang thalibul &#8216;ilmi dengan seorang yang bukan thalibul &#8216;ilmi, terbedakan lisan seorang da&#8217;i dengan lisan orang pasar. Tidak berbicara kecuali kata-katanya dipertimbangkan, tutur katanya sesuai dengan adab dan akhlak yang mulia. Ini semua membutuhkan <em>mujahadah</em> (kesungguhan) dari kita. Maka beramal dengan ilmu merupakan sesuatu yang penting dalam hidup ini dan sekali lagi, tidak sebatas pengamalan secara zhahir saja, akan tetapi juga tidak kalah pentingnya adalah pengamalan ilmu dalam hal bathin dan juga pengamalan ilmu terkait dengan lisan. Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.</p>
<p><em>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah oleh kalian kata-kata yang lurus / baik, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kalian. Dan Allah akan ampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia akan mendapatkan kesuksesan yang besar.&#8221; </em>(<strong>Al-Ahzab: 70-71</strong>)</p>
<p>Menjaga lisan adalah termasuk bentuk sikap menjaga ketaatan kepada Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> dan Rasul-Nya <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>yang akan mengantarkan seseorang kepada kesuksesan yang besar. Penjagaan lisan yang merupakan bagian dari penerapan ilmu juga akan menjadikan seseorang terbimbing dalam hidupnya, terarahkan amal perbuatannya dan terampuni dosa-dosanya.</p>
<p>Beramal dengan ilmu, khususnya kita yang berada di ma&#8217;had ini, hendaknya yang paling penting dan paling utama adalah kita memperhatikan pribadi dan diri kita terlebih dahulu. Ketika kita mendapatkan ilmu, cobalah kita renungkan bagaimana kemudian upaya kita di dalam mengamalkannya, kita berusaha mengamalkan ilmu itu sebelum mengajak yang lainnya. Dan berikutnya, ketika kita merasa mampu atau bisa mengamalkan ilmu tersebut, jangan kemudian ada pada perasaan kita suatu penilaian buruk terhadap orang yang belum mampu, karena ini akan menimbulkan sifat bangga diri dan merasa bahwa dirinya yang sudah bisa sementara orang lain tidak bisa. Tidak sedikit orang yang jatuh ke dalam sikap seperti ini, merasa dirinya lebih dari yang lainnya.</p>
<p>Adapun ketika kawan kita belum mampu mengamalkannya dan masih kurang dalam penerapan ilmu tersebut, maka yang hendaknya ditempuh adalah saling memberi nasehat dan peringatan agar dia bangkit semangatnya untuk beramal. Jangan merasa bahwa ketika kita mampu mengamalkan ilmu dan menerapkannya, kemudian timbul pada diri kita sikap memvonis bahwa si fulan tidak bisa atau tidak mampu mengamalkan ilmunya. Ini adalah sikap yang berbahaya. Bisa merusak keikhlasan ibadah kita. Ketika mendapati kekurangan pada kawan kita, bukan vonis buruk yang kita voniskan pada dia, tetapi upaya nasehatlah yang penting untuk kita sampaikan kepadanya. Karena posisi kita adalah sama-sama thullab, tugasnya adalah saling menasehati satu terhadap yang lain, bukan tugasnya saling memvonis fulan begini dan begitu. Tugas kita adalah belajar, tugas kita adalah ketika ada kekurangan dan kekeliruan pada suadara kita, untuk <em>at-tawashi bil haq wat tawashi bish shabr</em>, <em>at-tanashuh</em> (saling memberikan nasehat) yang dibangun di atas <em>al-hubbu fillah</em> (kecintaan karena Allah) dan di atas al-ukhuwwah, bukan saling menjatuhkan.</p>
<p>Sikap seperti ini penting untuk diperhatikan, karena terkadang seperti ini menimpa pada orang-orang yang punya kerajinan dalam hal ibadah, rajin dalam belajarnya, dan mempunyai prestasi dalam pelajarannya, terkadang muncul pada dia sifat merendahkan dan memvonis bahwa saudaranya yang memiliki kekurangan tadi tidak mampu untuk mengamalkan ilmunya.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Perkara Ketiga: Ad-Da&#8217;wah Ilaihi</strong>.</span></p>
<p>Yakni berdakwah di jalan Allah. Masing-masing dari kita bisa berposisi sebagai da&#8217;i, mengajak kepada kebaikan, <em>at-tanashuh</em>, dan <em>at-tawashi</em> (saling memberikan wasiat satu sama lain). Apabila hal ini benar-benar dijaga di ma&#8217;had kita ini, maka Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> akan memberi kita barakah dalam keseharian kita, barakah kepada ilmu kita, dan barakah dalam mu&#8217;amalah kita, dan juga ma&#8217;had kita ini. Akan tetapi kalau tidak ada upaya <em>at-tanashuh</em>, dan tidak ada upaya <em>al-amr bil ma&#8217;ruf wan nahyu &#8216;anil munkar</em> dengan cara yang baik, maka barakah itu akan dicabut oleh Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>.</p>
<p>Upaya saling memberikan wasiat dan nasehat ini bisa dalam banyak hal. Mulai terkait dengan pelajaran, sampai terkait dengan keseharian kita. Yang terkait dengan keseharian pun bermacam-macam, contohnya adalah saling menasehati untuk menjaga nikmat Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> yang berupa pakaian, karena ada hamba-hamba Allah <em>&#8216;azza wajalla</em> yang dipersempit rizkinya, sedikit dari pakaian yang mereka miliki. Sedangkan kita, Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> telah memberi kita rizki pakaian, tetapi terkadang kurang kita perhatikan. Pakaian berhamburan dan berserakan tanpa ada yang memperhatikannya. Si pemiliknya pun sudah tidak peduli dengan pakaiannya tadi, padahal pakaian itu masih bagus dan bisa dipakai. Ini adalah bentuk <em>tabdzir</em> terhadap nikmat Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>.</p>
<p>Kalau kita lihat bagaimana sejarah para shahabat Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, sebagian mereka hanya memiliki satu pakaian. Jika pakaiannya sedang dicuci, tidak bisa keluar rumah, karena tidak ada pakaian lain yang bisa dipakai. Bahkan Al-Khalifah Ar-Rasyid &#8216;Umar bin Al-Khaththab <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> ketika memberikan khuthbah kemenangan atas pasukan Nashara di Palestina, pada pakaiannya terdapat bekas sobek yang dijahit dengan tangan. Dan juga Mu&#8217;awiyah bin Abi Sufyan <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> yang saat itu sebagai khalifah, berjalan di pasar Dimasyq dalam keadaan memakai pakaian sobek yang dijahit dengan tangan. Mereka mendapatkan kemuliaan di sisi Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> karena mereka benar-benar menjaga nikmat Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>.</p>
<p style="text-align: right;">لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ.</p>
<p><em>&#8220;Jika kalian bersyukur, maka pasti Aku akan tambahkan nikmat-Ku kepada kalian.&#8221;</em> (<strong>Ibrahim: 7</strong>).</p>
<p>Mereka bersyukur kepada Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>, maka nikmat-nikmat tersebut senantiasa ditambah oleh Allah <em>&#8216;azza wajalla</em>.</p>
<p><em>At-tawashi bil haq dan at-tawashi bish shabr</em> adalah sesuatu yang sangat penting dan merupakan bagian dari dakwah di jalan Allah. Dan tentunya kaidah umum yang terkait dengannya adalah bahwa dakwah itu dibangun di atas ilmu dan bashirah, <em>al-hikmah</em> dan <em>al-mau&#8217;izhah al-hasanah</em>. Karena <em>at-tawashi</em> dan <em>at-tanashuh</em> tersebut merupakan bagian dari dakwah, maka tidak bisa dilepaskan dari kaidah-kaidah tadi.</p>
<p>Jika kita ingin memberikan wasiat, ingin menasehati dan meluruskan saudaranya, maka harus benar-benar dilakukan di atas bashirah tentang apa yang akan disampaikan dan juga ditunaikan di atas asas <em>al-hikmah</em>, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan juga dibangun di atas asas <em>al-mau&#8217;izhah al-hasanah</em>, yaitu memberikan bimbingan yang baik.</p>
<p>Seorang muslim bukanlah orang yang suka mencaci dan yang kotor lisannya. Kata &#8216;Abdullah bin &#8216;Amr bin Al-&#8217;Ash <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em>:</p>
<p style="text-align: right;">لَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا.</p>
<p><em>&#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bukanlah orang yang berbuat keji dan bukan pula orang yang suka berbuat keji.&#8221; </em>(<strong>Muttafaqun &#8216;Alaihi</strong>)</p>
<p>Seorang muslim bukanlah jenis orang yang asal bicara tanpa dipikirkan. Kita berupaya menghidupkan <em>at-tawashi bil haq </em>dan<em> at-tawashi bish shabr</em>, <em>al-amr bil ma&#8217;ruf wan nahyu &#8216;anil munkar</em> di ma&#8217;had ini dengan jangan melupakan prinsip-prinsip tadi, yaitu bimbingan yang baik kepada pihak yang salah serta pengarahan yang sesuai dengan porsi dan tempatnya. Yang tua menyayangi yang muda, memberikan nasehat-nasehat dan arahan-arahan yang dibangun di atas dasar kasih sayang, bukan untuk menjatuhkan. Dan adapun yang muda, ketika mengingatkan yang tua, dibangun atas dasar penghormatan, dengan akhlak, adab, dan sopan santun yang baik di dalam memberikan nasehat atau masukan-masukan tersebut. Tidak asal bicara, mengucapkan kata-kata kotor, dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk dijaga, karena syaithan sangat bersemangat untuk memisahkan seorang mu`min dengan mu`min yang lainnya. Sangat bersemangat untuk mencerai-beraikan ukhuwwah antar kaum muslimin, terlebih lagi antar thullabul &#8216;ilmi.</p>
<p>Ketika di ma&#8217;had sudah berselisih satu dengan yang lainnya, dan tidak memahami pentingnya <em>ishlah</em> dan ukhuwwah, maka akibatnya terus berkelanjutan hingga setelah keluar ma&#8217;had dan menjadi da&#8217;i, masih tersimpan benih-benih perselisihan. Yang satu mempunyai <em>mad&#8217;u</em> dan yang lain juga mempunyai <em>mad&#8217;u</em>, yang akhirnya membangun prinsip <em>al-wala` wal bara`</em>nya tidak lagi di atas jalur yang benar, tetapi masih diiringi dengan permasalahan-permasalahan pribadi, maka hal ini sangat mengkhawatirkan karena akan merusak dakwah ahlus sunnah wal jama&#8217;ah. Sehingga hal ini perlu diperhatikan dengan sebaik-baiknya.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Perkara Keempat: Ash-Shabru &#8216;Alal Adzaa Fiihi </strong></span></p>
<p>Yaitu bersabar ketika mendapatkan rintangan dan gangguan di dalam menjalankan ketiga perkara di atas. Tanpa kesabaran, tidak akan bisa seseorang mendapatkan ilmu dan tidak akan bisa seseorang menjadi &#8216;alim. Para ulama menjadi <em>a&#8217;immah</em> karena memang ketika belajar, mereka benar-benar bersungguh-sungguh dan bersabar, dan yakin bahwa jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang haq.</p>
<p style="text-align: right;">وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يُوقِنُونَ.</p>
<p><em>&#8220;Dan Kami jadikan mereka-mereka itu para pemimpin dalam urusan agama ini, yang membimbing umat manusia dengan apa-apa yang berasal dari Kami, ketika mereka itu bersabar dan mereka termasuk orang-orang yang yakin terhadap ayat-ayat Kami.&#8221; </em>(<strong>As-Sajdah: 24</strong>)</p>
<p>Maka sabar dalam menuntut ilmu ini sangat penting bagi kita. Banyak sekali ujian di dalam menuntut ilmu. Terkadang diuji dengan sakit, kekurangan harta, atau yang lainnya. Diuji dengan mempunyai kawan yang kurang baik, sehingga membuat dia tidak semangat dan malas di dalam belajar. Atau diuji dengan ketidakcocokan terhadap pelajaran, diuji dengan kondisi ustadznya pada pelajaran tertentu, dan setumpuk ujian yang lain. Maka yang bersabar, insya Allah dia yang akan berhasil serta mendapatkan ilmu dengan baik dan barakah.</p>
<p>Kemudian bersabar ketika mengamalkan ilmu. Mengamalkan ilmu itu berat, lebih gampang membaca, mempelajari, dan menghafalnya. Sehingga dibutuhkan kesabaran untuk mengamalkan ilmu tersebut, di samping kesabaran itu disertai dengan do`a. Seorang muslim, apalagi thalibul &#8216;ilmi, hendaknya menjadikan do`a sebagai salah satu dari senjata hidupnya. Permohonan-permohonan kepada Allah <em>&#8216;azza wajalla</em> untuk dimudahkan dari berbagai macam kesulitan, permohonan agar diberi barakah dengan ilmunya tersebut, dan sebagainya. Termasuk berdo`a kepada Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> agar dimudahkan dalam mengamalkan ilmu, dimudahkan dalam berdzikir kepada Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>, bersyukur, dan beribadah kepada-Nya.</p>
<p style="text-align: right;">اللهم أعني على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك.</p>
<p><em>&#8220;Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.&#8221; </em>(<strong>HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa&#8217;i</strong>, dari shahabat Mu&#8217;adz bin Jabal <em>radhiyallahu ‘anhu</em>)</p>
<p>Berikutnya adalah bersabar dalam mendakwahkan ilmu. Misalnya saat memberikan nasehat kapada saudaranya, kemudian tidak didengarkan nasehatnya itu, atau tidak tampak ada perubahan padanya, maka tugas kita adalah menyampaikan nasehat, dan hidayah itu di tangan Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>. Bahkan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> hanya perkenankan bagi beliau <em>hidayatul irsyad</em>, yaitu bimbingan-bimbingan dan pengarahan kepada umat manusia. Adapun <em>hidayatut taufiq</em>, hidayah untuk menerima Islam dan menjalankannya, murni di tangan Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>. Beliau sebatas sebagai orang yang memberikan <em>tadzkir</em> (peringatan).</p>
<p style="text-align: right;">فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ.</p>
<p><em>&#8220;Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.&#8221;</em> (<strong>Al-Ghasyiyah: 21-22</strong>)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> adalah seorang <em>mudzakkir</em>, yaitu pemberi peringatan, bukan <em>mushaithir</em>, yaitu yang menguasai dan memberi hidayah. Maka terlebih kita, ketika menyampaikan nasehat dan arahan kepada kawan-kawan kita, kalau ternyata tidak diamalkan, maka hendaknya kita bersabar. Tugas kita adalah menyampaikan, dan insya Allah kita akan mendapat <em>ajr</em> (pahala) dengan amalan tersebut jika memang dibangun di atas keikhlasan karena Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>.</p>
<p>Inilah empat perkara yang harus benar-benar kita perhatikan dalam hidup ini, yaitu yang pertama adalah ilmu, dan yang terpenting dari ilmu ini adalah <em>ma&#8217;rifatullah</em>, <em>ma&#8217;rifatu nabiyyihi</em>, dan <em>ma&#8217;rifatu diinil islaam bil adillah</em>. Kemudian yang kedua adalah beramal dengan ilmu tersebut. Yang ketiga adalah berdakwah dengan ilmu tersebut. Dan yang keempat adalah bersabar ketika menuntut ilmu, mengamalkan ilmu dan berdakwah dengan ilmu. Keempat perkara ini merupakan kandungan dari surat Al-&#8217;Ashr yang barangsiapa menjalankannya, akan terlepas dari golongan orang-orang yang merugi dalam hidupnya di dunia dan akhirat.</p>
<p style="text-align: right;">وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)</p>
<p><em>&#8220;Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.&#8221;</em> (<strong>Al-‘Ashr: 1-3</strong>)</p>
<p style="text-align: right;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. والحمد لله رب العالمين.</p>
<p><span style="color: #cc99ff;">Ditranskrip oleh tim redaksi assalafy.org dan ditampilkan setelah proses editing.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=441</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kiamat 2012 Dalam Sorotan</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=440</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=440#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 15:50:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[
Buletin Islam AL ILMU Edisi: 4/I/VIII/1431
Kiamat 2012 Dalam Sorotan
Akhir-akhir ini, umat islam dikejutkan oleh ramalan akan datangnya kiamat pada tahun 2012. Beberapa headline pada media masa akhir-akhir ini tak ketinggalan turut meramaikannya. Sejatinya berita ini berasal dari sebuah film yang diangkat dari ramalan bangsa Maya kuno paganis dari Meksiko. Film ini bercerita tentang akan terjadinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style> /* Style Definitions */</p>
<p>table.MsoNormalTable</p>
<p>{mso-style-name:"Table Normal";</p>
<p>mso-tstyle-rowband-size:0;</p>
<p>mso-tstyle-colband-size:0;</p>
<p>mso-style-noshow:yes;</p>
<p>mso-style-parent:"";</p>
<p>mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;</p>
<p>mso-para-margin:0cm;</p>
<p>mso-para-margin-bottom:.0001pt;</p>
<p>mso-pagination:widow-orphan;</p>
<p>font-size:10.0pt;</p>
<p>font-family:"Times New Roman";</p>
<p>mso-ansi-language:#0400;</p>
<p>mso-fareast-language:#0400;</p>
<p>mso-bidi-language:#0400;}</p>
</style>
<p><![endif]--></p>
<h5><span><span style="color: #0000ff;">Buletin Islam <strong>AL ILMU</strong> Edisi: 4/I/VIII/1431</span></span></h5>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #800080;"><strong>Kiamat 2012 Dalam Sorotan</strong></span></h2>
<p>Akhir-akhir ini, umat islam dikejutkan oleh ramalan akan datangnya kiamat pada tahun 2012. Beberapa headline pada media masa akhir-akhir ini tak ketinggalan turut meramaikannya. Sejatinya berita ini berasal dari sebuah film yang diangkat dari ramalan bangsa Maya kuno paganis dari Meksiko. Film ini bercerita tentang akan terjadinya kiamat pada 21 Desember tahun 2012.<span id="more-440"></span> Walaupun sebenarnya ramalan kiamat dari bangsa Maya masih diperselisihkan di kalangan mereka sendiri, ibarat dongeng atau hikayat yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Namun berita ini terlanjur menjadi isu di mana-mana, apalagi film ini laris bak kacang goreng dikunjungi oleh khalayak ramai di gedung-gedung bioskop.</p>
<p>Isu seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Mengingat sebelumnya telah banyak isu-isu seputar kiamat yang dijajakan oleh para paranormal dan tukang ramal.</p>
<p>Masih hangat di ingatan kita ramalan hari kiamat yang terjadi pada tanggal 9 bulan 9 tahun 1999, demikian pula ramalan-ramalan lainnya. Toh, ternyata semua ramalan itu hanyalah dusta dan tidak pernah terbukti.</p>
<p>Walau demikian, tak bisa dipungkiri pengaruh berbagai ramalan tersebut terhadap umat islam. Bahkan diantara mereka ada yang gantung diri (setelah melihat tayangan film 2012 tersebut), di saat masih belum punya bekal untuk menghadapinya.</p>
<p>Bagaimanakah bimbingan islam dalam menyikapi isu tersebut? Bagaimana pula tinjauan syari&#8217;at tentang permasalahan tersebut?</p>
<p><strong>Rahasia Alam Ghaib Hanya Milik Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em></strong></p>
<p>Segala sesuatu yang akan terjadi di kemudian hari termasuk dari alam/ilmu ghaib. Ilmu ghaib merupakan rahasia Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, yang tiada seorang pun sanggup menyingkap tabir rahasia tersebut. Seperti jodoh, karier, bisnis, ajal (kematian), atau seluruh yang akan terjadi di kemudian hari (meliputi peristiwa yang baik ataupun yang buruk), semuanya tersembunyi di alam ghaib, yang tidak ada yang mengetahui kecuali Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. Ini adalah salah satu aqidah atau prinsip seorang muslim. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman (artinya):</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah, &#8220;Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah.&#8221;</em> (<strong>An Naml: 65</strong>)</p>
<p>Dan dalam ayat yang lain Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> menyebutkan (artinya):</p>
<p><em>&#8220;Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya melainkan Dia sendiri.&#8221;</em> (<strong>Al An&#8217;am: 59</strong>)</p>
<p><strong>Malaikat, Manusia, dan Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib</strong></p>
<p>Suatu pengakuan para malaikat bahwa diri mereka tidak mengetahui sesuatu kecuali yang telah Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> ajarkan kepada mereka. Perhatikanlah bagaimana pengakuan mereka sendiri, sebagaimana firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> (artinya):</p>
<p><em>&#8220;Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada malaikat, lalu (Allah) berfirman: &#8220;Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kalian (wahai para malaikat) memang benar!&#8217; mereka menjawab: &#8220;Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.&#8221;</em> (<strong>Al Baqarah: 31-32</strong>)</p>
<p>Begitu pula pengakuan para Nabi, bahwa mereka tidak mengetahui yang ghaib. Nabi Nuh <em>‘alaihis salam</em> berkata, sebagaimana firman Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> (artinya):</p>
<p><em>&#8220;Dan aku tidak mengatakan kepada kalian (bahwa): Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tidak mengetahui yang ghaib.&#8221;</em> (<strong>Hud: 31</strong>)</p>
<p>Demikian pula Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, diperintahkan oleh Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> untuk mengatakan:</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Aku tidak mampu menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tiada lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman</em>.&#8221; (<strong>Al-A&#8217;raf: 188</strong>)</p>
<p>Jika para malaikat yang dekat kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dan para nabi yang merupakan utusan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> tidak mengetahui yang ghaib, maka tentunya manusia secara umum, lebih tidak mengetahui alam ghaib.</p>
<p>Bangsa jin pun, juga tidak mengetahui yang ghaib. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman (artinya):</p>
<p><em>&#8220;Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka tentang kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau seandainya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap berada dalam siksa yang menghinakan (bekerja keras untuk Sulaiman, pen)</em>.&#8221; (<strong>Saba</strong><strong>&#8216;: 14</strong>)</p>
<p>Para pembaca rahimakumullah, kunci-kunci alam ghaib hanya berada di sisi Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Namun, ada beberapa perkara ghaib yang Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> beritakan kepada rasul-Nya. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman (artinya):</p>
<p>&#8220;<em>Dia-lah Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkannya kepada siapa pun kecuali yang Dia ridhai dari kalangan rasul.&#8221;</em> (<strong>Al Jin: 26-27</strong>)</p>
<p>Dalam ayat lain, Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> menjelaskan tentang hal tersebut (artinya):</p>
<p><em>&#8220;Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kalian perkara-perkara ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara para rasul-Nya.&#8221;</em> (<strong>Ali Imran: 179</strong>)</p>
<p>Dengan demikian, kita kaum muslimin wajib meyakini kebenaran berita yang datang dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> tentang perkara yang ghaib karena itu adalah bersumber dari wahyu Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. Dan sebaliknya, kita wajib tidak mempercayai berita tentang perkara ghaib yang datang dari selain Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, seperti berita tentang akan datangnya kiamat maupun kejadian yang sangat dahsyat tahun 2012, dan yang lainnya. Karena itu adalah kedustaan belaka.</p>
<p><strong>Hari Kiamat Tidak Ada Satu Makhluk pun yang Mengetahuinya</strong></p>
<p>Hari kiamat termasuk dari alam ghaib. Tidak ada satu makhluk pun yang Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> beritakan kepadanya kapan terjadinya. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> hanya memerintahkan kepada para rasul-Nya untuk menyampaikan peringatan kepada manusia akan datangnya hari kiamat. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman (artinya):</p>
<p><em>&#8220;Mereka bertanya kepadamu tentang (kapan datangnya) hari kiamat. Katakanlah, &#8220;Sesungguhnya pengetahuan tentang kapan datangnya hari kiamat itu hanyalah disisi Allah. Dan tahukah (wahai Muhammad) boleh jadi hari kiamat itu sudah dekat waktunya.&#8221;</em> (<strong>Al Ahzab: 63</strong>)</p>
<p>Kiamat itu pasti akan terjadi, bahkan termasuk dari rukun-rukun iman yang enam yang wajib diimani oleh setiap muslim.</p>
<p>Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang dikenal dengan hadits Jibril. Suatu riwayat yang cukup panjang, memuat pertanyaan-pertanyaan Jibril kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>, di antaranya, pertanyaan tentang rukun Iman. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> menjawab:</p>
<p style="text-align: right;"><strong><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وِمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ</span></strong></p>
<p><em>&#8220;(Rukun) Iman adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, (beriman kepada) hari akhir (kiamat), dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.&#8221;</em></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> juga ditanya, kapan datangnya hari kiamat? Beliau menjawab:</p>
<p style="text-align: right;"><strong><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ</span></strong></p>
<p><em>&#8220;Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui daripada yang bertanya.&#8221;</em></p>
<p>Artinya kedua-duanya sama-sama tidak mengetahui kapan hari kiamat itu akan terjadi.</p>
<p style="text-align: right;"><strong><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">فِي خَمْسٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ  هُوَ ثُمَّ تَلاَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم :</span></strong></p>
<p>Dalam riwayat yang lain, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> menjawab: &#8220;&#8230;<em>Lima</em><em> perkara tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah&#8221;</em>, Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> membaca ayat (artinya):</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya hanya di sisi Allah tentang pengetahuan terjadinya kiamat, Dia-lah yang menurunkan hujan, mengetahui apa yang ada dalam rahim, tidak ada satu jiwa pun mengetahui apa yang dikerjakan esok harinya, dan tidak ada yang mengetahui di bumi mana dia akan mati, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.&#8221;</em> (<strong>Luqman: 34</strong>)</p>
<p>Al Imam Al Qurthubi <em>rahimahullah</em> berkata: &#8220;Berdasarkan hadits ini, tidak ada celah sedikit pun bagi seseorang untuk mengetahui (dengan pasti) salah satu dari lima perkara (ghaib) tersebut (sebagaimana dalam surat <strong>Luqman</strong>).</p>
<p>Al Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata: &#8220;Ilmu tentang kapan datangnya hari kiamat tidak ada yang mengetahuinya, sekalipun nabi yang diutus dan malaikat yang paling dekat dengan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. (Kemudian beliau menyebutkan ayat <strong>Al A&#8217;raf: 187</strong>):</p>
<p style="text-align: right;"><strong><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">لا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلا هُوَ</span></strong></p>
<p><em>&#8220;Tidak ada yang mampu menjelaskan waktu datangnya (hari kiamat) kecuali Dia (semata).&#8221; </em></p>
<p>Oleh karena itu, datangnya hari kiamat dan penentuan waktunya merupakan ketetapan dari Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, tidak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya kecuali Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>.</p>
<p><strong>Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em></strong><strong> Hanya Memberitakan Tanda-tanda Hari Kiamat</strong></p>
<p>Kita wajib mengimani adanya tanda-tanda hari kiamat sebelum hari kiamat tiba.</p>
<p>Di antara tanda-tanda kiamat kubro (besar) adalah sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>:</p>
<p><em>&#8220;Tidak akan terjadi hari kiamat hingga terjadi sebelumnya sepuluh tanda; terbitnya matahari dari sebelah barat, keluarnya binatang (yang bisa berbicara), keluarnya Ya&#8217;juj dan Ma&#8217;juj, keluarnya Dajjal, turunnya ‘Isa bin Maryam, munculnya dukhan (asap yang meliputi manusia), terjadinya tiga longsor besar (dibenamkannya penduduk bumi) di timur, barat, dan jazirah Arab, dan yang berikutnya adalah keluarnya api dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat berkumpulnya mereka.&#8221; </em>(Lihat <strong>HR. Muslim </strong>no. 2901, dan <strong>Abu Dawud</strong> no. 4311)</p>
<p>Hadits ini sekaligus sebagai contoh perkara ghaib yang diberitakan (diwahyukan) kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>. Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum terjadinya tanda-tanda kiamat tersebut.</p>
<p>Di antara aqidah yang harus diyakini oleh umat Islam adalah meyakini akan turunnya Nabi ‘Isa <em>‘alaihis salam</em> ke dunia untuk menegakkan syari&#8217;at agama Islam. Beliau akan tinggal di bumi selama 40 tahun. (<strong>HR. Abu Dawud dan Ahmad</strong>, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani <em>rahimahullah</em>, Ash Shahihah no. 2182)</p>
<p>Oleh sebab itu, jelaslah bagi kita bahwa tidaklah kiamat itu terjadi kecuali setelah muncul (terjadi) tanda-tandanya yang besar tersebut. Sehingga ramalan yang disandarkan kepada Bangsa Maya bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012 merupakan kedustaan dalam pandangan islam. Mengingat, ilmunya hanya di sisi Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, bahkan sekian banyak dari tanda- tandanya kiamat yang besar tersebut belum terjadi, seperti turunnya Nabi ‘Isa <em>‘alaihis salam</em> dan akan tinggal di bumi selama 40 tahun.</p>
<p>Demikian pula, diangkatnya Imam Mahdi sebagai pemimpin tunggal kaum muslimin yang akan berkuasa selama 7 atau 8 tahun, dan Nabi ‘Isa <em>‘alaihis salam</em> turun pada masa kepemimpinan beliau (sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh <strong>Al-Imam Al-Hakim</strong> dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah</em> dalam Ash-Shahihah no. 711).</p>
<p><strong>Hari Kiamat Hanya Akan Dirasakan oleh Sejelek-jelek Manusia </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ الْخَلْقِ هُمْ شَرٌّ مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلية</span></strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda:&#8221;<em>Tidak akan tegak hari kiamat melainkan pada sejelek-jelek makhluk dan mereka lebih jelek daripada kaum jahiliyah.&#8221;</em> (<strong>HR. Muslim</strong> no. 1924)</p>
<p>Maka dari itu, di antara aqidah umat Islam pula hari kiamat tidak akan dialami oleh kaum muslimin. Ketika sudah dekat terjadinya hari kiamat, Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> mengirimkan angin untuk mematikan seluruh manusia yang masih ada dalam hatinya keimanan. (sebagaimana dalam riwayat <strong>Muslim </strong>no. 1924)</p>
<p><strong>Nasehat</strong></p>
<p>Para pembaca rahimakumullah, dari pembahasan di atas tadi kita dapat mengetahui bahwa kiamat pasti terjadi, dan tidak ada yang mengetahui tentang waktu terjadinya kecuali Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. Oleh karena itu, semua ramalan tentang waktu terjadinya kiamat tersebut adalah batil dan dusta dalam pandangan islam yang suci ini. Namun demikian, kita semua harus berbekal dengan amalan yang diridhoi Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>. Guna mempersiapkan diri untuk menghadapinya, hari di saat semua amalan dihisab dan diberi balasan.</p>
<p>Akan tetapi persiapan kita bukan karena percaya atau setengah percaya terhadap ramalan tersebut diatas. Akan tetapi persiapan kita karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput kita yang kemudian setelah itu kita tidak bisa beramal lagi. Sehingga kita tidak boleh sedikitpun percaya terhadap ramalan tersebut diatas atau menganggap baik karena menyebabkan orang ingat kepada Allah dan beramal. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Dari shahabat Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> menceritakan adanya seorang Arab dusun yang bertanya kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>, kapan terjadinya hari kiamat, maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> menjawab:</p>
<p style="text-align: right;"><strong><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">مَا أَعْدَدْتَ لَهَا </span></strong></p>
<p>&#8220;Apa yang kamu persiapkan untuk menghadapinya?&#8221;</p>
<p>Orang tersebut menjawab: &#8220;Kecintaan kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> dan Rasul-Nya.&#8221; kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong><span style="font-family: Traditional Arabic; font-size: medium;">أَنْتَ مَعَ مَن أَحْبَبْتَ</span></strong></p>
<p>&#8220;Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.&#8221; (<strong>HR. Al Bukhari dan Muslim</strong> no. 2639)</p>
<p><em>Wallähu ta&#8217;älä a&#8217;lam bish showäb.</em></p>
<p>Buletin Al Ilmu Edisi 4/I/VIII/1431</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=440</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Shaum (Puasa) ‘Asyura&#8217;</title>
		<link>http://www.assalafy.org/mahad/?p=439</link>
		<comments>http://www.assalafy.org/mahad/?p=439#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 07:43:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.assalafy.org/mahad/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[Buletin Islam AL ILMU Edisi: 2/I/VIII/1431
Shaum (Puasa) ‘Asyura&#8217;
Para pembaca yang semoga Allah subhanahu wa ta&#8217;ala senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita. Alhamdulillah, saat ini kita sedang berada di bulan Muharram. Suatu bulan yang agung dan mulia, bulan yang terdapat di dalamnya suatu kejadian yang merupakan salah satu bukti dari kekuasaan Allah subhanahu wa ta&#8217;ala. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5><span><span style="color: #0000ff;">Buletin Islam <strong>AL ILMU</strong> Edisi: 2/I/VIII/1431</span></span></h5>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #ff6600;">Shaum (Puasa) ‘Asyura&#8217;</span></h2>
<p>Para pembaca yang semoga Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita. Alhamdulillah, saat ini kita sedang berada di bulan Muharram. Suatu bulan yang agung dan mulia, bulan yang terdapat di dalamnya suatu kejadian yang merupakan salah satu bukti dari kekuasaan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>.<span id="more-439"></span> Pada salah satu hari di bulan ini Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> telah menyelamatkan Nabi Musa <em>‘alaihis salam</em> dan kaumnya dari kejaran Fir&#8217;aun dan bala tentaranya, Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman (artinya): &#8220;Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir&#8217;aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.&#8221; (<strong>Al Baqarah: 50</strong>)</p>
<p>Sungguh merupakan sebuah kenikmatan yang sangat besar dan merupakan tanda bahwa Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> senantiasa menolong para rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman (artinya): &#8220;Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).&#8221; (<strong>QS.Ghafir: 51</strong>)</p>
<p>Peristiwa yang besar tersebut terjadi pada tanggal 10 Muharram, maka sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>, Nabiyullah Musa <em>‘alaihis salam</em> bershaum pada hari tersebut.</p>
<p>Shaum &#8216;Asyura&#8217; sendiri telah dilaksanakan oleh kaum Quraisy di masa jahiliyyah sebagaimana hadits Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha:</em></p>
<p style="text-align: right;"><strong>كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ</strong></p>
<p>&#8220;Dahulu Kaum Quraisy di masa jahiliyyah bershaum (berpuasa) pada hari &#8216;Asyura&#8217; dan Rasulullah juga berpuasa pada hari tersebut.&#8221; (<strong>HR. Al Bukhari no. 3544</strong>)</p>
<p>Begitu pula dengan bangsa Yahudi, mereka telah melaksanakan puasa &#8216;Asyura&#8217;. Ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berhijrah dan tiba di Madinah, beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mendapati orang-orang Yahudi  telah melaksanakan shaum pada hari tersebut.</p>
<p>Diriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ فَقَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْفَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ وَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ثُمَّ أَمَرَ بِصَوْمِهِ</strong></p>
<p>&#8220;Ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura&#8217;. Kemudian mereka ditanya (tentang puasa mereka tersebut), Maka mereka menjawab: &#8220;Ini merupakan hari yang Allah memenangkan Musa dan bani Israil atas Fir&#8217;aun. Dan kami bershaum (berpuasa) pada hari ini untuk mengagungkannya.&#8221; Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: &#8220;Kami lebih berhak terhadap Musa dari pada kalian.&#8221; Lalu beliau memerintahkan kaum muslimin untuk bershaum pada hari tersebut.&#8221; (<strong>HR. Al Bukhari no. 3649</strong>)</p>
<p><strong>Hukum Shaum ‘Asyura&#8217;</strong></p>
<p>Pada permulaan hijrah ke Madinah kaum muslimin diwajibkan untuk berpuasa ‘Asyura&#8217;, sebagaimana hadits Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em> di atas ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em> </em> mendapati bangsa Yahudi melaksanakan shaum ‘Asyura&#8217;:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ثُمَّ أَمَرَ بِصَوْمِهِ</strong></p>
<p>&#8220;Kami lebih berhak terhadap Musa dari pada kalian&#8221;. Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan (kaum muslimin) untuk bershaum pada hari tersebut.</p>
<p>Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Bukhari dari shahabat Salamah bin Al Akwa&#8217; <em>radhiyallahu ‘anhu</em>:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ أَنْ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنَّ مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ فَإِنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ</strong></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan seorang laki-laki dari bani Aslam untuk mengumumkan kepada manusia: &#8220;Bahwa barangsiapa yang telah makan maka hendaknya dia bershaum pada sisa hari tersebut, dan barangsiapa yang belum makan maka hendaknya dia bershaum karena hari ini adalah hari &#8216;Asyura&#8217;.&#8221; (<strong>HR. Al Bukhari no. 1790</strong>)</p>
<p>Kemudian kewajiban tersebut dihapus dengan turunnya perintah shaum Ramadhan sebagaimana ditegaskan di dalam hadits Abdullah bin Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تُرِكَ</strong></p>
<p>&#8220;Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melaksanakan shaum &#8216;Asyura&#8217; dan juga memerintahkan kaum muslimin untuk bershaum pada hari tersebut. maka ketika shaum Ramadhan diwajibkan, shaum &#8216;Asyura&#8217; ditinggalkan.&#8221; (<strong>HR. Al Bukhari no. 1759</strong>)</p>
<p>dan juga sebagaimana  di kabarkan di dalam hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ</strong></p>
<p>&#8220;Dahulu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan kaum muslimin untuk bershaum pada hari &#8216;Asyura&#8217;. Namun ketika diwajibkan shaum Ramadhan, maka boleh berpuasa (&#8217;asyura&#8217;) bagi yang menghendakinya, dan boleh juga tidak berpuasa bagi siapa yang menghendaki.&#8221; (<strong>HR. Al Bukhari no. 1861</strong>)</p>
<p>dalam riwayat yang lain:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ الْفَرِيضَةَ وَتُرِكَ عَاشُورَاءُ فَكَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ</strong></p>
<p>&#8220;Maka ketika turun perintah shaum Ramadhan, maka shaum Ramadhan menjadi suatu kewajiban dan ditinggalkan (kewajiban) shaum &#8216;Asyura&#8217;. maka boleh berpuasa (&#8217;asyura&#8217;) bagi yang menghendakinya, dan boleh juga tidak berpuasa.&#8221;</p>
<p>Berdasarkan hadits-hadits di atas, puasa &#8216;Asyura&#8217; tidak lagi wajib dengan datangnya kewajiban puasa di bulan Ramadhan. Akan tetapi, tetap disyariatkan shaum &#8216;Asyura&#8217; dan hukumnya mustahab (sunnah).</p>
<p><strong>Keutamaan shaum &#8216;Asyura&#8217;</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika ditanya tentang keutamaan shaum &#8216;Asyura&#8217;, beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ</strong></p>
<p>&#8220;(Shaum ‘Asyura&#8217; itu dapat) menghapuskan dosa-dosa tahun yang lalu.&#8221; (<strong>HR. Muslim no.1162</strong>, dari shahabat Abu Qatadah Al Anshary <em>radhiyallahu ‘anhu</em>)</p>
<p>Para ulama mengatakan bahwa yang dihapus adalah dosa-dosa yang kecil. Adapun dosa-dosa besar, maka tidak bisa dihapus kecuali pelakunya bertaubat.</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman (artinya): &#8220;Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).&#8221; (<strong>An Nisaa&#8217;: 31</strong>)</p>
<p><strong>Kapan  Puasa ‘Asyura&#8217; dilaksanakan?</strong><strong></strong></p>
<p>Puasa ‘Asyura&#8217; dilaksanakan  pada tanggal 10 Muharram, hanya saja setelah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengetahui hari tersebut adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashara, maka beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan umatnya untuk menyelisihi mereka, yaitu dengan mengiringi shaum ‘Asyura&#8217; dengan shaum sehari sebelumnya (tanggal 9 Muharram). sebagaimana hadits Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</strong></p>
<p>&#8220;Ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> shaum (berpuasa) pada hari &#8216;Asyura&#8217; dan memerintahkan kaum muslimin untuk bershaum (&#8217;Asyura&#8217;), mereka mengatakan: &#8220;Wahai Rasulullah sesungguhnya hari &#8216;Asyura&#8217; (10 Muharram) adalah hari yang diagungkan oleh bangsa Yahudi dan Nashara.&#8221; maka berkata Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: &#8220;Jika pada tahun yang akan datang insya Allah kita akan bershaum hari ke-9, dan belum datang tahun berikutnya, kecuali Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah wafat.&#8221;  (<strong>HR. Muslim no.1916</strong>)</p>
<p>Di dalam riwayat yang lain Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ </strong><strong>لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ</strong></p>
<p>&#8220;Jika aku masih hidup sampai tahun yang akan datang, sungguh aku akan bershaum pada hari ke-9 (Muharram).&#8221; (<strong>HR. Muslim no. 1134</strong>, dari shahabat Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>)</p>
<p>Perintah untuk menyelisihi Yahudi di dalam tata cara shaum ‘Asyura&#8217; juga ditegaskan di dalam hadits Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>صُومُوا التَّاسِعَ وَالعَاشِرَوَخَالِفُوا الْيَهُودَ</strong></p>
<p>&#8220;Bershaumlah kalian pada hari ke-9 dan ke-10 (Muharram) dan selisihilah Yahudi&#8221;.(<strong>HR. Al Baihaqi 4/287</strong>)</p>
<p>Adapun hadits yang menyatakan tentang shaum sehari sebelum atau sehari setelah hari &#8216;Asyura&#8217;, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>صُومُوا يَوْماً قَبْلَهُ أَوْ يَوْماًً بَعْدَهُ خَالِفُوا الْيَهُودَ</strong></p>
<p>&#8220;Bershaumlah kalian sehari sebelumnya (tanggal 9 Muharram) atau sehari sesudahnya (tanggal 11 Muharram), selisihilah Yahudi.&#8221;</p>
<p>Maka hadits tersebut diperselisihkan keshahihannya oleh para ulama, adapun Asy Syaikh Al Albani  melemahkan hadits tersebut.</p>
<p>Sehingga tata cara shaum &#8216;Asyura&#8217; adalah shaum pada hari ke-10 Muharram dan yang afdhal (utama) adalah pada hari ke-9 dan ke-10 Muharram, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ</strong></p>
<p>&#8220;Jika aku masih hidup sampai tahun yang akan datang sungguh aku akan bershaum pada hari ke-9 (Muharram)&#8221;.(<strong>HR. Muslim no. 1134</strong>, dari shahabat Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>).</p>
<p>Sehingga pelaksanaan shaum ‘Asyura&#8217; adalah sebagai berikut :</p>
<p>1. tanggal 10 Muharram saja, atau</p>
<p>2. tanggal 9 dan 10 Muharram, atau</p>
<p>3. tanggal 10 dan 11 Muharram.</p>
<p>Ada yang berpendapat bahwa berpuasa tanggal 9,10, dan 11 Muharram, namun yang lebih utama dari itu semua adalah berpuasa pada tanggal 9 Muharram dan 10 Muharram.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam</em></p>
<p><strong>(lihat Majmu&#8217; Fatawa Asy Syaikh bin Baz dan Majmu&#8217; Fatawa Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Para pembaca yang mulia, hendaklah kesempatan yang Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berikan kepada kita dengan menjumpai bulan Muharram ini dipergunakan sebaik-baiknya, amalan shalih berupa shaum ‘Asyura&#8217; kita laksanakan hanya dengan mengharap pahala dari Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> semata.</p>
<p>Semoga Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> menerima amalan kita dan menjadikannya sebagai timbangan kebaikan kita di hari kiamat.</p>
<p><em>-Amin Ya Rabbal &#8216;Alamin-</em></p>
<p><strong>Fatwa ulama seputar shaum &#8216;Asyura&#8217;</strong></p>
<p><strong>1. Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta&#8217;(Komisi Fatwa dan Riset Ilmiah) Kerajaan Arab Saudi</strong> ketika ditanya apakah boleh melaksanakan shaum &#8216;Asyura&#8217; satu hari saja? Maka lembaga tersebut menjawab:</p>
<p>&#8220;Boleh melaksanakan shaum &#8216;Asyura&#8217; satu hari saja. Namun yang afdhal (lebih utama), bershaum sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Ini merupakan sunnah yang pasti dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdasarkan sabda beliau: &#8220;Kalau saya masih hidup hingga tahun depan niscaya aku akan bershaum pada hari ke-9&#8243; Ibnu Abbas berkata: &#8220;Yakni bersama hari ke-10&#8243;.Wa billahi at Taufiq Wa Salallahu ala Nabiyyina Muhammadin Wa Shahbihi Wa Sallam  (<strong>Fatwa no. 13700</strong>).</p>
<p><strong>2. Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin</strong> ditanya tentang seseorang yang telah datang hari &#8216;Asyura&#8217; dalam keadaan haidh, apakah dia mengganti shaum tersebut? Dan apakah ada kaidah tentang mengganti amalan-amalan sunnah dan yang tidak diganti?</p>
<p>Jawab: Amalan-amalan sunnah ada 2 jenis:</p>
<p>1. Yang ada sebabnya</p>
<p>2. Yang tidak ada sebabnya</p>
<p>Maka yang ada sebabnya akan terlewatkan dengan berlalunya sebab dan tidak diganti, contohnya: shalat tahiyyatul masjid, ketika seseorang datang ke majid kemudian duduk lama kemudian dia ingin melaksanakan shalat tahiyyatul masjid, maka shalatnya bukan shalat tahiyyatul masjid, karena shalat tahiyyatul masjid termasuk shalat yang ada sebabnya, terikat dengan sebab. Ketika telah lewat sebabnya maka lewat pula pensyariatannya. Termasuk dalam jenis ini pula -yang nampak- adalah shaum Arafah dan shaum &#8216;Asyura&#8217;. Apabila seseorang tertinggal dari shaum Arafah dan shaum &#8216;Asyura&#8217; tanpa ada sebab maka tidak diragukan lagi bahwa dia tidak perlu mengganti, dan tidak bermanfaat baginya walaupun dia menggantinya. Adapun jika seseorang tertinggal dalam keadaan mempunyai udzur (sebab) seperti perempuan yang haidh, nifas, atau sakit, maka yang nampak bahwasanya tidak mengganti. Karena itu khusus pada hari tertentu, maka hukumnya hilang dengan berlalunya hari itu.(<strong>Fatawa fii Ahkamish Shiyam no.399</strong>)</p>
<p>Buletin Al Ilmu Edisi 2/I/VIII/1431</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.assalafy.org/mahad/?feed=rss2&amp;p=439</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
